18 December 2018

Begini Analisa di Balik Penghentian Mendadak Polling Google: 87% Rakyat Minta Jokowi Cukup Satu Periode

KONFRONTASI -  Hasil sebuah polling pasti selalu menimbulkan pro kontra, suka-benci, senang-sedih dan seterusnya. Ada kalanya, pihak tertentu sulit menerima kenyataan meski sudah terpampang jelas di depan mata. Berusaha untuk lari dari kenyataan, membantah fakta dan realita, bersembunyi dari kebenaran. Reaksi yang timbul dari sebuah polling atau jajak pendapat seharusnya konstruktif, dalam arti bahwa hasil polling menjadi masukan bagi pihak terkait sebagai parameter, bahan analisa dan evaluasi,  atau sebagai dasar pertimbangan mengambil keputusan.

Polling Google yang diselenggarakan mulai 28 Maret 2018 lalu misalnya, tidak seharusnya malah menjadi motifasi para pendukung Jokowi bertindak destruktif: Menyerang siapa saja yang mempublikasikan hasil polling google itu, berusaha mengirim virus, menyabot atau membajak akun atau situs, membuat kisah fiktif dalam upaya membantah dan menolak kenyataan.

Satu hal yang sudah pasti adalah penghentian penyelenggaraan polling yang dilansir Google. Polling direncanakan berlangsung dari 28 Maret hingga 20 April 2018 atau selama 23 hari, mendadak dihentikan tanpa penjelasan oleh Google pada tanggal 3 April atau 20 hari lebih awal dari jadwal semula.

Tidak ada penjelasan dari pihak Google menyebabkan dugaan dan analisa publik berkembang sesuai dengan pikiran masing-masing. Mayoritas publik yakin penghentian mendadak lebih cepat dari rencana, pasti disebabkan hasil sementara Polling yang sangat menunjukan lebih 87% responden Google menolak Jokowi memangku jabatan presiden dua periode.

36 ribu dari 41 ribu responden memilih Jokowi tidak perlu menjadi presiden lagi setelah periodeisasi pertama selesai.

Hanya 5 ribu responden yang menginginkan Jokowi menjabat presiden dua periode.

Pendapat mayoritas responden google ini tidak jauh beda dengan pendapat masyarakat yang mudah ditemukan sehari-hari.  Dari perbicangan para karyawan di kantor, diskusi mahasiswa di kampus-kampus, obrolan di kedai kopi atau warung tegal, atau percakapan pengendara gojek dengan penumpang, dapat disimpulkan mayoritas sepakat Jokowi cukup satu periode: 1 periode cukup, 2 periode jangan.

Jika demikian adanya, lalu mengapa Google tiba-tiba menghentikan polling menarik itu? Tentu saja ada pihak terkait yang karena kekuasaan dan uangnya mampu memaksa Google menghentikan polling yang dinilai merugikan citra dan memupus peluang Presiden Jokowi untuk tampil sebagai pemenang di Pilpres 2019.

Lalu, bagaimana sebaiknya rakyat menyikapi respon emosional dari kubu Jokowi terhadap Polling Google? Menurut saya, pertama harus diketahui apakah Jokowi sebagai pihak paling berkepentingan atas polling google itu tahu atau tidak mengenai pemberhentian polling yang merupakan tindakan memalukan itu?

Jika Jokowi tidak tahu, anggap saja penghentian polling dilakukan oleh orang-orang Jokowi yang dipastikan bermental penjilat, memegang prinsip ABS (asal bapak senang), menutup mata Jokowi dari aspirasi rakyat yang sebenarnya. Dalam hal ini, rakyat harus menempatkan Jokowi sebagai korban dari penipuan para stafnya.

Namun, jika diketahui bahwa penghentian itu sudah sepengetahuan dan persetujuan Jokowi, maka hasil polling google itu benar-benar relevan untuk dipertimbangkan: bahwa Jokowi memang tidak diinginkan rakyat menjadi presiden lagi. Satu periode sudah lebih dari cukup !

Terlebih jika Jokowi sendiri yang meminta polling itu dihentikan mendadak karena takut menyebar luas dan menutup peluangnya dapat jadi presiden dua periode. Jika begitu adanya, maka rakyat sah berkesimpulan, Jokowi benar-benar tidak tahu malu dan tidak tahu diri.

 

 

Sebuah jajak pendapat (polling) dilakukan di Google Polling (http://www.googlevote.gdn).

Google mengajukan pernyataan dan pertanyaan kepada responden swbagai berikut:

“Presiden Joko Widodo disebut berhasil membawa kemajuan bagi Indonesia dan dinyatakan sangat layak untuk memimpin RI 2019-2024. Bagaimana tanggapan anda?”

Sampai hari Senin (2/4/2018) pukul 17.12 WIB menunjukan mayoritas warganet TIDAK SETUJU JOKOWI 2 PERIODE.

Dari 41.275 responden yang telah memberikan suara, sebanyak 87% (36.039) menyatakan Sangat Tidak Setuju Jokowi memimpin RI lagi di 2019-2024. Sedangkan mereka yang setuju hanya sejumlah 13% atau sekitar 5.236 responden.

Polling yang dimulai 28 Maret ini akan ditutup pada 20 April 2018. (Google)

 

Hasil sementara polling Google itu ternyata membuat kalangan istana panik. Diduga kepanikan pejabat tinggi di sekeliling Presiden Jokowi yang menyebabkan polling Google tidak dapat lagi diakses sejak tanggal 3 April 2018 lalu.

Hasil sementara Polling Google terakhir kali dapat dilihat pukul 11.17 WIB (3/4/2018) yang mencatat 58.516 responden. Sebanyak 53.249 responden atau 91% memilih TIDAK SETUJU Jokowi memimpin RI kembali untuk periode 2019-2024. Hanya 9% (5267) responden atau  yang menyatakan SETUJU(Jft/KOTAKPANDORA)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...