21 November 2017

Herdi Sahrasad: Jokowi Menghadapi Politik Bizantium ala Indonesia

KONFRONTASI- Jelang reshuffle kabinet, Presiden Joko Widodo menghadapi politik Bizantium ala Indonesia di mana para oligarki politik, broker politik dan jaringan bisnisnya sangat berpengaruh sehingga  menyulitkan Jokowi mengambil keputusan secara penuh dan independen sesuai hak prerogatif yang dimilikinya. Demikian pandangan akademisi Universitas Paramadina Herdi Sahrasad kepada pers, Kamis malam (23 Juli 2015).   

Merujuk perspektif Prof Jeffrey Winters, Indonesianis Northwestern University, AS, demikian Herdi Sahrasad,  penampilan Jokowi memang "bergerak terlalu cepat dari pekerjaannya sebagai walikota di sebuah kota kecil, lalu menjadi gubernur sebentar, kemudian menjadi presiden sebuah negara bangsa yang kompleks dengan politik Bizantium didalamnya. ''Meminjam  pandangan Prof Winters, saya kira itulah yang dialami dan dihadapi Presiden Jokowi, yakni Politik Bizantium,  suatu  konfigurasi ekonomi-politik yang rumit,'' tuturnya.



 ''Sesungguhnya dibutuhkan banyak waktu dan pengalaman untuk memilah-milah siapa pemain di tingkat nasional yang pantas diapresiasi, bagaimana  jaringan, agenda  dan integritas mereka.  Saya percaya hanya  Dr Rizal Ramli  yang merupakan pilihan terbaik untuk menko  ekuin dalam reshuffle nanti, sebab Rizal Ramli memiliki kecakapan (political skill) untuk menyiasati para oligarki dan elite bisnis besar (konglomerasi) untuk mewujudkan Trisakti Soekarno dan Nawa Cita,'' kata Herdi, peneliti senior PSIK (Pusat Studi Islam dan Kenegaraan) Universitas Paramadina.

Dalam konteks politik Jakarta, tutur Herdi, Politik Bizantium adalah istilah untuk menggambarkan dekadensi, keruwetan dan intrik yang rumit, dengan ‘’powerplays’’ yang kompleks di dalamnya. Istilah "politik Bizantium" digunakan menunjukkan adanya struktur kekuasaan yang terlalu njelimet, rumit dengan pelbagai oligarkh, konglomerat dan broker politik yang terlibat, di mana sejumlah besar pergeseran aliansi politik harus dicermati. ''Bagi Jokowi, hal itu dialaminya, dan dia tak bisa menghindar dari para bos politik dan bisnis yang mendukungnya, dengan risiko bisa berupa hukuman untuk kegagalan yang serius.  Dalam kaitan reshuffle kabinet yang maju mundur,  kelihatan Jokowi menghadapi kompleksitas masalah ini, dan secara tak sengaja nampaknya persoalan itu sudah makin terbuka di ruang publik,'' kata Herdi. (k)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...