17 September 2019

Atasi Sengkarut Sosial-Politik, Rizal Ramli Sarankan Jokowi Ikuti Cara Bung Karno

KONFRONTASI-Situasi sosial politik di Indonesia semakin tak kondusif, seiring dengan belum pulihnya isu SARA saat Pilkada DKI beberapa waktu silam.

Tokoh nasional Rizal Ramli menyarankan pemerintah Joko Widodo (Jokowi) untuk menjalankan beberapa langkah strategis untuk menyelesaikan persoalan sosial politik yang terus mendera Indonesia belakangan ini.

Menurut Rizal, dalam persoalan politik Indonesia pada kasus Ahok seperti membuka kontak pandora yang selama ini tidak pernah dipersoalan oleh bangsa Indonesia.

“Sebenarnya kasus ini tidak perlu terjadi. Karena jika dilihat dari sisi Pak Jokowi, beliau memiliki modal politik yang begitu besar. Setelah ada kasus Ahok, membuat modal politiknya menjadi terkuras banyak hanya untuk mengurusi kasus Ahok,” kata Rizal di kawasan Kemang Jakarta Selatan beberapa waktu lalu.

Rizal kemudian mencontohkan, pilkada Banten yang diikuti oleh figur Rano karno yang begitu populer di masyarakat Indonesia bisa kalah dengan kompetitornya. Begitupun di Jawa Tengah, ada beberapa Pilkada yang diikuti fungsionaris PDIP, namun hasilnya tetap kalah. Hal itu diduga akibat Ahok effect.

“Jika hal ini tetap dilakukan dan tidak ada perubahan, dikhawatirkan PDIP yang merupakan partai pendukung Presiden Jokowi bisa ditinggal pengikutnya, dan ini akan berat dalam menghadapi Pilpres 2019,” tutur pendiri lembaga think thank Econit ini.

Rizal mengatakan, Presiden Jokowi sejatinya harus belajar dari Bung Karno. Misalnya, saat mengeluarkan keputusan untuk mengeksekusi tokoh DI/TII Kartosuwiryo, Bung Karno menjelaskan ke publik bahwa kebijakannya itu tidak bermaksud memusuhi Islam, tapi tindak tanduk Kartosuwiryo memang sudah mengancam NKRI. Bung Karno juga selalu menjelaskan ke publik bahwa ia memiliki hubungan historis yang kuat dengan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah.

“Jika ada yang bilang Bung Karno pernah memusuhi tokoh Islam itu tidak benar. Sebab saat menghukum mati tokoh DI/TII Kartosuwiryo, Bung Karno membuat alasan tertulisnya karena Kartosuwiryo menyuruh anak buahnya melempar granat di sekolah Cikini, sehingga menimbulkan korban anak-anak. Dan ditulis bukan karena Kartosuwiryo ingin mendirikan negara Islam. Ini bukti jika Bung Karno tidak pernah memusuhi Islam,” ungkap Rizal.

Karena itu, Rizal menyarankan, sebaiknya fokus dengan isu persatuan dan kesatuan, apapun agamanya, sukunya, bahasanya. Kita Satu, Indonesia Satu. Apalagi jika Ahok dijadikan tokoh plurarisme bukannya Kwik Kian Gie atau Jaya Suprana. Itu akan menambah luka pada umat Islam. Karena peran umat Islam dalam mendirikan NKRI sangat besar.

“Sebaiknya fokus pada isu anti korupsi, misalnya e-KTP dan BLBI dan ini malah akan menaikan rating Presiden Jokowi semakin tinggi,” tegas Rizal.(mr/sebarr)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...