29 March 2020

Erick Thohir dan Misteri Raibnya Uang Rakyat Rp 20 Trilyun

KONFRONTASI -   Ini analisis dari perspektif bisnis, bukan analisis hukum atau politik. Analisis ini terkait dengan Erick Thohir, Menteri BUMN yang namanya akhir-akhir ini menjadi perhatian publik.Memang, ada suara-suara yang menyebut jika Erick mulai membangun popularitas untuk pemanasan kontestasi Pilpres 2024. Tapi, saya tak hendak masuk ke ranah itu. Biarlah para pakar politik yang mendalaminya.

Di sini, saya hanya ingin menganalisis manuver Erick pekan lalu, tepatnya pada Rabu (12/2).

Manuver itulah yang berbuntut raibnya Rp 20 triliun. Manuver apakah itu? Jawabannya, Telkom.

Di hari itu, Erick membuat heboh ketika menyebut Telkom lebih banyak bergantung pada anak usahanya, Telkomsel.

Seperti anak-anak yang terbangun kaget dari tidurnya, Erick menyebut, akan lebih baik jika Telkomsel lah yang menjadi BUMN. Dia juga mengkritik Telkom yang disebutnya kurang inovatif.

Erick mungkin tidak sadar jika pernyataannya itu bakal berdampak luas. Telkom adalah salah satu BUMN dengan kinerja dan profitabilitas terbesar di Negeri ini. Konunikasi korporasinya harus elegan, bukan kaleng-kaleng. Telkom adalah satu-satunya BUMN yang listing di bursa efek New York atau New York Stock Exchange (NYSE).

Statement Erick itu kemudian di-blow up oleh berbagai media. Narasi yang berkembang ngeri-
ngeri sedap "Telkom akan dibubarkan." Gemparlah jagad dunia pasar modal sampai ke bursa New York dan per-BUMN-nan. Dan persis seperti anak TK yang mau berangkat sekolah habis dibangunkan, perlahan-lahan ia mulai sadar.

Pernyataannya kemudian diklarifikasi sendiri pada Senin (17/2) bahwa Telkom tidak akan dibubarkan.

Sekali lagi, kerusakannya sudah terjadi. Komunikasi korporasi bukan seperi sekolahan anak SD yang bekerja dengan pensil dan penghapus karet.

Tapi bak main minyak pakai air kata orang Minang.  Mereka malah mensyukuri popularitas politiknya moncer. "Alhamdulilah," kata para operatornya di jagat Sosmed, itu dianggap "sudah bekerja dengan baik dan benar."

Namun sadarkah kita gelombang PHK tengah terjadi di sejumlah BUMN karena salah sentuh. 150 hari itu, kalau tidak disentuh, yang gegabah di BUMN sudah gerah mengasah pisau membersihkan pegawai sesuka hati.

Makanya Indonesia butuh orang kerja yang telaten. Yang bisa menjaga perekonomian agar tak layu dihajar resesi dan wabah virus Corrona. Faktanya, 150 hari pertama, ia hanya berpidato dan copot-pasang direksi.

Kenyataannya, the damage has been done. Pasar sudah bereaksi. Investor ramai-ramai melepas saham Telkom. Akibatnya, saham Telkom babak belur.

Pada Rabu (12/2), harga saham Telkom ditutup di level 3.820. Bahkan, pada siang hari sempat ada di level 3.840. Aksi jual terus berlanjut. Pada Jumat (14/2) harganya kembali merosot ke 3.640 dan Selasa (17/2) menyentuh 3.620.

Anjloknya harga saham berimplikasi pada kapitalisasi pasar Telkom. Pada Rabu (12/2), market cap Telkom mencapai Rp 378,41 triliun. Harga saham yang turun membuat market cap ikut merosot. Pada Selasa (17/2) angkanya tinggal Rp 358,61 triliun.

Artinya, dalam waktu 4 hari perdagangan, market cap Telkom raib hampir Rp 20 triliun. Dari jumlah itu, Rp 10,4 triliun adalah milik Pemerintah Indonesia yang memegang 52% saham Telkom.

Nasib serupa juga dialami para pemegang saham Telkom lainnya yang nilai investasinya menguap Rp 9,6 triliun. Diantara investor publik itu adalah pengelola Dana Pensiun karyawan-karyawan BUMN. Bisa jadi, Anda yang sedang membaca tulisan ini termasuk salah satu investor publik itu.

Predikat Menteri BUMN memang bukan jabatan kaleng-kaleng. Karena itu, selip lidah sedikit saja, Rp 20 triliun langsung melayang.

Padahal, kalau dicermati, yang disampaikan Erick Thohir ketika mengkritik Telkom juga tidak substansial.

Bahkan, jika dianalisis lebih dalam, pernyataan tersebut justru menunjukkan jika Erick Thohir bukan sosok pebisnis yang visioner. Karena itu, saya menilai apa yang dilakukan Erick layaknya blunder seorang pemain sepak bola.

Mengapa?

1. Kurang Memahami Tren Industri

Siklus industri telekomunikasi terus bergulir. Dulu, Telkom berjaya dengan jasa telepon tetap (fixed line). Era seluler tumbuh, gantian bisnis Telkomsel yang berjaya. Tapi dalam perjalanannya, bisnis seluler kini juga mulai masuk fase penuaan bahkan declining.

Penyebabnya adalah keberadaan messenger apps yang merajalela. Coba diingat-ingat, Anda lebih sering menelepon dengan nomor seluler atau via WhatsApp? Lebih sering kirim SMS atau chat via WhatsApp? Jawabannya pasti WhatsApp.

Itulah sebab mengapa  pendapatan rata-rata per pengguna (Average Revenue Per User/ARPU) cenderung turun rata-rata sekitar 10% per tahun. Akibatnya, kinerja industri seluler diproyeksi akan turun sekitar 5-15% per tahun.

Ke depan, industri telekomunikasi akan bergerak ke arah layanan data. Di sinilah peran strategis Telkom. Memang, Telkom belum bisa sebesar Alibaba yang di negaranya sangat diproteksi oleh pemerintah.

Tapi, Telkom sedang bergerak menuju ke arah itu. Telkom juga mengembangkan banyak sekali start up inovatif melalui project Amoeba.Artinya, secara bisnis, saat ini Telkom sudah on the track. Sayangnya, inovasi-inovasi Telkom itu memang kurang terpublikasi dengan baik.

2. Tabir Conflict of Interest

Manuver kritik pedas Erick Thohir yang membuat rontok saham Telkom memicu spekulasi. Di era internet dan media sosial, investor ritel maupun netizen pun banyak yang langsung berspekulasi dan mengulik  bisnis Erick Thohir. Apakah ada bisnisnya yang bergerak di industri telekomunikasi?

Dari hasil pencarian netizen, muncullah nama Boy Thohir, bos perusahaan batu bara Adaro yang juga kakak dari Erick Thohir. Pada Mei 2019 lalu, banyak media memberitakan jika Boy Thohir ada dalam konsorsium investor yang menyuntikkan dana Rp 47 triliun, kepada PT Hutchison 3 Indonesia, operator seluler 3 (Tri).

Investasi keluarga Thohir di 3 (Tri) sebenarnya sudah berlangsung lama. Jika Anda googling, Anda akan mudah menemukan statement Erick Thohir ketika pada 2013 lalu mengakuisisi 35% saham PT Hutchison 3 Indonesia dari PT Charoen Phokpand.
 
Sebenarnya, sah-sah saja bagi konglomerat seperti Boy dan Erick Thohir untuk berinvestasi di perusahaan manapun.

Namun, sah-sah juga kalau investor atau publik memiliki analisis sendiri terkait statement-statement Erick Thohir.

Sebagai pejabat publik, Erick Thohir juga tak boleh tipis kuping. Segala kritik dari publik harus disikapi dengan kepala dingin.

Selain itu, sebagai pimpinan tertinggi BUMN, juga harus lebih bijak. Jangan sampai demi mengejar popularitas, melakukan manuver-manuver yang ujungnya berbuah blunder*.(Jft/KOMPASIANA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...