19 February 2020

Tradisi Unik Berpuasa, dari Muslim di Rusia sampai Antartika

KONFRONTASI  -   Saat Ramadhan tiba, ragam kuliner menjadi salah satu yang paling ditunggu di Indonesia. Sebut saja kolak pisang, es buah, dan banyak lagi menu berbuka lain yang hanya bisa ditemui di bulan suci ini. Faktanya, tak hanya di Indonesia. Negara-negara lain juga punya tradisi seputar kuliner selama bulan suci Ramadhan. Bahkan, ada banyak tradisi lain yang juga jadi pembeda Ramadhan dengan bulan-bulan lainnya yang bisa menginspirasi. Lalu, bagaimana serunya Ramadhan di belahan bumi lain? Berikut ulasannya.

 

1. Rusia

 

Puasa di negeri beruang putih ini berlangsung sekitar 17 jam sehari. Saat Ramadhan, hampir seluruh masjid di sana menggelar bazar dadakan. Mereka biasanya menjual buku-buku islami, suvenir, minyak wangi, dan kopiah. Berbuka puasa di Masjid Yarman, sebelah utara Moskow sangat menyenangkan. Sebab, umat islam di sana hampir selalu berkumpul di setiap waktu shalat.

 

Umat Muslim di New York, Amerika Serikat menggelar shalat berjamaah di jalan dekat Trump Tower di the Fifth Avenue, New York, usai berbuka puasa bersama, Kamis (1/6/2017) waktu setempat. (JEWEL SAMAD)

Umat Muslim di New York, Amerika Serikat menggelar shalat berjamaah di jalan dekat Trump Tower di the Fifth Avenue, New York, usai berbuka puasa bersama, Kamis (1/6/2017) waktu setempat. (JEWEL SAMAD)

 

2. Amerika Serikat (AS)

 

Muslim di AS bisa puasa hingga 15 jam sehari, atau bahkan lebih. Kolak dan es buah mungkin menjadi hal yang mustahil ditemui di sana sebagai menu berbuka. Kebiasaan mereka adalah tetap melahap hotdog dan hamburger sebagai menu iftar. Akan tetapi, mereka biasa menyediakan kurma sebagai pembuka sebelum menu utama. "(Kebiasaan di AS adalah) setiap keluarga di sana pasti membatalkan puasa mereka dahulu dengan kurma, setelah itu baru (mereka) akan memakan hidangan yang lain," ujar Duta Besar AS untuk Indonesia Robert O Blake kepada Antara ketika ditemui di @america, Jakarta, seperti ditulis Kompas.com, Sabtu (4/6/2016). Pembeda lain dengan di Indonesia adalah tidak adanya kumandang azan maghrib. Selain itu juga tidak ada suara kentungan, beduk, dan penanda sahur atau pun imsak.

 

3. Pakistan

 

Hampir seluruh masjid di Pakistan menggelar acara buka bersama dengan menu andalan chawal briyani (nasi briyani). Sementara untuk hidangan pembuka, muslim Pakistan selalu menyajikan makanan tradisional ala sub-kontinen, yakni pakoura dan samosa. Mereka juga gemar meminum jus, mengingat panasnya cuaca di negeri tersebut. Minuman paling favorit di sana adalah jus buah falsa.

 

“Falsa bisa mengurangi panas dan asam lambung, serta membantu memperlancar pencernaan,” ujar Mohammad Shoaib, salah seorang warga Pakistan, seperti dikutip dari tayangan “Kompas Dunia” di KompasTV  pada pekan lalu. Kemudian menjelang akhir Ramadhan, seluruh masjid menyelenggarakan Sabina—mengkhatamkan Al-Quran—yang dibaca dalam shalat tarawih selama tiga hari menjelang bulan puasa berakhir. Sebuah pasar di Pakistan sudah dipenuhi pedagang kurma menjelang bulan suci Ramadhan tahun ini.(ASIF HASSAN / AFP)

Sebuah pasar di Pakistan sudah dipenuhi pedagang kurma menjelang bulan suci Ramadhan tahun ini.(ASIF HASSAN / AFP)

 

4. Palestina

 

Di kota tua Yerussalem, warga Muslim Palestina biasanya memadati gerbang Damaskus untuk berbelanja beragam makanan yang menjadi santapan khas saat berbuka. Lentera dan lampu-lampu juga akan terlihat menghiasi lorong menuju Gaza. Diberitakan Antara, masyarakat Gaza umumnya mengonsumsi makanan yang tidak terlalu berat, seperti keju, telur, dan kurma, saat sahur, yang mereka sebut "Al Sohoor". Makanan tradisional seperti maqlooba (daging dan sayuran yang digoreng beserta nasi), musakhan (ayam panggang pada roti taboon yang dilengkapi dengan potongan bawang, rempah-rempah, dan kacang pinus), maftool, dan fatta biasa dihidangkan saat berbuka puasa. Selama Ramadhan, warga Muslim Gaza selalu berkumpul saat waktu ibadah.

 

Masjid Al-Aqsa menjadi ramai dan dipenuhi oleh orang yang terus berdatangan untuk beribadah.

 

5. Turki

 

Turki memiliki tradisi unik saat berbuka puasa. Hampir semua restoran di sana menawarkan hidangan yang sama untuk berbuka. Menu yang sering dihidangkan saat berbuka di Turki adalah “Iftariye”, yaitu sebuah hidangan pembuka yang komposisinya terdiri atas kurma, zaitun, keju, pastirma, sujuk, roti pide, dan berbagai kue-kue yang disebut “borek”. Semarak Ramadhan di Turki juga bisa dibilang mirip seperti di Indonesia. Hampir di setiap jalan dan masjid terang dengan lampu-lampu khas Ramadhan Timur Tengah. Tak hanya itu, warga Turki juga menggelar tradisi “Meja Bumi” atau “Meja Bundar” saat Ramadhan tiba. Tradisi ini sudah dimulai sejak 2013. Kompas.com, Minggu (28/05/2017) menulis, jamuan malam amal Ramadhan itu berlangsung di Jalan Istiklal, Istanbul, pada Sabtu (27/5/2017) malam untuk menandai buka puasa pertama. Suasana saat buka puasa di Istanbul, Turki(Pinterest)

Sekitar 500 orang mempersiapkan makanan di rumah dan membawanya ke meja lantai raksasa di Istiklal, pedestrian di pusat kota Istanbul.

Suasana saat buka puasa di Istanbul, Turki(Pinterest)

 

Lalu, para pejalan kaki diundang bergabung ke "Meja Bundar", yang dimulai dari bagian tengah jalan tersebut dan membentang ke Taksim Square. Ramainya suasana ini tentu menarik perhatian turis lokal dan internasional. 6. Jepang Roti kesukaan Doraemon, yakni dorayaki, menjadi hidangan favorit masyarakat Muslim di Jepang saat berbuka. Dorayaki, kue tradisional Jepang.(CNN) Sementara itu, salah satu masjid di sebelah selatan Tokyo, Masjid Jami Yoyogi, menjadi tempat menarik untuk menanti waktu berbuka. Saat Ramadhan juga ada agenda reguler yang diadakan oleh sebuah komunitas Muslim di Jepang. Wisatawan muslim mancanegara biasanya datang mengunjungi mereka.

 

7. Antartika

 

Pada dasarnya, lingkar kutub selatan hanyalah mencakup benua Antartika dan sekitarnya yang bukan tempat hunian permanen bagi manusia. Namun, jika ada umat Muslim yang kebetulan berpuasa di sana, mereka harus mengandalkan aplikasi khusus sebagai pengingat waktu shalat, berbuka, dan juga sahur.


 

 

Sebab, seperti halnya wilayah Kutub Utara, Antartika mengalami penyinaran matahari yang ekstrem. Di kedua kawasan ini, khususnya pada musim panas, terdapat hari-hari saat matahari terus terlihat di atas cakrawala selama 24 jam penuh. Istilahnya matahari tengah malam atau siang kutub. Penginapan tersebut terdiri dari enam sleeping pods berbentuk igloo (rumah adat berbentuk kubah), masing-masing berdiameter 7 meter. Semuanya memiliki penghangat udara, kasur dan selimut tebal, juga air panas untuk mandi.

Penginapan tersebut terdiri dari enam sleeping pods berbentuk igloo (rumah adat berbentuk kubah), masing-masing berdiameter 7 meter. Semuanya memiliki penghangat udara, kasur dan selimut tebal, juga air panas untuk mandi.(WHITE DESERT)
 

 Di luar negara-negara tersebut, ada banyak lagi cerita yang bisa didapat untuk mengisi dan menginspirasi selama bulan puasa. Tak perlu datang langsung ke sana. Dengan bantuan perkembangan teknologi, Anda bisa mendapatkan ceritanya meskipun sedang berada di rumah. (Jft/Kompas)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...