16 December 2017

Ahokisme, Jakarta, Pesan Soekarno dan Rizal Ramli

KONFRONTASI-Pada 1961, dalam pidato ulang tahun Jakarta ke-434 di Lapangan Ikada Jakarta, Presiden Soekarno berpesan agar Jakarta menjadi kota yang bermanfaat bagi semua warganya, baik yang kaya maupun miskin. Seperti pohon kelapa pada Sunda Kelapa berguna bagi semua orang yang memerlukannya.

Jangan kau contoh Batavia kota yang hanya megah bagi kaum ber-uang, tidak bagi rakyat banyak, bahkan mereka dicurigai. Jakarta harus jadi kota kemenangan sempurna megah dalam segala arti, sampai di dalam rumah-rumah kecil daripada marhaen di kota Jakarta harus ada kemegahan," kata Soekarno

Jakarta bukan kelanjutan Batavia. Jakarta kota baru. "Bahkan Jakarta harus jadi mercusuar daripada perjuangan melawan kolonialisme seluruh umat manusia," kata Soekarno yang ingin Jakarta bermanfaat bagi seluruh warga dan bermartabat di mata dunia.

Sebab itu, demikian sejarawan JJ Rizal, Batavia tidak cukup sekadar diganti namanya, tetapi juga dicarikan ulang tahunnya yang menunjukkan sejarah perlawanan terhadap kolonialisme, kapitalisme predator dan imperialisme. Soekarno adalah Bapak Proklamasi dan Bapak Bangsa dengan Ideologi Kebangsaan yang sangat kuat di negeri ini, sementara Ahok masih dalam taraf seorang gubernur DKI yang terus berusaha mengubah situasi-kondisi, mencari jati diri dan mencari tempat yang tepat di mata warganya sendiri.

Sebagai pemimpin, Ahok baru dalam proses in the making, sangat jauh dari kualitas pendiri bangsa seperti Bung Karno yang sangat kharismatis dan mitologis-mistis.

Adakah Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) paham dan menghayati pesan Soekarno itu? Apakah Ahok tahu dan sadar bahwa Jakarta dihadirkan untuk semua warganya, kaum kaya maupun yang miskin?

Ahok selama ini terkesan berseberangan dengan warga kecil dan kasus Reklamasi membuat persepsi publik hampir sama bahwa Ahok pro-pengembang, pemodal, bukan rakyat yang lemah dan marginal. Ahok harus instrospeksi diri dan mawas diri terkait pesan Presiden Soekarno diatas tadi.

Beberapa hari lalu, pun pesan khusus disampaikan Menteri Koordinator Maritim Rizal Ramli untuk Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Terlebih Ahok akan maju dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 mendatang.

Rizal Ramli mengatakan, jika ingin menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, maka pemimpin tersebut harus terlebih dahulu mencintai rakyatnya. Bukan hanya sekadar marah-marah untuk menunjukkan sikap tegasnya. Ahok sengaja dikirimi pesan oleh Menko Rizal Ramli yang melihat hubungan Ahok dengan sebagian warga DKI mengalami ketegangan dan iritasi.

"Siapa pun pemimpin harus belajar mencintai rakyatnya, tidah boleh maki-maki rakyatnya," ujar Rizal..

Rizal Ramli mencontohkan, sikap yang ditunjukkan oleh Bernie Sanders, salah satu calon presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Demokrat. Meskipun Bernie sering melancarkan kritik, namun kritik tersebut tidak sampai menyakiti hati rakyat AS. Begitu juga dengan Donald Trump, pengusaha yang ingin maju dalam pemilihan Presiden AS. Jadi menurut Rizal, siapa pun yang ingin menjadi seorang pemimpin, maka harus mencintai rakyatnya. Jika memang ada sesuatu yang kurang dipahami rakyatnya, maka menjadi tugas pemimpin untuk memberikan pemahaman secara baik.

Rizal juga menegaskan dirinya tidak pernah memberikan dukungan kepada Ahok atau calon kandidat Gubernur DKI lainnya. Menurut dia, pilkada bukan menjadi urusannya. Yang hendak disampaikan Rizal Ramli adalah pentingnya para pemimpin melayani, mengayomi dan mencintai rakyatnya.

Sejarawan JJ Rizal melihat, cara pandang sejarah Ahok masih berorientasi kolonial. Inilah yang disebut sebagai penyakit Hollands denken, yaitu ungkapan tersohor pasca-kemerdekaan yang digunakan Soekarno untuk menunjuk kepada "pandangan yang cupet, cetek, sempit, dangkal dan bodoh" dari pera penguasa.

Oleh sebab itu Ahok tak boleh lagi marah-marah kepada rakyatnya sebab cara pandangnya yang angkuh itu menunjukkan kezaliman seorang penguasa. Dan itu pasti jadi bumerang bagi dirinya. Ahok harus paham bahwa dalam pertarungan kekuasaan itu, betapa pentingnya merebut hati dan jiwa rakyat, winning the heart, winning the soul rakyatnya sendiri di DKI.

Tapi, apakah Ahok mau mendengarkan dan menghayati pesan Presiden Soekarno dan Menko Rizal Ramli itu? Sejarah dan Ahok sendiri yang akan menjawabnya. (berbagai sumber/Inilahcom)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...