30 May 2017

Jika Gadis Mencintai Sang Ayahanda: Surat untuk Ibu Megawati Soekarnoputri

KONFRONTASI-Feodalisme yang seharusnya sudah hilang bersama jatuhnya Suharto, kini ternyata masih eksis. Bung Karno dahulu memerangi sikap-sikap feodal, kini malah diteruskan oleh puteri kandungnya- yang kebetulan menjadi pemimpin di antara anak-anak Sukarno yang lain. Bung Karno dahulu hanya ingin Mega menjadi penari, bukan untuk menjadi politisi. Namun, karena kelihaian Taufik Kiemas (alm.), akhirnya malah Mega yang menjadi "icon" penerus Bung Karno. Tetapi memang realitas politik tidak selalu semeriah mimpi atau idealisme politik.

Seluruh kekuatan politik di Indonesia saat ini hanya mengandalkan politik uang sebagai "koor" dari gerakannya. Ideologi tertanggalkan, diganti oleh kebutuhan logistik yang selalu menjadi pembenaran untuk gadaikan ideologi. Dalam kasus pasangan Jokowi-JK, situasinya tidak jauh berbeda.

Sebelumnya akan disajikan kronologis kisah perjalanan Jokowi menjadi pemimpin nasional, seorang berideologi pasar, yang mendadak menjadi "idol" dari rakyat Indonesia (dan mancanegara). Dia bukanlah tipe pengkritik sistem seperti Rizal Ramli dan Adnan Buyung, melainkan hanya pengusaha kelas menengah yang "terlihat" tulus dalam setiap tindakannya.

Seoramg rekan aktivis, sudah peringatkan bahwa Jokowi lebih berbahaya (atau sama) dengan SBY.. Dalam ari komitmen menepati janji. Jokowi dikabarkan terlalu sering berkata "Ya" dan membubuhkan tanda tangan dalam proyek2 yang dia anggap legal (padahal berkemungkinan ilegal seperti dalam kasus Trans Jakarta). Tepi berbagai kesanggupan itu tak pernah ditepati oleh Jokowi. Ya, Jokowi sama-sama pembohongnya dengan SBY.

Yang terjadi saat Pileg April 2014 sebenarnya ada kisah lainnya. Karena rekayasa 9 polling dan rekayasa opini bahwa akan ada Jokowi' effect sampai 35%, Megawati  akhirnya lebih awal mengumumkan JKW sebagai Capres PDIP walaupun Megawati sadar bahwa JKW kadar Soekarnonya kurang dari 20%. Padahal "bubble" Jokowi ini sebenarnya ditiupkan oleh faksi James Riyadi dan CSIS, lewat berbagai operasi media dan penggiringan opini. Guruh dan Guntur Sukarnoputera sendiri berpendapat bahwa Jokowi tidak sama dengan Bung Karno. Guntur memang memiliki landasan ideologis, namun sayang suaranya tidak dipertimbangkan di kalangan elit PDI Perjuangan. Karena naiknya suara PDI Perjuangan pada Pileg 2014 tak ada hubungannya dengan Jokowi- konsistensi politik sebagai oposan rezim neoliberal SBY-JK (kini cawapres Jokowi) dan SBY-Boediono sedang diuji.

Namun terjadilah situasi yang tidak diinginkan tersebut. Blunder kedua terjadi ketika Jokowi memilih JK (mantan lawan politik PDI Perjuangan 2004-2009) yang sarat dgn pragmatisme dan transaksional. Harusnya atau idealnya, Cawapres membantu mengangkat Jokowi semakin melesat, tapi kenyataannya malah akan menarik Jokowi kebawah. Akan menarik kebawah karana track record 'conflict of interest' (KKN) JK yang sangat besar.

Akibatnya yang akan terjadi adalah restorasi KKN (apakah ini cita2 Nasdem, si parpol pengusung slogan restorasi ?), bukan penegakkan pemerintahan yg bersih dan good governance spt misi resmi Jokowi yang diserahkan ke KPU (yang bernama Nawa Cita, mirip-mirip Nawaksara- pidato yang diucapkan Bung Karno sebelum terguling). Memang benar pendapatan sejarawan JJ. Rizal, bahwa Jokowi tidak kenal Sejarah dengan baik- terbukti dalam pemilihan rumah Pitung (sewaktu diumumkan sebagai capres) dan Gedung Joeang 45 (sewaktu didekrasikan bersama cawapres JK).

Sungguh memalukan, kami rasa, ketika Jokowi memilih JK. Ini dikarenajkan ideologi JK adalah yang sangat bercorak pasar bebas (bukan pasar tradisional seperti "garis" Jokowi) atau neoliberal yg bertentangan secara diametrikal dengan Trisakti. Trisakti.. Yang merupakan cita-cita dari ayahanda Gadis, hanya tinggal slogan ..

Jika Gadis benar mencintai ayahandanya, yang merupakan ideolog ulung yang sangat jauh "gap"-nya bila dibandingkan Jokowi, karena keputusan sudah terlanjur terjadi,, hanya ada mungkin muncul dua alternatif :

Pertama.. Mengubah pasangan Presiden karena adanya dugaan  tindakan KKN yang pernah dilakukan JK atau Jokowi (soal pengadaan Trasn Jakarta) dan.. Gadis harus segera mencari figur yang ideologis, minimal mengamalkan ajaran Ayahandanya untuk selalu konsisten melawan nekolim.

Dua.. Tidak diganti cawapresnya juga tidak masalah. Namun demi menghindari potensi 'conflict of Interest' dari JK dan dominasi ideologi neoliberal-nya, maka kelak Wakil Presiden JK hanya ditugaskan untuk mengurusi konflik daerah (Papua) maupun untuk urusi hubungan pemerintah dengan DPR (seperti halnya fungsi Wakil Presiden di Amerika). Wakil Presiden JK tidak "cawe-cawe" menentukan menteri ekonomi (karena berpotensi untuk didagangkan- ingat kisah Pilpres 2004 tahun 2004 seorang calon Menko membayar Rp 500 milyar via JK namun akhirnya malah "ditilep" oleh si Daeng Ucu ini separuhnya) dan keluarga wakil Presiden mendapatkan proyek2 pemerintah.

Hanya dengan cara itu, menunjuk koordinator perekonomian yang paham ajaran Trisakti Bung Karno, barulah Gadis dan PDI Perjuangan dapat membangun pemerintahan yg bersih, bebas KKN dan menjalankan cita2 ayahandanya soal Trisakti. Namun, sekali lagi, Itu mungkin terhadi jika Gadis sungguh2 mencintai ayahandanya. Memang betul peringatan ayahanda Gadis dahulu: "perjuangan generasi masa datang akan jauh lebih sulit karena melawan kaum sebangsamu" (Subandi, pemerhati politik dan peneliti bebas)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



News Feed

loading...

Baca juga


Loading...