26 March 2019

Dari dua kali Debat Pilpres, Sudah menjadi keniscayaan Prabowo-Sandi Menang

KONFRONTASI- Dari dua kali Debat Capres, Insya Allah, sudah menjadi keniscayaan Prabowoo-Sandi menang kalau pemilu/pilpres  berlangsung jujur-adil, bersih  dan tidak curang karena mayoritas rakyat makin tahu kualitas dan kapasitas Jokowi yang sangat dangkal, miskin intelektualisme, penghafal, sesat data, ngawur data, lemah dan terkesan serang pribadi lawan politiknya sebagai tipu muslihat. Rakyat ingin Jokowi  lengser dan diganti, rakyat  sudah begah dan mual,  ingin harapan terang dan  perubahan. Rakyat sudah emoh Jokowi yang tidak kompeten dan defisit intelektualisme, tidak  pantas dan tidak cakap.  Di bawah Jokowi,  dunia usaha dan kaum petani hancur,  makanya pendukung Jokowi tinggal sedikit, jutaan relawannya kapok dan menyeberang ke kubu Prabowo. Mayoritas rakyat simpati ke Prabowo-Sandi, mereka tak terbendung lagi pasti memilih capres 02 dan tidak bisa  dibendung  dengan politik uang melalui dana desa,jaringan kekuasaan dan serangan fajar lagi, sebab kalau sampai Prabowo-Sandi kalah, maka  dikhawatirkan rakyat/masyarakat, terutama ummat Islam dan kaum kebangsaan (nasionalis) akan mengambil keputusan dan jalannya  sejarahnya sendiri. Rakyat begah dan terluka dibohongi Jokowi yang mengkampanyekan Nawa Cita dan Trisakti serta Revolusi Mental namun praktiknya Neoliberalisme ekonomi, rakyat dihisap, dimiskinkan, diintimidasi/direpresi dengan UU ITE  dan  rezim Jokowi bikin bangsa ini makin tergantung pada asing (impor pangan,daging,air, baja dll).

Demikian penegasan inteligensia/dosen senior  Universitas Paramadina  Herdi Sahrasad dan tokoh Persatuan Alumni GMNI Nehemia Lawalata, Selasa ini.

Sependapat dengan Suko Sudarso (Komandan Barisan Soekarno tahun 1966 dan mantan tokoh GMNI ITB) , kedua aktivis pergerakan yang ideologis itu menegaskan, ummat Islam dan kaum kebangsaan (nasionalis)  seyogianya bersatu untuk  mengakhiri krisis  multidimensi dan kegagalan Jokowi, guna membangun kembali Indonesia sesuai UUD45, melakukan Reformasi Agraria dan Trisakti serta mengakhiri kebangkrutan dan kegagalan Neoliberalisme  Jokowi. Pilpres kali ini tergantung pada bersatunya ummat Islam  dan kaum kebangsaan untuk mengakhiri Neoliberalisme dan kehancuran ekonomi rakyat era Jokowi ini.

Sebelumnya kepada media ini,  Suko Sudarso, Komandan Barisan Soekarno tahun 1966 dan mantan tokoh GMNI ITB mengungkapkan bahwa, di bawah Jokowi lima tahun ini, bangsa Indonesia makin miskin, lemah dan dijajah, tergantung pada asing dan menjadi bangsa terhina/pariah di Asia Tenggara. ‘’Data Jokowi ngawur dalam debat pilpres kemarin,  asal ngomong, hanya menunjukkan pembangunan fisik dan pembagian sertifikat tanah yang tidak menyelesaikan masalah.  Ekonomi jeblok,  utang bertumpuk lebih dari 5200 trilyun rupiah dan daya beli rakyat ambruk, Jokowi tidak pantas menjadi pemimpin nasional karena tidak kompeten dan membuat bangsa kita terhina  di Asia dan jauh  menyimpang dari Trisakti dan konstitusi 1945, sangat memalukanlah,’’ katanya.

Dalam dua kali debat Pilpres, kata Suko Sudarso, sebenarnya  Jokowi sudah kalah dan tidak punya pamor lagi karena tidak punya visi-misi , strategi dan ideologi untuk membangun bangsa Indonesia. Jokowi tidak mengerti masalah,  tidak mengerti reformasi agraria dan pasal 33 UUD45, orientasinya hanya membangun di Indonesia, bukan membangun bangsa Indonesia. Akibatnya, bangsa Indonesia diambang kehancuran, Neoliberalisme semakin menggila dan kita dipaksa jadi bangsa kuli dan jongos bagi kekuatan asing. Ini berbeda dengan Prabowo yang ingin membangun kedaulatan pangan, energi, air  dan keuangan agar mandiri sesuai cita-cita Proklamasi 1945. Prabowo memiliki visi-misi, strategi dan ideologi, mengerti masalah serta tidak ingin bangsa ini jadi jongos dan kuli bagi asing. Maka, Jokowi sudah tidak pantas menjadi pemimpin RI karena tidak kompeten, datanya ngawur, miskin gagasan dan sangat dangkal,  memalukan, dan demokrasi liberal yang dibajak modal ini hanya akan membawa kegagalan dan kehancuran.

Menurutnya, demokrasi liberal 50 persen plus satu tidak cocok dengan cita-cita dan amanat para pendiri bangsa (Founding Fathers), ditambah dengan Neoliberalisme selama ini, maka yang menang adalah uang (modal). Kita harus menggunakan musyawarah mufakat UUD45 untuk mengatasi kekacauan demokrasi ini sebab dengan demokrasli liberal 50% plus satu itu, jelas yang menang adalah uang (modal), apalagi rakyat yang sudah  lemah dan miskin diperdaya/dimiskinkan lagi oleh Neoliberalisme, dan merekalah yang digiring memilih Jokowi. Sungguh, pemilihan presiden langsung itu sangat mahal, dibajak modal, tidak cocok bagi Indonesia yang masyarakatnya masih miskin dan lemah, sementara para elite di Jakarta  tergantung pada asing, rakyat dipaksa jadi kuli, elitenya korup,  tidak mandiri dan  defisit  gagasan/ideologi, semuanya sekedar kerja, teknikalitas dan artifisial, tidak substantif. ‘’Semua itu mencemaskan kita karena tidak ada harapan di masa depan. Bangsa kita kehilangan harapan dan hanya jadi kelas pekerja yang lemah dan miskin serta tidak mandiri, sehingga tertinggal dari Korsel, Vietnam dan Malaysia, yang sudah meninggalkan kita dalam kehinaan, ketidakadilan dan kebodohan,’’ kata pendiri Founding Fathers House ini. (FF)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Senin, 25 Mar 2019 - 21:18
Senin, 25 Mar 2019 - 20:59
Senin, 25 Mar 2019 - 20:58
Senin, 25 Mar 2019 - 20:57
Senin, 25 Mar 2019 - 20:57
Senin, 25 Mar 2019 - 20:56
Senin, 25 Mar 2019 - 20:55
Senin, 25 Mar 2019 - 19:59
Senin, 25 Mar 2019 - 19:58
Senin, 25 Mar 2019 - 19:57
Senin, 25 Mar 2019 - 19:56
Senin, 25 Mar 2019 - 19:55