21 November 2017

Jokowi-PDIP Silau Dengan Tawaran Dana Untuk Posisi Cawapres?

Terkait dengan spekulasi mengenai siapakah Cawapres yang akan mendampingi Jokowi maka beredar rumor bahwa ada yang menawarkan dana sangat besar ,trilyunan, agar dia bisa menjadi Cawapres Jokowi. Namanya memang sudah sering beredar di semua media termasuk media online, dan memang selain keluarganya mempunyai konglomerat bisnis yang besar,juga didukung oleh pentolan organisasi perkumpulan dari bisnis yang besar. Namun namanya janji dibidang politik, walaupun katakanlah nantinya dibuat tertulis ,tentu sangat mudah untuk diingkari dengan berbagai alasan bilamana jabatan Cawapres Jokowi itu sudah didapat. Janji dana sangat besar itu sangat mudah diingkari, karena selain saat ini di Indonesia etika politik itu tidak dijunjung tinggi, juga karena berbeda dengan perjanjian bisnis yang selalu ada agunannya . Perjanjian politik tidak ada agunannya, sehingga apabila diingkari tidak ada sangsi apapun kecuali hanya membuat hubungan yang tidak enak, tetapi salah satu pihak sudah meraup keuntungan kekuasaan yang besar.

 

Dilain pihak , Jokowi-PDIP sangat gamang menghadapi persoalan dana untuk kampanye Pilpres ini. Kondisi PDIP sekarang sangat berbeda dengan ketika almarhum Taufik Kiemas masih ada. TK yang mengurusi semua dana politik sehingga semua kegiatan partai bisa berjalan tanpa hambatan yang berarti. Sekarang tidak ada satu tokohpun di PDIP yang mampu menggantikan TK ,baik kemampuan kerjanya, lobby2 nya maupun kepercayaan orang kepada beliau.

 

Namun sesungguhnya Jokowi-PDIP tidak perlu gamang dengan dana kampanye Pilpres ,sampai silau dengan janji dana trilyunan ( yang mudah sekali untuk diingkari ) yang sangat menggiurkan dari tokoh yang ingin menjadi Cawapres tersebut. Pasalnya adalah elektabilitas Jokowi yang sangat tinggi jauh meninggalkan para saingannya. Menurut survey SMRC terakhir, elektabilitas Jokowi 47%, sementara Prabowo 32% dan karena ini bulan Mei, maka serangan ke Prabowo makin kencang, Jusuf Kalla yang ramai dispekulasikan kemungkinan mendampingi Jokowi, elektabilitasnya hanya 3%.

 

Elektibilitas Jokowi yang sangat tinggi dengan catatan belum melakukan kampanye yang masif untuk Pilpres itu, akan sangat mudah untuk mengumpulkan dana untuk kampanye yang sangat besar ,baik dari masyarakat, pengusaha kecil,menengah sampai besar. Khusus untuk pengusaha besar ,bisa dipastikan akan merapat sendiri ke Jokowi-PDIP karena kemungkinannya untuk menang besar sekali otomatis mereka yang akan merapat ,bukannya mereka harus dibujuk-bujuk agar mendukung .Sifat mayoritas pengusaha adalah mendekati penguasa atau calon penguasa untuk membesarkan bisnis mereka atau se-tidak2 nya melindunginya.

 

Karena itu Jokowi-PDIP tidak perlu silau dengan janji dana trilyunan ( yang mudah sekali untuk diingkari ) untuk memberikan posisi Cawapres kepada tokoh tertentu, karena dana yang besar itu akan mudah didapat dari partisipasi masyarakat termasuk pengusaha besar akibat elektabilitas Jokowi yang sangat besar. Dalam Pilpres, yang paling menentukan kemenangan adalah elektibilitas tokohnya, bukan dukungan mesin partai yang sudah sama sekali lumpuh setelah dana,tenaga dan konsentrasinya terkuras habis diwaktu Pileg. Banyak sekali data2 yang mendukung analisa ini dimasa Pilpres2 yang lalu. Koalisi Partai itu hanya ada artinya untuk syarat administratif pencalonan Capres-Cawapres saja, tetapi tidak artinya untuk pemenangan Pilpres.

 

Selain itu Jokowi-PDIP juga harus mengingat bahwa KPK dan PPATK pasti akan mengawasi dengan ketat proses pendanaan

Pilpres yang memang rawan dengan transaksi2 yang mencurigakan. Dalam Pileg , PPATK sudah menemukan transaksi2 yang mencurigakan ,terutama di rekening2 Caleg petahana. Saat ini tentu sedang terjadi proses tindak lanjutnya di KPK. Karena itu jangan sampai Jokowi-PDIP terjebak dengan permainan dana trilyunan ini sebagaimana SBY terjebak dengan dana Bail Out Bank Century yang terus menerus menyandera pemerintahannya , bahkan hampir2 menjatuhkannya.

Pada akhirnya, Jusuf Kalla jadi cawapres Jokowi, dan berakhirlah spekulasi di atas, bukan? (Harianto Wibowo -penulis, Pemerhati Sospol)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...