27 May 2019

Debat Utang dengan Sri Mulyani, Rizal Ramli: Saya Senang, Kita Kan Mau Diskusi

KONFRONTASI -   Mantan Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Rizal Ramli masih menunggu jawaban terkait ajakan debat dengan Menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati tentang utang. Hingga saat ini dirinya masih belum menerima jawab resmi dari Sri Mulyani Indrawati terkait ajakan tersebut.

Dirinya bahkan kembali menyindir Sri Mulyani yang tidak memiliki nyali untuk menjawab tantangan tersebut. Bahkan dirinya menyebut jika Sri Mulyani hanya mengadu domba dan terkesan bersembunyi di tengah masyarakat yang mengidolakannya.

"Enggak ada (respons ajakan debat). Saya hanya baca di media. Sri Mulyani malah ngadu sama mahasiswa dan bilang bahwa saya paling khawatir katanya ini ada yang berfikiran sempit dan luas. Kok dialihkan, kita kan mau diskusi," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat (11/5/2018).

 

 

Padahal, Presiden Joko Widodo Sendiri sudah memberikan lampu hijau agar keduanya bisa berdebat dengan menyajikan data data yang akurat. Artinya, keputusan hanya tinggal berada di tangan keduanya.

"Kami sih nunggu, kami kan cuma meneruskan apa perintahnya pak Jokowi. Kalau ada yang kritik debat sama menteri keuangan. Ya kan. Kami lanjutkan. Tapi ternyata Sri Mulyani tak punya nyali. Emang situ luas ? Wong antek IMF begitu," jelasnya.

 

Oleh karenanya lanjut Rizal Ramli, dirinya meminta agar debat bisa dilakukan secara terbuka, sehingga masyarakat juga bisa menilai secara langsung sekaligus memberikan pendapatnya kepada dirinya maupun Sri Mulyani.

"Jadi saya sih senang lebih baik kita diskusi terbuka supaya Indonesia tidak mengalami hard landing (perlambatan ekonomi secara mendadak)," ucapnya.

Rizal Ramli juga menambahkan, tujuan untuk mengkritik mengenai utang negara bukanlah semata untuk menjatuhkan Indonesia. Justru sebaliknya, dirinya ingin agar Indonesia tidak mengalami keterpurukan karena utang yang menumpuk.

 

Selain itu dirinya juga selalu bicara berdasarkan data dan tidak asal ceplas-ceplos dalam mengkritik dan mengingatkan pemerintah. Salah satu contohnya adalah ketika kasus krisis moneter pada tahun 1997-1998. Saat itu, hanya dirinyalah yang memprediksi jika Indonesia akan mengalami krisis di tahun 1997-1998. Namun yang sangat disayangkan, saat itu pemerintah tidakengindahkan himbaunya.

"Dulu 1996 RR satu satunya ekonom yang mengenalkan Indonesia bakal kena krisis berat 1997-1998 dibantah oleh Menkeu waktu itu. Dibantah oleh Gubernur BI. Dibantah oleh analis asing bahwa fundamental ekonomi Indonesia paling baik di Asia Tenggara," jelasnya.

Padahal saat itu lanjut Rizal Ramli, seluruh indikator sederhana yakni defisit current account yang besar sekali. Belum lagi, utang swasta pada saat itu sudah terlampau besar sekali.

"Rupiah overvalued 8%. Tapi yang lainnya bantahnya general. Eggak dengan angka. Dan ternyata semua perkiraan kami, betul betul terjadi krisis sangat besar 1998. Hari ini juga, akhir tahun lalu kami katakan hati hati utang lampu kuning. Ambil langkah langkah jangan pikiran sempit pikiran luas. Apa faktanya, faktanya semua indikator negatif," jelasnya.

 

(KONF/OKEZONE)

 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...