17 December 2018

Awas, Rupiah tetap Melemah. Pentingnya Rizal Ramli dalam Rivalitas Jokowi vs Prabowo

KONFRONTASI- Merosotnya ekonomi dan melemahnya rupiah makin menggerus elektabilitas Jokowi  maupun legitimasi Jokowi menuju Pilpres 2019. Pelbagai lembaga survey menyatakan bahwa elektabilitas petahana Jokowi berada di bawah 35 persen. Artinya, potensi Joko Widodo untuk kalah dalam  Pilpres 2019 sangat besar.  Kalau rupiah terus melemah mendekati Rp14.000/dolar AS seperti saat ini, maka kekalahan Jokowi sudah hampir pasti karena elektabilitanya mandul. Poltracking dan LSI menilai elektabilitas Jokowi alami stagnasi.

Demikian halnya pandangan Analis politik dari  Yayasan Indonesia Baru (The New Indonesia Foundation),  yakni Reinhard MSc dan Aris Arif Mundayat PhD,  sarjana alumnus UGM dan PhD dari Australia. Keduanya bahkan menilai, jika dalam Pilpres 2019 hanya terbentuk dua poros koalisi, yakni Jokowi melawan Prabowo Subianto, maka peran calon wakil presiden (Cawapres) merupakan faktor yang sangat menentukan.
Sekiranya Jokowi tak marekrut teknokrat senior Rizal Ramli (RR)  sebagai cawapresnya, maka peluang Prabowo merekrut RR sangat besar. ‘”RR cawapres terkuat,’’ kata Aris Mundayat.
Menurut Aris Mundayat, Prabowo akan menang bila menggandeng Rizal Ramli (RR) sebagai Cawapres. Aris dan Reinhard mengungkapkan tiga alasan mengapa ekonom senior itu menjadi faktor penentu kemenangan Prabowo atas Jokowi. ‘’  Jika rupiah terus melemah mendekati Rp14.000/dolar AS seperti saat ini dan bertengger di angka itu saja, Jokowi kehilangan pamor dan kepercayaan rakyat,  maka kekalahan Jokowi sudah hampir pasti karena elektabilitasnya mandul, tak akan lebih dari 35%,’’ ujar Aris Arif Mundayat.

Ada beberapa hal krusial soal pentingnya RR dalam pilpres nanti. Pertama. RR merupakan ekonom di Indonesia yang paling paham kelemahan pembangunan ekonomi Jokowi. Ketidakpuasan publik terhadap kinerja ekonomi pemerintahan Jokowi, akan bermuara kepada sosok ekonom yang mereka anggap paling mampu memperbaikinya.
 
"Publik kurang puas dengan pembangunan infrastruktur Jokowi yang tidak berhubungan dengan membaiknya perekonomian mereka, daya beli rakyat tidak membaik, impor pangan semakin gencar, ketimpangan pendapatan tetap tinggi, dan pertumbuhan ekonomi stagnan 5 persen. Pada saat yang sama mereka melihat dan membaca RR banyak memberikan solusi-solusi terobosan untuk atasi semua masalah ekonomi tersebut," jelas Reinhard .
Kedua, RR adalah simbol keberpihakan rakyat, hal ini dibuktikan dalam rekam jejak sebagai tokoh pergerakan selama 40 tahun, sejak 1978. Dengan menyingkirkan RR dari kabinet, sama saja Jokowi menghilangkan simbol keberpihakan rakyat dari pemerintahannya. Hal ini terutama tergambar jelas dari kasus Reklamasi Teluk Jakarta.

"Publik seluruh Indonesia paham benar bahwa RR direshuffle oleh Jokowi setelah berani hentikan reklamasi Pulau G milik Agung Podomoro karena alasan teknis (pipa gas dan PLN) dan kerakyatan (nelayan). Perlu diingat isu reklamasi terbukti sangat ampuh ketika diangkat oleh Anies Baswedan mengalahkan Ahok di Pilkada DKI Jakarta tahun lalu. RR adalah pemilik saham terbesar atas isu reklamasi ini, bukan Anies. Dan isu reklamasi jelas akan muncul lagi saat Pilpres 2019," tegas Reinhard.

Ketiga, sambung Reinhard bangsa ini membutuhkan negarawan berkapasitas internasional yang mampu mengimbangi agresivitas Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Apalagi setelah pemimpin RRT, Xi Jinping dimungkinkan menjabat lebih dari dua periode oleh Kongres Nasional Tiongkok. RR dinilai dapat mengimbangi Xi, karena RR adalah penasehat ekonomi PBB bersama tiga orang peraih Nobel Ekonomi.

Jokowi dimata AS adalah sekutu China RRC dan dalam pilpres nanti, AS bakal memilih capres  yang kredibel  untuk menghadapi Jokowi. ‘’Faktor RR sangat kuat menentukan percaturan Pilpres nanti,’’ kata Aris Mundayat. (ff)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...