16 June 2019

Berdasarkan Survei Litbang Kompas: Masyarakat Ingin Jokowi Diganti, Perubahan Mutlak dan Prabowo Pimpin RI

KONFRONTASI-  Survei Litbang Kompas menunjukkan merosotnya dukungan bagi Jokowi, dan rakyat ingin perubahan mendasar dan mutlak. Analis sosial Universitas Bung Karno, Muda Saleh dan pengamat politik Universitas Paramadina Dr Herdi Sahrasad  merespon bahwa berdasarkan  survei Litbang Kompas yang menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi mengalami kenaikan dan Jokowi anjlok, maka rakyat ingin perubahan mendasar dan ganti presiden/pemimpin karena Jokowi gagal ekonomi, gagal Nawa Cita malah jadi Nawa Duka, sedangkan kartel, oligarkisme, perburuan rente dan korupsi terus merajalela. Menurut Muda Saleh dan Herdi Sahrasad, yang terjadi saat ini adalah fenomena perkembangan pola fikir masyarakat Indonesia yang mulai memahami kondisi  ekonomi-sosial era  Jokowi yang memburuk dan lumpuh  saat ini.

Adapun menurut Saleh, saat ini masyarakat berharap dengan adanya perubahan mutlak di Indonesia , tanpa dilakukan berbagai macam rekayasa informasi yang selama ini dilakukan oleh pemerintah.

Analis sosial Universitas Bung Karno, Muda Saleh menanggpi survei Litbang Kompas yang menunjukkan elektabilitas Prabowo-Sandi mengalami kenaikan. Menurutnya, yang terjadi saat ini adalah fenomena perkembangan pola fikir masyarakat Indonesia yang mulai memahami kondisi yang terjadi saat ini.

''Rakyat ingin perubahan mendasar, karena Jokowi gagal ekonomi, penegakan hukum tebang pilih, daya beli rakyat ambruk dan kaum petani/nelayan dan kaum pedagang kecil/informal makin terpuruk, sehingga Nawa Cita jadi Nawa Duka dan aliansi parpol pendukung Jokowi makin terpuruk dan mengundang rakyat melakukan kecaman dan kutukan,'' kata Herdi Sahrasad.

https://geotimes.co.id/wp-content/uploads/2018/04/Prabowo-sedih.jpg

 

“Saya sangat menyayangkan, apa yang terjadi saat inikan , dikatakan semua baik-baik saja, entah itu ekonomi, sosial, angka kemiskinan dan bahkan survei-survei yang merujuk pada penilaian Jokowi-Ma’ruf, kebanyakan bunga-bunga,” ujarnya, saat dihubungi melalui ponselnya, siang ini.

 

Muda melihat, bahwa saat ini, pergeseran telah terjadi, dimana masyarkat juga menginginkan adanya kejujuran dalam pemaparan yang dilakukan oleh presiden Jokowi saat debat capres beberapa waktu lalu.

“Ya, harapannya kan presiden bisa memberikan informasi yang jujur, katakan kalau ekonomi kita sedang tidak sehat, apalagi soal kebakaran hutan, itu paling fatal, jelas-jelas kebakaran hutan sedang berlangsung, bahkan darurat siaga, dan Riau itu sampai sekarang masih diselimuti asap tebal, inikan bisa dikatakan manipulatif informasi,” tegasnya.

Melihat fenomena yang terjadi saat ini, Muda menilai, rakyat Indonesia sudah pintar dalam memahami sejumlah program yang diberikan oleh Jokowi. “Kartu sakti Jokowi, baik itu KIS,KIP, KKS, juga ada kartu Pra Kerja, dan Kartu Sembako Murah, ini tidak akan mempan, karena apa? sifatnya sementara, justru ini akan membuat masyarkat kita kecanduan ‘bantuan’ dan ini berdampak buruk terhadap mental bangsa kita, terlebih dilakukan pada saat jelang Pilpres,” tegasnya lagi.

Muda juga menyindir petinggi partai politik yang ditangkap KPK, karena kasus suap, terlebih ketum parpol tersebut merupakan koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin. “Di Sektor yang sudah saya jabarkan di atas jelas, banyak terjadi kesalahan, ini ditambah lagi ketum parpol yang ditangkap, kondisi ini menunjukkan bahwa siapa dan kelompok mana yang sebetulnya menebar kesalahan informasi tentunya menambah masalah bagi Jokowi. Ketum Parpolnya, menterinya, kepala daerah yang dicokok KPK, ini kan memperlihatkan bahwa segitu buruknya pemerintah di era kepemimpinan Jokowi,” sambungnya.

Jika dalam waktu dekat Jokowi ingin memperbaiki sistem dan penyampaian informasi kepada masyarkat tentang kebenaran yang terjadi di Indonesia saat ini, Muda menegaskan, hal tersebut akan sia-sia, karena menurutnya yang terjadi hari ini adalah ‘bola salju’ yang bergulir dari tahun ke tahun yang disimpan oleh masyarakat.

“Sudah terlambat, Pak Jokowi senang dengan laporan bunga-bunga, masyarakat kita sudah bergeser, tak lagi suka dengan ‘ketokohan’ melainkan visi dan misi yang membangun peradaban, ekonomi dan sistem yang juga membangun Indonesia lebih baik, satu saja yang paling pas dilakukan oleh Jokowi.. yaitu meminta maaf kepada bangsa Indonesia,” tutupnya.

Sebagai informasi, dimana hari ini survei terbaru Litbang Kompas pada 22 Februari 2019-5 Maret 2019 menunjukkan penurunan elektabilitas pasangan calon Joko Widodo-Ma’ruf Amin. Sebaliknya, elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mengalami kenaikan.

Elektabilitas Jokowi-Ma’ruf dalam survei terakhir Litbang Kompas berada di angka 49,2 persen, Prabowo-Sandiaga 37,4 persen, dan 13,4 persen responden lainnya menyatakan rahasia. Selisih suara di antara kedua pasangan menyempit menjadi 11,8 persen.

Pada survei Litbang Kompas sebelumnya, Oktober 2018, perolehan suara keduanya masih berjarak 19,9 persen dengan keunggulan suara di pihak Jokowi-Ma’ruf. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf 52,6 persen, Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, dan 14,7 responden menyatakan rahasia. “Bersandar pada kedua periode hasil survei itu, dapat dikatakan momentum penguasaan politik enam bulan terakhir cenderung mengarah pada Prabowo-Sandi,” tulis peneliti Litbang Kompas, Bestian Nainggolan, seperti dikutip dari harian Kompas, Selasa (20/3/2019). (ham)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...