28 February 2020

Chatib Basri, Ekonom Yang Benci Nasionalisme. Bahaya Bila Masuk Kabinet Jokowi-JK

KONFRONTASI - Mengajak mantan Menteri Keuangan Chatib Basri masuk kabinet dinilai tidak akan merubah keadaan, dan malah akan membuat kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo jauh dari Trisakti dan Nawacita.

"Dia (Chatib Basri) adalah ekonom asli neoliberal yang membenci nasionalisme. Ini jelas-jelas bertentangan dengan cita-cita Trisakti dan Nawacita yang mengharuskan kehadiran peran negara di tengah-tengah rakyat," ujar Peneliti Lingkar Studi Perjuangan, Agus Priyanto kepada redaksi, Minggu (12/7).

Chatib Basri yang sudah dikenal luas dengan pernyataannya "Kantongi Nasionalismemu", sebut Agus, memiliki rekam jejak yang gampang di lobi oleh pemilik modal.

Prestasi Chatib Basri yang paling besar ketika menjabat Menteri Keuangan era pemerintahan SBY adalah menurunkan tarif impor komponen dan sparepart industri mobil untuk mobil-mobil kutu atau mobil murah. Dengan kebijakan itu penjualan mobil kutu melonjak dari nol menjadi 150.000 unit di tahun 2014.

Bukan mencari jalan untuk mengembangkan transportasi publik, pengurangan pajak impor komponen mobil kutu yang dikeluarkan Chatib malah membuat kota-kota besar di Indonesia tambah macet.

"Akibatnya, impor komponen dan spare-parts naik tinggi, current account defisit makin besar dan rupiah semakin rontok. Chatib mewariskan masalah quatro-deficits kepada Jokowi," tukas Agus.

Quarto deficit atau empat defisit yang diwariskan Chatib Basri dan pemerintahan SBY yang dimaksud Agus berupa defisit neraca perdagangan U$6 miliar, neraca pembayaran U$ 9,8 miliar, balance of payments U$ 6,6 miliar serta defisit anggaran akibat utang luar negeri Rp 2.100 triliun.[ian/rm]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...