18 July 2019

Seriuskah Trump Menyerang Iran, Atau Hanya Gertak Sambal Semata?

KONFRONTASI -  Pada tulisan lalu ada memposting : Beranikah AS Menyerang Iran dan Permainan Catur Rusia?  , namun akhir-akhir ini Trump mengirim 1500 persnil militer ke Timur Tengah, mengklaim untuk melindungi pasukan yang ada.

"Kita ingin memiliki perlindungan di Timur Tengah, kita akan mengirimkan sejumlah kecil pasukan," kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih sebelum naik pesawat ke Jepang. "Sebagian besar protektif. Beberapa orang yang sangat berbakat akan pergi ke Timur Tengah sekarang. Dan kita akan lihat caranya - kita akan lihat apa yang terjadi."

Tapi menurut pejabat pertahanan AS kemudian mengklaim bahwa jumlah sebanarnya hanyalah 900 personil dan sisanya 600 personil di kawasan ini akan diperbesar.

Pada Kamis pejabat Menhan AS Patrick Shanahan membantah laporan yang mengatakan 5 ribu hingga 10 ribu personil militer akan dikirim untuk mempertahankan diri dari ancaman potensial dari Iran.

Apakah militer AS mengerahkan pasukan besar-besaran untuk konflik militer? Apa yang lebih aneh adalah bahwa AS ingin mencari bantuan dari Rusia melalui situasi di Suriah.

 

Namun apa maksudnya? Pada saat situasi sensitif, gugus tempur kapal induk USS "Ronald Reagan" AS meninggalkan Jepang menuju ke perairan Iran.

Para ahli Rusia mengatakan bahwa Iran dapat memproduksi bom nuklir dalam waktu satu tahun, dan "Angkatan Bersenjata Houthi", yang memiliki hubungan dekat dengan Iran, juga mengancam akan melancarkan serangan terhadap 300 sasaran militer penting di masa depan.

Manuver AS ini tampaknya akan mempercepat panasnya situasi dengan Iran, akankah militer AS benar-benar akan bertempur dengan Iran atau tidak?

Memang situasi AS-Iran belakangan ini terus berubah sepanjang waktu, Trump mengatakan meningkatkann personil militer 1500 untuk melindungi pasukan yang ada. Adapun berita bahwa peningkatan 10.000 tentara sebelumnya masih menyesatkan.

Pada saat yang sama, Trump juga mengumumkan penjualan senjata ke Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Yordania. Media Rusia di sisi lain mengatakan bahwa selama Iran berniat membuat senjata nuklir maka dalam setahun akan jadi. Dan angkatan bersenjata Houthi yang punya hubungan dekat dengan Iran juga mengklaim bahwa operasi militer saat ini terhadap fasilitas minyak Saudi hanyalah permulaan, dan masa depan mereka dapat meluncurkan serangan terhadap 300 target militer yang penting lainnya.

Menurut sumber-sumber dari Gedung Putih pada 23 Mei, Pentagon mengajukan rencana untuk menambah jumlah pasukan di Timur Tengah ke Gedung Putih, dengan peningkatan hingga 10.000. Memperkuat pertahanan melawan "potensi ancaman" Iran.

Trump mengatakan pada 23 Mei bahwa dia tidak berpikir perlu mengirim lebih banyak pasukan ke Timur Tengah sebagai tanggapan atas "ancaman Iran."

Namun, Penjabat Sekretaris Pertahanan Shanahan membenarkan bahwa Pentagon mempertimbangkan untuk menambah lebih banyak pasukan untuk memperkuat "pertahanan" militer AS di kawasan tersebut.

Associated Press menganalisis pada 23 Mei bahwa jika AS memutuskan untuk mengirim lebih banyak pasukan ke Timur Tengah, itu berarti Trump mengubah sikapnya terhadap Iran.

Saat ini, AS dapat mengerahkan pasukan di seluruh Timur Tengah, termasuk dari pangkalan militer AS di negara-negara tetangga Iran, total sekitar 50.000 orang. Kata pengantar Trump tidak membuat keputusan tentang hal ini, semua ini mencerminkan psikologi AS? Yang jelas AS akan menambah pasukan di Timteng 10.000 adalah tidak konsisten dan kontraditif.

Ini mencerminkan ada kontradiksi besar antara para pejabat tinggi AS dan apakah mereka benar-benar akan menyelesaikan masalah menggunakan kekuatan melawan Iran, berkaitan dengan hal ini dalam internal elit AS sebenarnya terbagi beberapa faksi kekuatan bukan hanya dua faksi.

Salah satu faksi garis keras adalah Menlu Pompeo termasuk asisten keamanan nasional John Bolton, mereka ini faksi keras yang berulang kali menyerukan ancaman perang ini.

Tetapi ada pihak lain termasuk Trump dan Shanahan, yang umumnya merupakan tipe "tersembunyi". Meskipun beberapa ancaman teriakan perang juga dikeluarkan,  tetapi dalam hal tindakan, termasuk ekspresi, relatif tersirat, seperti Perang Teluk 1991, ratusan ribu tentara AS dimasukkan ke kawasan terkait.

Saat Perang Irak ada dua atau tiga ratus ribu dan cendrung terus terjadi proses peningkatan pasukan secara bertahap. Jadi pada saat itu kita bisa melihat sejumlah pesawat komersial sipil yang digunakan untuk mengangkut pasukan AS ke garis depan bukan dengan pesawat militer.

Sejauh ini, kita melihat bahwa adegan seperti ini belum muncul, dan lebih banyak mobilisasi adalah pembicaraan kosong. Selama ini hanya teriakan-teriakan menggertak untuk menekan dari area negara-negara pinggiran Iran. Namun, apa benar-benar akan "berkelahi" di daerah ini, saat ini sinyalnya masih sulit untuk mencerminkan adegan seperti itu.

Lalu apa tujuan Trump bergembar gembor untuk mengirim pasukan 1500 untuk melindungi pasukan yang sudah berada disana?

Kehadiran militer AS di Timur Tengah, termasuk seluruh kawasan Asia Barat secara historis, sering ditandai oleh fakta bahwa jumlah pasukannya terus meningkat. Pertama, unit-unit kecil dikirim, tapi pada akhirnya, unit kecil ini dikatakan tidak aman, dan selanjutnya dikirim lagi pasukan ke daerah di mana unit-unit kecil itu berada, dan daerah-daerah sekitarnya,  sekali lagi meningkatkan pasukan mereka. Setelah itu, mereka meningkatkan pasukan di berbagai titik, dan unit-unit besar didatangkan.

Tapi kali ini, yang disebut peningkatan pasukan jelas dimobilisasi di luar Komando Pusat AS dan dipindahkan ke kawasan tersebut.

Tapi apa yang dilakukan premis itu? Itu dikatakan untuk mempertahankan pangkalan militer AS dan fasilitas militer setempat, bukan untuk memulai operasi penyerangan dari darat terhadap Iran. Sekalipun ada rencana perang melawan Iran di dalam militer AS, hal itu tentu saja bukan penggunaan pasukan darat. Sebaliknya, akan dilakukan serangan udara, bahkan jika sejumlah kecil pasukan darat dikirim, itu juga merupakan panduan pengintaian darat. Pasukan darat yang memimpin pemboman ini sama seperti pada hari-hari awal perang Irak, dalam proses perang Suriah melawan "ISIS".

Jadi kedatangan 1.500 orang ini, jika benar akan menjadi bagian dari ekspedisi akan terdiri dari Korps Marinir atau bagian dari pasukan khusus. Tetapi ini tidak berarti bahwa ada rencana untuk meluncurkan perang darat melawan Iran.

 

 

 

Apakah pengiriman 1.500 pasukan  mungkin merupakan awal dari rencana 10.000 pasukan kelak?

Bagi pengamat hal ini sulit untuk menyatukan keduanya, karena saat ini hanya sebuah sumber informasi. Dan datang dari berbagai tempat komando, 10.000 personil ini pada saat mengirim pasukan ke Yordania, dan dalam konteks itu keluarlah angka 10.000 untuk rencana ini. Dan sekarang ada 1.500 personil, jadi apa hubungan di antara kedua ini, mungkinkah 1500 orang ini keluar sebelum meningkatkan 10.000 pasukan mereka. Ini membutuhkan pengamatan lebih lanjut.

Jika memang betul pengiriman 1500 pasukan, maka kita sekarang dapat memahaminya seolah-olah itu hanya bagian dari rencana 10.000 pasukan. Jika ini masalahnya, maka bagian pertama mungkin sangat elit. Lalu, apakah mungkin kemudian akan ditambah, dengan cara apa menambahkannya, dan di negara mana personil-personil ini dibagikan, ini sangat menarik untuk diamati.

Karena sekarang AS sendiri, jika mengikuti kerangka yang ada, penempatannya di Timur Tengah sudah merupakan kawasan yang relatif besar. Itu dikarenakan hasil akumulasi bertahun-tahun, jika kita mengatakan bahwa pasukan AS sekarang yang ditempatka di kawasan Timteng berjumlah 50.000 personil seperti apa yang diberitakan media Inggris.

Maka bagian terbesar adalah di "Barak Doha" Kuwait yang telah berada disana bertahun-tahun, pasukan AS memiliki akomodasi yang baik di tempat ini. Dan memungkinkan memuaskan militer AS berskala besar serta melakukan penambahn personil untuk selanjutnya.

Yang kedua, distribusi yang lebih besar adalah di Bahrain, karena lokasi Komando Armada Kelima AS di Bahrain, saat sekarang dalam jumlah normalnya adalah 7.000 personil.

Yang ketiga, adalah Qatar Pusat Komado AS, disini terdapat lebih dari 10 ribu pasukan. Jika ditambah dengan yang ada di Arab Saudi terdapat pangkalan militer AS "Pangeran Sultan" disini terdapat 30 hingga 40 ribu pasukan yang ditempatkan dalam jangka panjang.

Namun mengapa di Yordan kali ini pasukan ditambah? AS juga memiliki pangkalan militer disini. Selain itu AS juga memiliki pangkalan militer di Turki, Irak, sehingga AS untuk menambah penempatan pasukan hingga 50.000 pun tidak akan ada masalah.

Maka jika sekarang AS menambah 10 ribu pasukan, hal itu tidak ada perubahan yang substansial dalam perbandingan dengan pasukan Iran. Dan tampaknya itu tidak masuk akal jika akan merubah situasi.

Karena ini adalah langkah yang sangat kecil, sehingga ada kemungkinan bahwa AS akan sangat terjerat ketika datang pada saat ini, manuver ini tidak membawa efek apa-apa. Jika mengharapkan Iran menjadi lunak, itu juga tidak. Jadi tujuan AS untuk menkekan Iran agar mau duduk di meja perundingan atau Trump mengharapkan Rouhani menelpon dia, namun ketika itu tidak pernah terjadi. AS juga tidak bisa mundur dari penambahan militernya.

Kini Trump mau tidak mau harus terus maju tidak bisa mundur, hanya saja langkahnya tidak bisa besar. Maka yang kini dia kejar 10.000 personil dan ini tampaknya mencerminkan keterikatan dan rasa malu.

Selain melakukan peningkatan pasukan, Trump juga mengumumkan penjualan senjata senilai $ 8,1 miliar ke Arab Saudi dan negara-negara lain. Dalam sehari, Trump menerbitkan dua pesanan. Apa yang ingin dia lakukan?

Dilaporkan bahwa Senator AS Chris. Murphy memperingatkan pada 22 bahwa Presiden AS Trump mungkin telah menggunakan "ambiguous loopholes/celah-celah hukum" dalam undang-undang AS yang relevan untuk meningkatkan ketegangan di Iran dan menelikung situasi dari sebelumnya.

Karena "Perang Yaman" AS menunda penjualan lebih banyak senjata kepada tentara Saudi, itu tidak mengejutkan. Pada 24 Mei lalu, ketika mengumumkan peningkatan 1.500 pasukan ke Timur Tengah, Trump menjual persenjataan US$ 7 miliar ke Arab Saudi, UEA, dan Yordania., dan kemudian Menlu AS Pompeo mengirim surat yang mengatakan bahwa karena keadaan darurat, senjata harus dijual segera untuk menangani dampak buruk Iran di seluruh Timur Tengah.

Apa perhitungan AS secara "sembunyi-sembunyi" menjual senjata kepada Arab Saudi, UAE dan Yordan senilai US$ 8,1 milyar, sinyal apa yang terdapat dalam manuver ini?

Ini menunjukkan bahwa AS saat ini sudah berada di seluruh Timteng, sebenarnya dapat dikatakan bahwa AS sedang berkonfrontasi dengan tegang terhadap Iran dan ini telah berlangsung dalam waktu yang lama. Termasuk kemungkinan untuk melakukan serangan militer berikutnya. Jika hal itu terjadi negara-negara ini bisa dibebani dengan tugas yang sangat penting dan langkah ini dapat dilihat dalam tingkat yang lebih besar.

Seperti Arab Saudi selama ini telah mendapatkan banyak bantuan AS beberapa tahun terakhir ini, termasuk pengadaan rudal pertahanan udara.

Tapi Arab Saudi tidak hanya mengambil garis lurus, kecuali membeli sistem rudal pertahanan udara AS "THAAD" , tetapi juga membeli sistem rudal pertahanan udara buatan Rusia S-400, selain itu juga berminat membeli rudal pertahanan udara buatan Israel "Iron Dome."  Alasan utama Arab Saudi karena kekuatan tempurnya terlalu lemah, maka filosofinya jika diserang lawan yang penting bertahan dulu, bukanlah memiliki  konsep offesif. Semua pihak dapat melihat ini dengan jelas.

UAE justru menjadi penting bagi AS dengan menjual kepadanya dua macam alutsista dalam dua tahun ini. Pertama alutsista ofensif berupa F-16 dalam jumlah besar, jadi jika kelak terjadi menyerang Iran, tempat ini akan menjadi sangat penting, karena keadaan sekarang F-35 tidak ada di posisi ini. Kelak jika F-35 AS digabungkan dengan ditempatkan disini, tempat ini bisa digunakan untuk pemicu menekan Iran.

Posisi UAE menjadi tempat sangat penting untuk menekan Iran, perlu memberinya persetujuan menjual rudal ofensif AS, dan juga menjual rudal pertahanan udara sistem "THAAD."

 

 

 

Yordan juga penting bagi AS, mengkilas balik pada tahun 2003, ketika AS menyerang Irak, posisi ini menjadi start penyerangan ke Irak. Pangkalan di Yordan menjadi sangat penting saat itu ketika mulai menyerang Irak. Juga kini penyebaran pasukan sebagian diambil dari sini.

Menlu AS Pompeo menyata keadaan dalam situasi darurat, jadi AS perlu dan tidak ada jalan lain harus turun tangan, namun keadaan darurat apa yang dimaksudnya?

Isu "Ancaman Iran" terus dibesar-besarkan. Dan kita tahu Trump ketika  mengunjungi Arab Saudi, dia menandatangani penjualan alutsista sebesar  US$ 200 miliar, setidaknya akan berkembang menjadi US$ 300 miliar di masa depan, tetapi setelah Kashoggi terbunuh, penjualan alutsista besar-besaran terhenti.

Pada saat ini, "ancaman Iran" datang. Tentu saja, "ancaman Iran" ini adalah "ancaman Iran" yang dibesar-besarkan AS. Dengan alasan ingin mempersenjatai sekutu yang paling penting di GCC: Arab Saudi, UAE, Yordan dengan menjual alutsista US$ 8,1 miliar keduanya untuk menemani Arab Saudi. Arab Saudi sebenarnya memiliki kekuatan militer paling kuat di antara GCC.

Trick Trump membesar-besarkan "ancaman Iran" untuk memanfaatkan tiga negara sekutunya di GCC, selain untuk memperkuat posisi dan eksitensi mereka di kawasan tersebut dengan menjual alutsista kepada mereka dalam menghadapi "ancaman Iran". Manuver ini selain untuk memperalat mereka yang terpenting adalah menual alutsista AS.

Maka sangat tampak sekali ketika Trump mengunjungi Arab Saudi, yang ditemani menantunya dan pejabat senior AS akhir-akhir ini , dia menunjukkan katalog alutsista yang bisa dibeli Arab Saudi. Jadi penjualan senjata adalah tujuan dan sarana.

Yang dimaksud dengan tujuan adalah cari duit dan keuntungan. Dan Sarana adalah untuk mengenkang ekspansi pengaruh militer Iran di kawasan ini. Dan menuver ini telah menghasilkan US$ 200-300 milyar dengan penjualan senjata dari uang minyak negara-negara Timteng. Jadi bak melempar satu batu mengenai dua burung.

Reaksi Rusia

Pada saat AS bermanuver, media Rusia mengatakan: Jika Iran menghendaki dalam setahun sudah bisa menghasilkan senjata nuklir. Selain itu "angkatan bersenjata Houthi" yang terkait erat dengan Iran juga mengklaim di masa depan mereka mungkin kan meluncurkan serangan terhadap 300 target militer penting.

Menurut laporan media Rusia, Presiden AS Trump mengatakan dalam sebuah wawancara dengan Fox News pada 20 Mei bahwa dia tidak akan membiarkan Iran membuat dan memiliki senjata nuklir, tetapi dia tidak ingin konflik.

"Saya bukan seseorang yang ingin berperang, karena perang merugikan ekonomi, perang membunuh orang yang paling penting -- itu yang paling penting," katanya.

("I'm not somebody that wants to go into war, because war hurts economies, war kills people most importantly - by far most importantly," he said.)

Pada hari yang sama, situs web surat kabar Rusia "The News" menerbitkan sebuah artikel yang mengatakan bahwa menurut Society of Nuclear Nuclear Research, bom nuklir membutuhkan uranium yang diperkaya dengan kemurnian setidaknya 90%. Sementara kapasitas industri Iran yang ada dan inventaris uranium sudah mencukupi, pakar Asosiasi Ekologi Sosial Rusia Andre percaya bahwa jika kapasitas produksi Iran sudah mencukupi, maka untuk meluncurkan program nuklir dalam satu tahun bukanlah masalah bagi Iran.

Namun, para ahli dari Pusat Penelitian Politik Rusia mengatakan bahwa Israel sebelumnya telah menetapkan "garis merah" untuk 20% cadangan Iran untuk mengurangi uranium lebih dari 240 kilogram pada 2012. Jika batas itu dilewati, mereka akan melancarkan serangan udara terhadap target Iran.

Pada 1981, pesawat tempur Israel menghancurkan serangan terhadap reaktor nuklir "Osirak" Irak. Pada 2007, menghancurkan reaktor yang sedang dibangun di Darfur, Suriah.

Menurut sumber lain, "Angkatan Bersenjata Houthi" yang terkait erat dengan Iran menyerang pipa minyak penting di Arab Saudi baru-baru ini, seperti yang telah dikemuka di depan.

Menurut laporan media Yerusalem, "Angkatan Bersenjata Houthi" mengatakan bahwa operasi militer terhadap fasilitas minyak Saudi hanyalah permulaan, dan di masa depan akan melancarkan serangan terhadap 300 target militer penting. 300 target ini termasuk Uni Emirat Arab, komando strategis penting dan fasilitas militer Arab Saudi dan pangkalan militer Arab Saudi di Yaman.

Jadi jika konflik Iran-AS meningkat, apakah Iran akan menluncurkan uji coba nuklir, dan apakah Isreal akan menindak Iran dan fasilitas-fasilitasnya?

 

Menurut analis dan pengamat mungkin sudah terlambat, karena ini mungkin tidak akan bisa dimulai dalam keadaan perang. Seperti yang kita ketahui, mengapa AS ingin memasang sepasang Bom GBU-57 pada pesawat B-2, Bom raksasa yang dapat "menembus bumi" akan menjadi percobaan untuk deterent.

 

AS ingin  menunjukkan ancamannya kepada Iran. Ini adalah gelombang pertama, kali ini tidak memainkan kekuatan militer seperti pada yang sudah-sudah. Jika benar terjadi penyerangan maka pertama yang akan dihantam dulu fasilitas nuklir bawah tanahnya dengan Bom GBU-57. Bukan fasilitas militer yang biasa seperti barak dan pusat militer atau pos komando pusat militer yang dihancurkan, melainkan fasilitas nuklirnya. Dan tidak menginginkan meninggalkan peluang untuk dapat bertindak selanjutnya.

 

 

 

Jadi dalam latar belakang situsi seperti ini, jika Iran mendefinisikan rencana perang maka akan dimulai program nuklirnya, tapi ini bukalah respons terhadap rencana militer, tapi respons pada tingkat politik. Artinya, jika AS menekan lagi, maka Iran bisa memulainya seperti ini.

Maka Departemen Pertahanan Iran pada 8 Mei lalu menyatakan memulai program nuklirnya kembali, kini mereka berada pada pengayaan 3,67% , maka perlu untuk ditingkatkan menjadi 4 kali lipat. Mereka mengancam jika kominitas internasional tidak memiliki sikap yang relevan dalam 60 hari, maka akan memulai program nuklirnya.

Batas 60 hari telah mulai memasuki hitungan mundur (8 Mei -- 8 Juli) jadi jika dalam periode waktu yang singkat ini, komunitas internasional tidak memiliki mekanisme yang sangat efektif, dan membingkai para pihak sedemikian rupa. Dan di bawah kerangka itu supaya jangan maju terus. Ini bukan untuk mengatakan bahwa masalah sepihak program nuklir Iran ditetapkan secara sepihak.

Hal ini tampaknya diperlukan untuk mencegah AS melakukan tekanan lebih lanjut di Teluk, karena tekanan terhadap AS itu sendiri mungkin tidak dapat dikendalikan, yaitu, berkali-kali kita tahu bahwa ketika aksi militer dipicu, itu terpaksa sepenuhnya tidak dapat diprediksi. Jadi dalam hal ini ada risiko garis bawah untuk kedua sisi masing-masing ada pemicunya. Jika sudah mencapai situasi demikian peningkatan situasi akan  tidak lagi didasarkan pada kehendak subyektif pihak tertentu.

Karena itulah kini banyak negara yang turun tangan, termasuk Rusia juga ingin bersetuhan. Kita lihat sekarang AS kontak dengan negara-negara Eropa, bahkan Pompeo berkunjung ke Irak. Dan Irak akan berkunjung ke AS selanjutnya ke Iran.

Bahkan PM Jepang, Abe juga akan mengunjungi Iran, hal ini tidak lain untuk keselamatan negara-negara mereka, yang pertama kali harus dipertahankan keamanan tentang minyaknya. Konsep nasionalnya bukan untuk mencegah rudal datang, melainkan bagaimana pengiriman minyaknya melalui laut bisa aman. Jika pengirim minyak melalui laut ke negaranya tidak aman, maka itu adalah ancaman terbesar.

Maka karena itulah banyak pihak yang mau ikut bertindak, pada saat ini sebenarnya ada ruang mekanisme untuk duduk berbicara antara Iran-AS, banyak pihak yang mengharapkan seperti itu.

Sistem Pertahanan Iran atau "Angkatan Bersenjata Sistem Iran."  (ABSI)

Kecuali kemampuan dirinya Iran memiliki beberapa sistem pertananan yang dapat membalas dengan kuat yaitu apa yang oleh pengamat disebut "Angkatan Bersenjata Sistem Iran."  (ABSI).

"Angkatan Bersenjata Sistem Iran."  (ABSI) adalah serangkaian angkatan bersenjata, bukan hanya satu kekuatan saja, pertama-tama milisi Syiah Irak, mereka dapat mengendarai tank tempur utama yang diperoleh dari AS, tetapi senapan mesin Iran dipasang pada tank tempur utama ini dengan amunisi Rusia, kekuatan ini dapat diperluas menjadi 250.000. Mereka mematuhi perintah dari "Pengawal Revolusi Islam Iran," jadi kali ini kita melihat bahwa AS sering berhubungan dengan Irak karena AS tidak dapat mengontrol pemerintah Irak karena kekuatan ini. Pasukan tank ini adalah kekuatan ABSI atau "Sistem Pertahanan Iran" terbesar.

ABSI kedua adalah "Angkatan Bersenjata Houthi" di Yaman, yang kini menguasai ibu kota Yaman, mereka ini telah berperang dengan tentara koalisi Kerajaan Arab Saudi beberapa tahun, tetapi belum memperlihat terkalahkan atau melemah. Bahkan mereka telah melakukan serangan rudal sebanyak 180 kali terhadap target koalisi Kerajaan Arab Saudi, terakhir dengan drone menyerang pipa minyak terbesar kedua terbesar Arab Saudi dengan terbang sejauh 800 km. Jadi mereka memiliki kemampuan yang tidak main-main. Ini juga menjadi "Angkatan Bersenjata Sistem Iran."  (ABSI) yang kedua.

ABSI yang ketiga adalah tentara "Hezbollah Libanon" dengan kekuatan sebanyak 15.000 pasukan untuk membantu pemerintah Bashar di Suriah. Mereka memiliki banyak pengalaman tempur dengan Israel sepanjang tahun. Jangan lupa militer AS yang ditempatkan di Beirut, Lebanon 36 tahun lalu. Korps Marinir AS diserang.

Saat itu Hizbullah ini yang diperintahkan untuk melancarkan serangan terhadap 243 Marinir AS yang tewas dalam serangan "bom manusia". Rudal masih bisa ditangkal dengan pertahan anti rudal, tapi sulit untuk menangkal "bom manusia".

ABSI yang ke-empat adalah Divisi Fatmiyan/ Fatemiyoun atau Divisi Serigala Harimau (Tiger Wolf Division) yang dibentuk Iran dari para pengungsi korban perang Afganistan yang beragama Islam Syiah, yang berjumlah 2 jutaan.

Awalnya divisi ini ditata dari detasemen kecil sukarelawan dan pengungsi yang dimobilisasi untuk mempertahankan tempat suci Sayyeda Zeinab di luar Damaskus, ukuran dan kehadiran formasi Fatemiyoun di Suriah perlahan-lahan meluas sepanjang perang. Di kampung halamannya, Satuan Pengawal Revolusi Islam/Islamic Revolutionary Guards Corps (IRGC) mulai menumbuhkan narasi "perlawanan" Afghanistan terhadap jihadisme Sunni transnasional. Bergabung dengan jihad Suriah semakin dipromosikan sebagai jalan untuk pengakuan hukum dan sosial di dalam Republik Islam pada saat ketika ribuan pemuda Hazara yang putus asa sedang bersiap untuk beremigrasi ke Eropa.

Menurut analisis asal-usul dan perluasan Divisi Fatemiyoun, perannya baru-baru ini dalam perang sipil Suriah, dan dampak jihad Suriah terhadap komunitas Hazara di Iran serta militan transnasional di Afghanistan.

Ketika konflik Suriah berakhir, masa depan Fatemiyoun sebagai kekuatan tempur masih belum jelas. Tetapi bahkan jika formasi itu akan dibubarkan, jaringan, narasi, dan kemampuan yang dikembangkan di Suriah dapat membantu IRGC meningkatkan formasi yang sama lagi di masa depan.

Iran telah mengorganisir orang-orang ini sebagai Divisi Fatemiyoun, dengan janji selama mereka mengungsi ke Timteng dan berjuang untuk kepentingan Iran, mereka akan mendapatkan rumah, gaji, kewargaraan Iran dan memberikan solusi pekerjaan bagi anggota keluarganya.

Karena kekuatan inilah AS tidak bisa menganggap remeh mereka, pasukan ini berada dibawah kendali Iran. Jika AS melancarkan perang terhadap Iran, urusannya bukan hanya dengan Iran saja, tapi juga harus berurusan dengan lebih dari sekedar Iran. Terutama jika berencana melakukan serangan daratan, maka AS harus berpikir berulang kali.

Karena jumlah total "Pengawal Revolusi Islam" Iran ditambah Pasukan Pertahanan Nasional Iran adalah sekitar satu juta (orang), ditambah ABSI. Angkatan bersenjata "Iran" yang disebutkan di atas ditambahkan  akan menjadi kurang lebih 690.000 orang, jika pasukan darat ini melancarkan serangan terhadap pasukan AS di beberapa lokasi, dan mereka menyerang pada saat yang sama, AS pasti akan kewalahan.

 

 

 

Selain itu, Iran sendiri memiliki sejumlah besar rudal jarak menengah dan jarak jauh. Maka seorang pengamat politik Iran mengatakan, jika AS berperang dengan Iran, perang AS tidak akan sebaik Iran.

Dia mengatakan: Persia telah berdiri ribuan tahun, sedang berapa lama AS berada? Selama ini semua agresor telah dikalahkan. Jika Anda AS memulai perang dengan kami, pikirkanlah. 36 pangkalan militer Anda berada di bawah pukulan balistik kami. Semua pangkalan militer ini yang ada di daratan berada di bawah ancaman angkatan bersenjata "Iran" kami (ABSI).

Oleh karena itu, kita bisa melihat selama ini ketika militer AS menggunakan kekuatan militer melawan Suriah. Namun, ketika militer AS menggunakan kekuatan militernya, semua orang memperhatikan bahwa mereka menghindari berhadapan langsung dengan "Pengawal Revolusi Islam" di Suriah atau Korps Pengawal Revolusi Islam Iran.

Sebagai contoh ketika Israel mengebom pangkalan Tikia. AS selalu seolah salah sasaran dengan menghindar menghantam pangkalan militer Iran. Selalu menghindar untuk menyerang langsung Pangkalan Iran di Suriah.

Oleh karena itu banyak analis dan pengamat yang memperkirakan kemungkinan AS akan menyerang Iran dari daratan akan sangat kecil sekali.(jft/Kompasiana0

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...