13 November 2019

Ahok dan Pilgub DKI: Menang jadi Arang Kalah jadi Abu ?

JAKARTA- Jalan terjal, berliku, beronak-duri dan ''ngeri-ngeri sedap'' pada proses pencalonan Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok menuju Pilgub DKI melalui jalur independen, nampaknya bakal jadi kontroversi. Bahkan sangat mungkin jadi kontroversi yang meninggi.

Ahok sebagai sosok politik yang mencoba mengguncang sistem perpolitikan Indonesia yang dikendalikan oleh kaum elite partai, menghadapi koreksi, kontrol, kecaman dan celaan justru dari kalangan Eks TemanAhok, yang membongkar 'skandal' pengumpulan KTP untuk Ahok. Ahok hanya bisa melakukan koreksi dan guncangan atas sistem perpolitikan yang oligarkis itu, sistem yang dikuasai keluarga dinasti politik, para mantan jenderal, atau para pebisnis kaya, hanya jika Ahok dan Teman Ahok sendiri bersih,kredibel, transparan dan akuntabel serta tidak ada dusta di antara mereka. Kubu Ahok harus benar-benar jujur dan bersih, jangan sampai mengalami kontroversi yang bisa mencederai atau bahkan menggulung kredibilitas Ahok sendiri.

Ahok dan Teman Ahok harus menyadari bahwa kalangan Eks Teman Ahok bisa jadi bumerang kalau serangan, celaan dan koreksi mereka menemukan fakta kebenarannya. Sekedar misal, Paulus Romundo, seorang eks Teman AHok yang keluar dari kubu independen itu, menyatakan rasa takut terseret kasus korupsi yang membayangi Ahok. "Kami takut tersangkut korupsi soal ramainya indikasi uang Teman Ahok dari aliran dana pengembang yang terkait rencana reklamasi," ujar Paulus dalam keterangan persnya di Cikini, Jakarta, Rabu (22/6/2016).

Bekas anggota TemanAhok lainnya yakni Dodi Haryadi mengatakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang dikumpulkan oleh TemanAhok belakangan ini tidak sepenuhnya didapati secara sukarela. Ia juga menyatakan dari total KTP yang dikumpulkan, tidak sedikit yang merupakan KTP ganda. Bahkan sebagian besar tidak diberikan oleh pemilik KTP karena kesadaran mereka. Ini sungguh problematik dan dilematik bagi Ahok sendiri.

Richard Sukarno,misalnya, menjelaskan alasannya bergabung dengan TemanAhok karena diajak seorang koordinator posko (Korpos) TemanAhok untuk bermain politik. "Karena pengen tahu, saya datangi rumahnya. Dia bilang untuk PJ posko penanggung jawab di kelurahan itu akan dibekali laptop dan print plus gaji," katanya. Adakah pengakuan dan pernyataan para eks Teman Ahok itu benar atau salah, jujur atau dusta, tentu akan dicermati dan dikaji oleh publik dengan caranya sendiri. Apa yang dipaparkan di atas bisa merusak reputasi, citra dan kredibilitas Ahok, bahkan bisa melenyeapkan kepercayaan publik pada Ahok. Harus ada respon dan jawaban yang jelas, dan kredibel dari Kubu AHok (TemanAhok) dalam menanggapi segala macam koreksi, kecaman dan celaan dari kalangan eks TemanAhok tersebut . Inilah Perang Kembang dalam pertarungan politik antarkekuatan social di DKI Jakarta menuju Pilgub DKI 2017 nanti.

Kini, tergantung bagaimana respons, dan strategi kubu Ahok dalam menjawab tudingan dan serangan tajam dari kalangan eks Teman Ahok, dan hal itu untuk sebagian akan menentukan hitam putihnya Kubu Ahok secara menyeluruh. Jangan sampai reputasi, citra dan kredibilitas Ahok hancur gara-gara ada testimoni, pengakuan dan serangan kalangan eks Teman Ahok, yang bisa membuat Ahok bagai durian busuk yang runtuh lalu jatuh. Harus disadari oleh seluruh pemangku kepentingan di Kubu Ahok bahwa dalam politik, persepsi publik jauh lebih menentukan dan penting ketimbang fakta itu sendiri. Persepsi publik bisa berubah manakala ada fakta-fakta baru yang bisa membuktikan bahwa Kubu Ahok/Teman Ahok dan seluruh jaringan serta simpatisannya itu tidak bersih, tidak kredibel dan tidak bisa dipercaya lagi. Inilah bahaya yang mengancam eksistensi politik Ahok dan seluruh slagordenya.

Bukankah sudah kita baca bahwa The New York Times menyebut Ahok sebagai sosok political outsider karena latar belakangnya sebagai minoritas dari sisi etnis dan keyakinan agamanya? Dan status outsider itu semakin kuat dengan keputusannya berpolitik melalui jalur independen? Sekali lagi, mengguncang sistem politik nasional yang dikuasai kelompok oligarki hanya bisa dilakukan oleh aktor yang kredibel, tangguh dan digdaya, bukan yang serampangan dan diperkuat kelompok kepentingan yang tidak transparan, tak akuntabel dan bau keculasan.

Seluruh mata hati rakyat DKI Jakarta dan Indonesia kini menyoroti kubu Ahok secara tajam dan cermat sebelum mengambil keputusan akhir untuk mendukung Ahok atau malah mengganyang Ahok secara politik. Saya kira semua tahulah bahwa politik itu kejam dan keji, apalagi jika aktornya penuh kontroversi. Kita meyakini, dari sana dimensi moral-etis menjadi sangat krusial dan menentukan kalah menangnya sang petarung dalam laga Pilgub nanti. Kita tunggu apa yang bakal terjadi sebelum segalanya terlambat: Menang Jadi Arang Kalah Jadi Abu (AHLUWALIA dari kampus Paramadina/inilah/berbagai sumber)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...