12 November 2019

Demi Trisakti Soekarno dan NKRI: Rizal Ramli, Sang Rajawali, 'Berkelebat' di antara Megawati, JK dan Jokowi

KONFRONTASI- Peta kekuatan Politik di Indonesia dua minggu terakhir ini terus mencari bentuknya sendiri. Setelah Jokowi mendapat dukungan PAN, mengganti kabareskrim Budi Waseso, hubungan Presiden Jokowi dengan Wakilnya Jusuf Kalla yang sebelumnya pasang surut dan diwarnai beda pendapat, kini kembali kompak. Kekompakan Jokowi-JK itu terlihat dalam pemutasian Kabareskrim Budi Waseso yang dianggap gaduh. Buwas, panggilan populer Budi Waseso, terlalu lancang menggeledah Kantor Direktur Pelindo II RJ Lino, orang kuat yang dekat dengan Kalla dan Sofyan Djalil.

Off side-nya Buwas dimaknai sebagai kegaduhan karena mengusik pentingan Kalla. Selain itu sepak terjang Buwas membuat was-was Presiden Jokowi yang lebih suka sunyi-senyap dalam penegakkan hukum dan terus kerja. Jokowi-JK pun kompak mencopot Buwas dan menempatkan Komjen Anang yang lebih adem-ayem namun punya cita rasa seni tinggi dalam memberantas Korupsi. Dengan bergesernya Buwas, Kapolri Badrodin Haiti baru merasa Kapolri karena selama ini Buwas plus Budi Gunawan terlihat lebih mendominasi Badrodin. Kombinasi Jokowi-JK-Luhut- Badrodin mengaum keras mampu membuat pemutasian Buwas tanpa perlawanan dari Buwas sendiri dan Budi Gunawan.

Kekompakan Jokowi-JK semakin terlihat pasca operasi JK di RSCM. Jokowi mengunjungi JK seraya memberikan kepercayaan kepada JK untuk memantau langsung paket kebijakan Jokowi yang telah dikeluarkan beberapa hari lalu. Jokowi menugasi JK untuk rapat dengan menteri terkait dan menindak-lanjuti paket deregulasi dan debirokratisasi untuk memacu kembali pertumbuhan ekonomi. Tugas baru JK yang mengevaluasi dan mem-follow-up kerja para menteri terkait deregulasi dan debirokratisasi itu adalah bentuk kepercayaan Jokowi yang tidak didapat sebelumnya.

Bersamaan dengan kekompakan Jokowi-JK itu, Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli (RR) , melakukan manufer, berkelebat dan gerak cepat. Rizal yang terkenal cerdas, cepat dan berani mencari dukungan dengan melakukan pertemuan dengan Mega (9/9/2015). Saat menjadi menteri di kabinet Gusdur-Mega, Rizal menjadi menteri primadona Gusdur-Mega. Hasilnya, Mega mendukung Rizal untuk terus mengaum dan mengkritik kebijakan para menteri kabinet Jokowi . Mega sepakat dengan Rizal memperjuangan proyek Nawacita Jokowi dan Trisakti Bung Karno yang diimpikan siang malam PDIP. Rizal yang merasa di atas angin akan mengempret para menteri lain yang tidak berani melakukan terobosan.

Dalam seminggu terakhir ini, Rizal telah mengempret tiga BUMN. Pertama, Rizal mempersoalkan mafia token pulsa di PLN. Rizal menilai bahwa biaya administrasi dan pajak lampu penerangan yang dibebankan sepihak oleh bank dan PLN, membuat rakyat miskin semakin tak berdaya. Rizal mengkritisi soal pulsa listrik yang tidak transparan, banyak potongan dan diduga ada mafia. Hasilnya, PLN berencana menghapus beberapa potongan.

Ngempret Rizal yang kedua adalah rencana Pertamina yang berniat membangun storage (tangki) dan pipa bahan bakar minyak (BBM) sendiri. Rizal menganggap proyek itu merupakan pemborosan dan sarat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Menurut Rizal seharusnya pihak yang menjual minyak ke Indonesialah yang membuat storagenya. Ngempretnya Rizal itu pun kemudian membuat Pertamina megap-megap dan panas dingin.

Lalu ngempret Rizal yang ketiga adalah perilaku PT Kereta Api Indonesia yang menutup rel kereta yang sudah ada di zaman Belanda untuk memperlancar arus keluar-barang di Pelabuhan Tanjung Priok. Rizal tegaskan agar jalur kereta itu dibuka kembali dan dibangun jalur baru. Pelindo II harus tahu diri, membangun rel baru untuk mengatasi kemacetan. Rizal pun langsung memimpin penghancuran beton yang menutup rel kereta di Pelabuhan Tanjung Priok, yang operatornya adalah PT Pelindo II. Tentu saja aksi Rizal itu membuat Pelindo II yang dikuasai pengusaha ‘Lapak’ was-was dan khawatir.

Menariknya, manufer dan aksi ngempret Rizal itu, tidak ditanggapi oleh Wapres Jusuf Kalla. Ada kesan bahwa Kalla sudah tidak ambil pusing sepak terjang Rizal-Ramli, dengan jurus “Rajawali Negempret’-nya. JK membiarkan Rizal terus mengempret perusahaan-perusahaan BUMN. Dalam benak Jusuf Kalla, biarkan Rizal terus mengaum, yang penting posisinya sebagai Wapres tidak diusik, RJ Lino masih berdiri tegak, proyek listrik 35 MW terus jalan dan Buwas sudah dilengserkan.

Ke depan Kalla akan meminta bantuan Jokowi untuk mengerem laju Rizal bila sudah terlalu off-side. Itulah sebabnya Kalla berusaha kompak dengan Jokowi. Kalla sudah tidak mau berhadapan langsung dengan Rizal karena Rizal bukanlah lawan yang mudah dibungkam. Taktik Kalla yang selama ini mengelabui masyarakat, berkelit di sana-sini dan mencoba berkamuflase ternyata bisa dibaca dengan mudah oleh Rizal yang sama-sama menteri di kabinet Gusdur. Rizal lebih unggul dalam ceplas-ceplos karena tidak ada kepentingan bisnis di dalamnya. Itu terlihat saat Rizal berani menantang Kalla berdebat. Hasilnya, publik lebih banyak mendukung Rizal dan menyudutkan Kalla. Oleh karena itu, Kalla mengganti strategi yakni strategi bungkam, tiarap dan sunyi-senyap bila berhadapan dengan Rizal.

Rizal yang terus fokus membenahi masalah dwelling time di Pelabuhan Tanjung Priok terus mengempret sana-sini. Aksi itu membuat Menteri BUMN Rini Soemarno dan Menteri SDM Sudirman Said dan terutama para pengusaha ‘Lapak’ di Pelindo II, terus berpikir keras mencari cara menghadang laju Rizal Ramli. Sebagai catatan aksi ngempret Rizal atas proyek kereta api super cepat Jakarta-Bandung, telah berhasil di mana Jokowi batal menyetujui proyek itu. Tentu saja adanya dukungan baru dari Mega kepada Rizal, membuat Rizal ke depan semakin berani ngempret. Akankah peta perpolitikan minggu-minggu selanjutnya mendapat bentuknya yang lain? Mari kita tunggu saja.

 

(Asaaro Lahagu/KCM)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...