19 June 2019

Debat Akhir Pilpres: Kemenangan Prabowo-Sandi (PS) atas Jokowi-Maruf (Koruf) Tidak Terbendung. Militansi Rakyat Berbondong ke TPS (Tusuk Prabowo-Sandi)

KONFRONTASI --  Debat akhir Pilpres menunjukkan kemenangan Prabowo Subianto-Sandi Uno  (PS)  tidak bisa dibendung lagi, militansi rakyat berbondong ke TPS (Tusuk Prabowo Sandi) sangat besar, sehingga kekalahan Joko widodo-Maruf Amin (Koruf) makin pasti. Jika pemilu pilpres jurdil. luber dan bersih maka kemenangan PS mutlak terjadi  karena militansi/antusiasme rakyat  menginginkan perubahan untuk menggantikan status quo petahana yang gagal ekonomi dan gagal  mewujudkan Nawacita/Trisakti.

Demikian  analisis peneliti /dosen senior Sekolah Pasca Sarjana Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad dan tokoh Persatuan Alumni GMNI dari Indonesia Timur Nehemia Lawalata . ‘’Arus perubahan sangat besar bagai air bah yang tak terbendung lagi, sedangkan dukungan bagi Koruf sudah habis, pecahbelah dan tak bisa diharapklan lagi. Lebih baik Koruf melempar handuk karena ekonomi terur terpuruk dan daya beli rakyat sudah ambruk,’’ kata Herdi dan Lawalata.

Baik Herdi maupun N. Lawalata kembali mengingatkan bahwa setelah kemenangan atau keunggulan PS  di DKI Jakarta telah merembet, merembes dan meluas ke daerah-daerah Jabar, Jateng dan Jatim serta Banten seperti efek domino dan itu sangat memukul Koruf. Kemenangan Prabowo adalah kemenangan akal sehat mengalahkan akal dungu yang membebani rakyat dan kubu Jokowi sendiri.

Menurut  kedua analis/aktivis  itu, masyarakat sendiri  melihat jelas bahwa di Pulau Jawa , daerah penting seperti DKI Jakarta juga sudah jatuh ke tangan Prabowo dengan keunggulan  15 - 20% dan di Jawa Barat Prabowo unggul 10-15%.  Sedangkan di Yogyakarta, dan Jawa Timur bahkan  Prabowo sudah bisa menang 6-7% persen, padahal enam bulan lalu Joko widodo yang unggul sekitar 5%. Tinggal Jawa Tengah posisi Jokowi masih diupayakan  PDIP bisa berhasil unggul, namun itupun sudah melemah dan goyah, paling menang tipis tak berarti dari target PDIP 20 persen lebih. Kemenangan tipis ini tak bisa  mengubah posisi Prabowo yang menang dan mendapat antusiasme rakyat dengan sambutan luar biasa di hampir semua provinsi di Indonesia.

Para analis/aktivis itu juga mencatat bahwa realitas di lapangan membuktikan Prabowo berhasil merebut kantong-kantong suara Jokowi di seluruh Indonesia. Sehingga hanya kecurangan yang bisa membuat Joko widodo menang, itulah persepsi rakyat, pandangan rakyat bawah dan kelas terpelajar/ golongan menengah. Joko widodo mustahil menang: akal dungu tak bisa mengalahkan akal sehat. KPK mengungkap di bawah Presiden Jokowi  bahwa pendapatan negara hingga saat ini masih belum maksimal. Bahkan, KPK menyebut adanya kebocoran pendapatan negara era Jokowi yang jumlahnya hampir Rp 2000 triliun.

Pada tahun 2019 ini,  analisis Herdi dan Lawalata menunjukkan sejatinya Prabowo menang di semua wilayah Indonesia, termasuk  Maluku dan Papua. Seluruh Sulawesi dan Sumatera serta Kalimantan  mendukung Prabowo dan mencampakkan Jokowi dari medan laga. Dan berbagai survei menunjukkan hampir seluruh provinsi di Sumatera dan Sulawesi dan Kalimantan sudah jatuh ke tangan Prabowo.

Suko Sudarso, Komandan Barisan Soekarno tahun 1966 dan tokoh senior GMNI ITB  mengingatkan publik bahwa debat terakhir Pilpres Sabtu malam (13/4) memperkuat kemenangan Prabowo Subianto-Sandi (PS)   atas Joko widodo-Maruf Amin (Koruf) yang tidak mengerti  masalah, ngelantur dan miskin visi-misi tapi penuh omongan verbal dan ngasal.Jokowi Maruf (Koruf) tipikal pelayan/petugas parpol yang tak ngerti masalah, hapalan tanpa visi-orientasi dan malah memalukan diri mereka sendiri, kelihatan tak kompeten dan tak memiliki leadership, kasihanlah kita. Mau dipaksakan kayak apa, ya tetap saja Koruf tak ngerti persoalan bangsa yang kompleks. Jokowi sebut digital,online, tapi substansinya dangkal dan terkesan kayak membual, kasihanlah karena defisit kompetensi, kapabilitas dan kapasitas.

Sebelumnya  secra terpisah, Mantan Menko Kemaritiman Rizal Ramli mengkritik kebijakan perekonomian yang dijalankan pemerintahan saat ini. Menurut dia, jajaran yang dipimpin Presiden Joko Widodo (Jokowi) terlalu longgar terhadap China. Oleh karena itu, lanjut dia, Indonesia terus mengalami defisit neraca perdagangan yang kian membesar.

"Dulu perdagangan kita dengan China defisit US$13 miliar. 2018, kita defisit US$18 miliar. Kebijakan ekonomi Pak Jokowi terlalu baik dengan China," kata Rizal Ramli dalam konferensi pers usai Debat Terbuka Kelima di Jakarta, Sabtu (13/4/2019) malam.


 (berbagai sumber/lkf)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...