26 April 2018

Bukan Fiksi Rencana Kudeta PKI, Tegas Ketum Demokrat

KONFRONTASI  - Maraknya isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) menjadi salah satu yang disoroti oleh Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Menurutnya ada paradigma yang salah dalam menuntaskan kasus kekerasan 1965 tersebut.

“Yang berubah dari semangat rekonsiliasi dan “settlement” masa lalu-dulu dan yang sekarang adalah-isunya digeser. Dari konsep rekonsiliasi menjadi negara harus meminta maaf kepada Partai Komunis Indonesia. Dibangun opini bahwa TNI dan Rakyat yang anti PKI lah yang bersalah, dan PKI tidak salah,” ujarnya di kediamanya, Puri Cikeas, Bogor, Jumat (10/6).

Presiden Indonesia Ke-6 ini menyebut rencana kedeta yang didalangi oleh PKI pada tahun 1965 nyata dilakukan namun gagal.

“Disinilah permasalahannya. Perebutan kekuasaan terhadap pemerintahan Presiden Soekarno yang sah dengan segala tindakan kekerasan yang menyertainya itu benar-benar ada. Keterlibatan PKI dan unsur lain itu juga nyata. Jadi bukan fiksi. Bahkan jika kudeta itu berhasil, maka gerakan pembersihan dari Dewan-Dewan Revolusi Daerah terhadap mereka yang anti PKI juga akan dilakukan di seluruh tanah air. Karena kudeta gagal, maka yang memegang inisiatif adalah yang anti PKI,” ujarnya.

Kegagalan inilah yang akhirnya dibalas oleh kelompok anti PKI dengan melakukan pembantaian massal yang disebut SBY melebihi batas kepatutan.

“Dalam aksi komunal yang sifatnya horisontal sangat bisa terjadi ekses dan tindakan yang melebihi kepatutannya. Itulah yang terjadi. Ada hubungan sebab dan akibatnya. Oleh karena itu jika ingin dicarikan penyelesaian, format dan konsepnya harus benar. Dan yang penting semua pihak siap. Pemerintah tidak boleh gegabah untuk memaksakan sesuatu yang pemerintah sendiri belum siap,” ujarnya.

Pemerintah diminta untuk peka terhadap bergulirnya isu kebangkitan PKI ini. Menurutnya jika isu ini tidak ditangani dengan baik konflik horisontal bisa terjadi kapan saja.

“Sikap Kepala Negara dan Pemerintah harus jelas, jangan menimbulkan kebingungan, spekulasi dan bahkan persepsi yang keliru,” ujarnya.(Juft/Aktual)

Category: 
loading...

Related Terms