23 July 2019

Dirut Pelindo 2, RJ Lino Dituding Berbohong

KONFRONTASI - Indonesia Port Watch (IPW) menilai Direktur Pelindo II, RJ Lino telah melakukan pembohongan publik dengan menyebut perpanjangan konsensi Jakarta International Container Terminal (JICT) sebagai aset strategis bangsa.

Presiden IPW, Syaiful Hasan menegaskan, keputusan untuk memperpanjang konsesi JICT ke asing selama 20 tahun ke depan sudah sewajarnya dilakukan secara terbuka dan melibatkan stakeholders penting pelabuhan lainnya, bukan hanya ditentukan oleh internal Pelindo 2.

Apalagi harga jualnya dinilai IPW terbilang sangat murah, yakni berkisar 215 juta dolar AS dengan rental fee 85 juta dolar AS per tahun. Nilai jual ini menurutnya, tidak sebanding dengan pendapatan JICT yang mencapai 280 juta dolar AS dan keuntungannya 150 juta dolar AS per tahun.

"Di mana logikanya, seorang Dirut BUMN perhubungan bisa mengatakan perpanjangan konsesi JICT sebagai aset strategis bangsa dan pintu gerbang perekonomian nasional bukan urusan Menteri Perhubungan? Bahkan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) pun tidak diajak bicara. Ini suatu arogansi luar biasa," kritik Syaiful.

Seperti diketahui, RJ Lino berencana akan memperpanjang konsesi JICT ke perusahaan swasta asing dari Hongkong, Hutchison Port Holdings (HPH) selama 20 tahun ke depan sampai 2039 setelah masa konsesi yang sekarang habis tahun 2019.

"Ingat, waktu JICT diprivatisasi saat krisis moneter tahun 1999, pembahasan dilakukan oleh tiga menteri, yaitu Menteri Keuangan, Meneg BUMN dan Menteri Perhubungan serta DPR.  Bahkan waktu itu sempat mencuat kasus dugaan korupsi privatisasi. Tanri Abeng dan Herwidayatmo, masing-masing sebagai Meneg BUMN dan Ketua Bapepam saat itu menjadi tersangka. Kasusnya kami dengar belum SP3," ulas Syaiful.

Sebab itulah IPW, kata Syaiful, IPW mendorong seluruh anak bangsa yang peduli untuk melakukan perlawanan sampai rencana perpanjangan konsesi JICT ini dibatalkan.[]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...