23 May 2019

Gagal Berebut Pimpinan DPR/MPR, Puan: Suara Rakyat Digergaji

KONFRONTASI - Pasca kekalahan di DPR, Ketua Harian DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Puan Maharani, kembali angkat bicara terkait polemik Pilkada, hingga munculnya sejumlah ketua DPR maupun MPR yang bukan berasal dari kubunya. Menurut Puan, apa yang terjadi saat ini adalah kezaliman terhadap PDIP dan koalisi.

"Apapun yang terjadi seperti berubahnya MD3, pilkada, sampai pimpinan DPR membuat kami harus lebih bersama-sama rakyat. Sebab, di sini ada kezaliman. Ke depannya, kami tetap konsisten menjaga suara rakyat untuk berjuang sebesar-besarnya. Paket ketua MPR kami masih tetap berjuang, PDIP mengusulkan satu nama," kata Puan, di Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Jumat 3 Oktober 2014.

Namun demikian, Puan pun kembali pesimis. Akan tetapi, pihaknya berjanji tidak akan menyerah dalam mengawal proses demokrasi yang dinilainya saat ini telah mengalami kemunduran.

"Dilihat dari situasinya seperti sudah tidak ada ruang lagi untuk kami mengawal proses demokrasi. Bukan kami tidak berusaha, sepertinya sudah ada penzaliman buat kami. Semua cara, proses, dan mekanisme sudah kami tempuh," keluhnya.

"Ini proses kemunduran demokrasi, suara rakyat digergaji. Bagaimana nasib bangsa ke depan? Saya juga bingung. Instruksi Ibu Mega kita harus solid. Kita harus ciptakan suasana kebatinan yang kondusif," demikian Puan.

Sekadar diketahui, PDIP menggelar pertemuan tertutup di markasnya, di Lenteng Agung, sejak pukul 16.00-hingga 19.05 WIB.

Pertemuan yang membahas evakuasi paripurna DPR ini dihadiri sejumlah petinggi PDIP, seperti Ketua Umum Megawati; Ketua DPP Harian Puan Maharani; Wasekjen Ahmad Basarah; Ketua Bidang Pemuda dan Olahraga Maruarar Sirait; Ketua Bidang Politik Bambang Muryanto; dan adik kandung Megawati, Guruh Soekarno Putra.[ian/vvn]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...