21 September 2019

Bandingkan dengan Jokowi, Pengamat Politik Sebut Prabowo Subianto Terlalu Jujur di Debat Capres

KONFRONTASI -  Pengamat komunikasi politik, Effendi Gazali menganalisa mengenai Prabowo Subianto dan Jokowi kala melakukan debat capres kedua di Hotel Sultan pada Minggu malam (17/2/2019).

Dilansir TribunJakarta.com dari saluran YouTube Kompas Tv, hal tersebut disampaikan Effendi Gazali sebagai narasumber di acara Sapa Indonesia Pagi.

Pengamat komunikasi politik, Effendi Gazali itu awalnya menyoroti mengenai tudingan Jokowi berbohong saat debat capres 2019.


Tudingan Jokowi berbohong itu bermula ketika ia menyebut berbagai data yang keliru di debat tersebut.

Satu diantara data yang disebutkan yakni mengenai tak adanya kebakaran hutan selama tiga tahun terakhir.

Namun, berdasarkan sumber Direktorat PKHL Kementrian Lingkungan Hidup dan kehutanan (2018) menyebutkan bahwa pada tahun 2016 terdapat kebakaran hutan seluas 14.604,84 hektare.

"Pada tahun 2017 terdapat kebakaran hutan seluas 11.127,49 hektar, dan pada tahun 2018 terdapat kebakaran hutan seluas 4.666,39 hektare," ucapnya.

Dalam pemaparan visi dan misi, Jokowi mengaku selama tiga tahun tidak pernah ada kebakaran hutan dan kebakaran gambut

Keterangan foto tidak tersedia.

"Kebakaran lahan gambut tidak terjadi lagi dan ini sudah bisa kita atasi. Dalam tiga tahun ini tidak terjadi kebakaran lahan, hutan, kebakaran lahan gambut dan itu adalah kerja keras kita semuanya," kata Jokowi.


"Dan kami ingin mengurangi sampah di sungai dan laut," ungkapnya.

 

Data keliru yang disebutkan Jokowi itu membuat capres nomor urut 01 itu dianggap melakukan kebohongan.

Pengamat politik, Effendi Gazali lantas membandingkannya dengan tindakan Prabowo Subianto saat debat capres 2019.

 

Calon Presiden Nomor Urut 2, Prabowo Subianto menyampaikan gagasannya saat Debat Kedua Calon Presiden, Pemilihan Umum 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO)

Calon Presiden Nomor Urut 2, Prabowo Subianto menyampaikan gagasannya saat Debat Kedua Calon Presiden, Pemilihan Umum 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019).(KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMO) (Kompas.com/Kristianto Purnomo)

 

"Menyerang tak berarti selalu harus menang, memberikan data berarti tak harus selalu valid," ungkap Effendi Gazali.

Effendi Gazali menilai, Prabowo Subianto lebih tertolong di debat capres 2019 semalam.

"Dari konteks itu, menurut saya Pak Prabowo lebih tertolong ketika kurang mendapatkan data dan klaim maka bisa dianggap kurang berbohong," imbuh Effendi Gazali.

 

Lantas, Effendi Gazali menyoroti klaim Jokowi yang menyebutkan tak adanya kebakaran hutan.

"Misalnya soal data kebakaran hutan itu telak dan juga konflik pembangunan agraria dalam infrastruktur. Soal impor beras juga kita tahu semua banyak yang terjadi di 2018," beber Effendi Gazali.

Effendi Gazali mengaku ia sempat bertemu Menteri Pertanian RI di sebuah kesempatan dan membahas mengenai alasan Indonesia tetap melakukan impor beras.

"Kebetulan saya pernah expo di BPK bareng Kementerian Pertanian mengenai hasil-hasil pangan kenapa impor, Pak Menteri Pertanian bilang 'seharusnya kita hanya impor Rp 60 ribu ton tetapi dibuat Rp 1 juta ton'," tegas Effendi Gazali.

"Rizal Ramli juga sering protes soal itu berarti ada keanehan atau kebohongan disitu," sambungnya.

Pengamat komunikasi politik itu menilai penyampaian data Jokowi yang keliru itu pasti diserang oleh pihak lawan.

"Pasti akan diserang ya tentang kebakaran hutan dan konflik pembangunan padahal kita tahu ada persoalan PLTU Batang dan waduk di Sulawesi Utara yang belum selesai," imbuh pakar komunikasi politik.


Effendi Gazali mengatakan, Jokowi mengklaim menggunakan kata-kata tidak ada saat debat capres 2019 semalam.

"Klaimnya kan menggunakan kata-kata tidak ada didalam pernyataan, sehingga tergantung sekarang kubu 02 dan media sosial, apakah itu bisa dimanfaatkan kubu oposisi dan dikatakan bohong. Disisi lain mungkin keliru," kata pakar komunikasi politik.

 

Selain itu, Pengamat komunikasi politik Effendi Gazali menyayangkan sikap kubu oposisi yang tidak menanggapi berbagai data tersebut.

"Prabowo dalam konteks penentang juga kurang maksimal, seharusnya lebih maksimal dan pastinya ada yang greget," ucap pakar politik.

Pakar komunikasi politik Effendi Gazali itu menduga sikap Prabowo Subianto itu memang telah diatur.

"Ini menarik, jangan-jangan ini dibuat seperti bertahap. Tahap pertama Prabowo dibuat tak menyerang, tahap kedua ternyata angkanya tinggi dan tetap tersenyum," imbuh Effendi Gazali.(Jft/Tribun)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...