21 September 2019

Dr Rizal Ramli Contoh Orang 'Urakan' yang Membawa Perubahan

KONFRONTASI -  DI zaman Mataram dan raja-raja tempo dulu kekuasaan melekat jadi urusan pribadi, dan dengan sendirinya harta kerajaan juga melekat jadi milik pribadi penguasa. Sedangkan keputusan-keputusan yang berkaitan dengan kepentingan rakyat dilakukan secara tidak transparan serta jauh dari jangkauan rakyat.

Makanya tiap zaman sebenarnya punya cerita dengan tokoh-tokoh di dalamnya yang membawa perubahan untuk mendobrak nilai-nilai seperti itu.

Sukarno, Ali Sadikin, Abdurrahman Wahid, dan banyak yang bilang termasuk pula Dr Rizal Ramli, adalah contoh-contoh orang urakan yang out of the box, yang dengan kontroversinya menghasilkan perubahan.

Dunia juga dipenuhi oleh tokoh-tokoh kontroversi.

Sejarah dipenuhi oleh puluhan ribu orang yang telah membuat perubahan penting. Bagaimana pun di antara mereka ada tokoh-tokoh yang muncul sebagai mercusuar kebesaran, baik untuk kebaikan maupun sebaliknya.

Jokowi yang menyukai blusukan juga merupakan tokoh yang tidak suka formalisme. Gayanya yang menyentuh langsung hati rakyat sangat jauh berbeda dengan gaya para pembesar negeri ini yang umumnya sangat berjarak dengan rakyat.

Indonesia dalam situasi bernegara dan berbangsa yang penuh kerawanan seperti saat ini sesungguhnya butuh lebih banyak orang-orang urakan yang cara berpikirnya out of the box, zaman abnormal membutuhkan cara berpikir yang tidak normatif untuk dapat keluar dari krisis.

Bagaimanakah mungkin panggung sejarah republik ini bisa ikut diisi oleh orang seperti Sukarno kalau ternyata Sukarno waktu itu lebih memilih hidup tenang dengan menjadi ambtenar dengan gaji besar dan hidup yang nyaman?

Dia justru tidak memilih comfort zone melainkan lebih menjalani miserable zone untuk menjadi lentera yang menerangi kegelapan bangsa.

Demikian pula Hatta, anak saudagar kaya, sarjana ekonomi lulusan Belanda, yang hampir separuh dari hidupnya dijalaninya di pengasingan hingga dikucilkan di Boven Digul (Papua), -- kelaparan, penuh ancaman penyakit mulai dari malaria, terkaman buaya, dan binatang buas lainnya.

Begitu pun dengan Datuk Ibrahim Gelar Tan Malaka yang bersekolah guru di Harlem, Belanda, dan kembali ke tanah air lebih memilih menjadi kepala kuli di Bayah, Banten dan mengajar rakyat bukan saja supaya tidak buta huruf tetapi juga supaya tidak buta terhadap sejarah untuk mencapai Indonesia merdeka.

Intinya, telah banyak contoh perubahan muncul dari cara berpikir out of the box dan kekuatan karakter serta visi, ini terjadi bukan saja di bidang politik, tetapi juga di bidang ilmu pengetahuan dan peradaban.

Cara berpikir usang yang mengenyampingkan keterbukaan atau transparansi sudah waktunya dibuang.

Cara berpikir priyayi dan cara berpikir makelar yang suka menyembunyikan dan memanipulasi kepentingan rakyat untuk keuntungan dan kepentingan pribadi serta kelompoknya sudah saatnya untuk dibasmi.(Juft/Rmol)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...