11 December 2018

Sungai Citanduy Surut, Kendaraan Lapis Baja Sisa Penjajahan Belanda Kembali Terlihat

KONFRONTASI -  Kendaraan lapis baja sisa penjajahan Belanda yang selama ini terendam air dan pasir, kembali terlihat, saat air Sungai Citanduy surut tajam dan airnya jernih. Belum dapat dipastikan apakah kendaraan lapis baja tersebut berupa panser, tank atau lainnya.

Musim kemarau diikuti dengan debit air Sungai Citanduy surut tajam,  menjadi tempat bermain dan berenang anak-anak. Lokasi kuburan kendaraan lapis baja yang hanya terlihat sebagain kecil itu berada di Lingkungan Parungsari, Kelurahan Karangpanimbal, Kecamatan Purwaharja, Kota Banjar.

Informasi yang dihimpun, Rabu, 10 Oktober 2018, kendaraan lapis baja tersebut ditemukan pada tahun 2011. Bermula ketika ada enam tukang rongsok menggali pasir. Mereka melakukan hal itu setelah mendegar cerita bahwa disekitar tempat tersebut ada kendaraan lapis baja sisa peninggalan penjajahan Belanda.

Setelah beberapa saat menggali, mereka terkejut ketika melihat logam yang dipercaya kendaraan lapis baja yang tengah dicari. Hanya saja penggalian tidak diteruskan, karena hanya baru empat hari, air Sungai Citanduy yang semula surut, debitnya kembali naik hingga temuannya kembali tertimbun pasir.

“Ketika baru menemukan lapisan baja, air Sungai Citanduy kembali naik. Air naik yang pertama kotor, temuan kembali hilang tertimbun lumpur. Tidak setiap musim kemarau lapis baja terlihat, sekarang air surut tajam dan airnya jernih sehingga kembali terlihat,” tutur Otang (64) warga parungsari yang tidak jauh dari lokasi temuan.

Dia mengungkapkan Tahun 2012 kendaraan tersebut kembali terlihat. Bahkan lokasi tersebut menjadi temoat anak-anak bermain dan berenang. Mereka berdiri di atas bagian kendaraan lapis baja yang terendam air.

“Waktu itu juga lempengan baja bagian atas kembali terlihat. Itu pun tidak berlangsung lama, karena keburu datang hujan. Waktu itu ratusan orang penasaran ingin melihat, mirip tempat wisata dadakan. Tahun ini kembali terlihat, mungkin juga tidak bakal lama karena muncul tanda-tanda bakal hujan,” katanya.

Upaya melarikan diri

Otang yang didampingi Hermanto, warga lainnya, mengungkapkan versi yang berkembang berkenaan keberadaan kendaraan lapis baja yang terendam di Sungai Citanduy. Kendaraan  tersebut dipercaya sebagai  panser milik penjajah Belanda. Kendaraan tersebut digunakan dalam upaya melarikan diri ketika terjadi pertempuran  di wilayah Desa Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis.    

“Orang tua saya dulu pernah bercerita, kendaraan tersebut panser, bukan tank, karena bagian rodanya bukan besi tetapi ban atau karet. Waktu itu para pejuang berhasil mengejar panser yang kehabisan bahan bakar,” ungkapnya.

Sebelumnya kendaraan berada di sekitar batu Engko sekitar 300 meter arah hulu dari tempatnya saat ini. Seiring perjalanan waktu, kendaraan tersebut terbawa banjir Sungai Citanduy.  

Versi lain, tambahnya, tank milik Belanda hendak melarikan diri saat peperangan di kecamatan pamarican. Untuk menghentikan rencana tersebut, akhirnya jembatan Sungai Citanduy sisi sebelah selatan dihancurkan, hingga tank terjun ke Sungai Citanduy.

“Diterjang banjir, terus bergeser hingga lokasi saat ini. Dulu waktu masih kecil, saya bersama teman juga sering bermain di atas bangkai panser yang sebagian besar tertimbun pasir. Sebelumnya pernah ada upaya kembali menangkat, tetapi gagal,” katanya.

Sementara itu Hermanto berharap agar instansi terkait berupaya kembali mengangkat kendaraan lapis baja. Setidaknya hal itu kendaraan tersbeut juga saksi bisu masa pejuang melepaskan diri dari belenggu penjajah Belanda.

“Apabla berhasil diangkat juga dapat dijadikan koleksi museum.Dapat kendaraan tersebut  dipajang di Taman Kota atau tempat lain. Ini menarik, karena banyak generasi sekarang yang tidak mengetahui sejarah kendaraan tersebut,” tutur Hermanto(Juft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...