21 March 2019

Ekonomi Kacau, Jokowi-JK Hadapi Bahaya Merosotnya Kepercayaan Rakyat

Peneliti PARA Syndicate Toto Sugiarto menilai selama enam bulan pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla bekerja, banyak terjadi kekacauan dalam bidang ekonomi. Reshuffle kabinet kerja  harus dilakukan.

"Nilai rupiah melemah melampaui angka psikologis Rp13.200/dolar," katanya dalam diskusi di Jakarta, Minggu (24/5/2015).

Selain masalah lemahnya nilai rupiah, kata Toto, target pajak yang tidak tercapai. Triwulan pertama tahun ini, penerimaan pajak hanya Rp 198,2 triliun atau 15,3 persen dari total target pajak tahun 2015.

"Kurun waktu yang sama tahun 2014, penerimaan pajak mencapai Rp 210,1 triliun atau 21,3 persen dari target pajak 2014. Ini pertumbuhan lebih rendah dibandingkan era SBY pada kuartal pertama dan subsidi BBM yang tidak jelas dan kian menjauh kesejahteraan rakyat," jelasnya.

Ketidakstabilan bidang ekonomi ini, kata Toto, sangat jelas para pembantunya (kabinet) tidak menjalankan arahan yang diberikan Presiden Joko Widodo dan tidak mampu mengimplementasikan berbagai program kerja yang direncanakan.

"Jokowi harus cepat rombak kabinetnya, anggota kabinet yang baru nantinya harus kompeten, intergritas, profesional agar dapat menjalankan Nawa Cita," ujarnya.

Sebelumnya pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla dikhawatirkan akan memasuki zona ketidakstabilan yang berujung pada penurunan poltical confidence yang tajam.

"Presiden Jokowi dalam 6 bulan pertama menampilkan dramaturgi politik asismetris sehingga sering menimbulkan kegalauan politik," katanya. -

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...