28 February 2020

Selamat Jalan Dek Nadila

KONFRONTASI -  Tiba-tiba badan merinding, batin tercekat usai membaca kisah seorang gadis belia yang memutuskan ingin mengakhiri hidup dengan terjun dari lantai 4 gedung sekolahnya, di daerah Cibubur, Jakarta Timur.
.
Gadis ini biasa disapa teman-temannya 'Nadila'. Usianya baru 14 tahun, dan duduk dikelas IX. Sebagai gadis menjelang usia remaja, pada dasarnya Nadila punya mimpi yang sama dengan teman-teman sebaya yang lain. Ingin menjadi murid yang berprestasi, berada di lingkungan pergaulan yang baik, dan punya saudara serta orangtua yang selalu siap berada di dekatnya kapan saja. Nadila pun punya cita-cita yang tinggi. Meski di sekolah prestasi akademiknya biasa-biasa saja, namun dia punya bakat yang luar biasa, yang tak semua orang seusia dia memilikinya.
.
Nadila punya bakat menggambar. Waktu luangnya sering ia pergunakan untuk menggoreskan pinsil di atas kertas, membuat sketsa wajah, juga karya-karya berbentuk anime sesuai karakter usianya. Mungkin dia bercita-cita ingin menjadi komikus handal kelak.

Namun mimpi Nadila seolah tak bisa terwujud seluruhnya. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini harus menerima kenyataan bahwa orangtuanya memutuskan bercerai. Lalu, beberapa bulan yang lalu, tepatnya Maret 2019, ibunya meninggal dunia. Nadila yang sepertinya sangat dekat dengan ibunya ini, seolah harus memaksakan diri untuk menahan sedihnya. Dia sangat kehilangan sosok yang menjadi panutannya. Batinnya tak siap, tapi harus menerima. Dan lagi-lagi, kerinduan pada sosok ibunya hanya bisa ia tuangkan dalam sketsa gambar...

Setelah ditinggal ibunya, sehari-hari Nadila pun tinggal bersama Ayah dan dua kakaknya. Tak ada yang tahu, bagaimana hubungan dia dengan keluarganya itu ? Hanya ia merasa, setelah ditinggal ibunya hidupnya semakin sepi. Dan keadaan semakin tak menguntungkan baginya, manakala teman-teman di sekolahnya pun seolah menunjukkan sikap yang tak respek padanya. Bullyan secara verbal, terasa dialami. Dan itu menumpuk di pikirannya dari hari ke hari.

Hingga suatu hari, Nadila merasa dirinya lelah di sekolah. Dia merasakan ada yang kurang enak di badannya. Saat istirahat sekolah, ia memberi tahu temannya ingin beristirahat sejenak di ruang UKS sekolah. Di ruangan itu Nadila tidur, sendirian. Berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Tidurnya cukup pulas...

Hingga ketika terbangun, ia mendapati sekolahnya sudah sepi. Ternyata saking lamanya dia tertidur di ruang UKS saat jam istirahat, tak sadar kalau waktu belajar di sekolahnya sudah habis. Nadila langsung menuju kelasnya, untuk mengambil tasnya yang tertinggal di sana. Tapi kelasnya pun sudah sepi, dan ia tak menemukan tasnya. Akhirnya didapati, kalau tasnya sudah disita oleh guru, yang marah karena Nadila tidak berada di kelas saat jam pelajaran sudah dimulai kembali. Guru itu baru bisa mengizinkan Nadila mengambil tasnya di hari besoknya, sambil ditemani orang tua...

Nadila pun panik. Ia membayangkan kemarahan ayahnya kalau sampai tahu dia mendapat hukuman di sekolah, dan harus mendatangkan orangtuanya ke sekolah. Pasti ayahnya akan sangat marah, bahkan tak segan-segan memukulinya. Di balik kepanikan itu, Nadila pun memendam rasa kecewa dan marah yang besar pula kepada teman-temannya di kelas. Gak ada satupun temannya, yang memberi tahukan ke guru, bahwa ia sedang sakit, dan sedang beristirahat di ruang UKS...

Entah, pikiran seperti apa yang menggelayut di benak Nadila saat itu. Mungkin ia merasa beban hidupnya sudah terlalu berat. Ia capek. Ia ingin istirahat selamanya. Ya, saat itu Nadila terpikir untuk mengakhiri hidupnya yang ia rasakan semakin sia-sia. Rencana yang sebetulnya sudah muncul di benaknya sejak lama. Setidaknya, dari goresan gambarnya, Nadila pernah menuliskan 'I want to die'.

Tanpa ragu, Nadila melangkahkan kakinya menuju lantai paling atas gedung sekolahnya. Dia berdiri di sisi salah satu tembok beberapa saat, memastikan tidak ada orang yang melihatnya. Lalu dia mengirimkan pesan untuk teman-temannya yang ia katakan sebagai 'salam perpisahan'. Di situ pun Nadila berani ungkapkan kekecewaannya. Dan ia sudah tak peduli lagi dengan apa kata teman-temannya. Yang ada di pikirannya adalah, segera lompat dari ketinggian bangunan sekolah. Tak ada yang bisa mencegah...

"Buuuuuuum....", sepersekian detik saja, tubuh Nadila sudah mendarat jatuh ke lapangan sekolahnya. Suaranya mengagetkan semua orang yang masih berada di sana. Mereka pun histeris melihat tubuh Nadila yang terluka parah dan bersimbah darah. Tak ada yang menyangka dengan aksi Nadila yang super nekat itu. Melihat Nadila masih bernafas, pihak sekolah segera membawanya ke rumah sakit terdekat. Namun karena penanganannya kurang maksimal, Nadila dilarikan lagi ke rumah sakit lain yang lebih besar. Sayang, usaha untuk menyelamatkan nyawa Nadila itu tak berhasil. Nadila akhirnya tak tertolong dan menghembuskan nafas terakhirnya. Dia benar-benar pergi meninggalkan keluarganya, teman-temannya, gurunya, dengan setumpuk rasa kecewa...

Peristiwa Nadila ini memang mengejutkan kita semua. Sontak saja, pembahasan tentang aksi bullying di sekolah kembali menyeruak. Meski pihak sekolah membantah bahwa Nadila korban bullying, namun nyatanya Nadila memutuskan untuk mengakhiri hidupnya, setelah mengalami kekecewaan yang luar biasa di sekolah.

Saya sendiri jujur saja, masih kurang percaya kalau ada sekolah yang bebas dari aksi bullying di antara murid-muridnya. Ini hampir terjadi di setiap sekolah, sudah menjadi budaya, dan sulit hilang. Mungkin di depan guru, mereka bisa terlihat baik dan biasa-biasa saja, namun kenyataan di baliknya, sungguh di luar dugaan. Serangan-serangan bully itu pasti tak terhindarkan. Dari yang main secara fisik hingga yang verbal, melalui ucapan-ucapan bernada kasar dan hinaan.

Namun saya tetap tak boleh pesimis, bahwa tindakan bullying di sekolah tak bisa dicegah. Dan ini tugas yang berat bagi pihak sekolah. Pun peran orangtua juga tak bisa lengah. Paling tidak, orang tua harus tahu tentang masalah anak-anaknya di sekolah. Harus bisa memahami 'tanda-tanda' yang ditunjukkan anak, apakah dia sedang baik-baik saja, atau malah sebaliknya. Orangtua juga mungkin harus mau menjadi teman curhat yang baik bagi anak, menjadi pendengar yang baik, dan tidak sering menghakimi anak dengan kata-kata yang menyalahkan. Anak itu tidak ada yang sempurna. Pasti ada sebagian sikapnya yang menuntut orangtuanya untuk banyak sabar. Tapi percayalah, anak yang tumbuh dalam pengawasan orang tua yang baik, dia tak akan sampai hati melukai perasaan orangtuanya, juga melukai dirinya sendiri..

Semoga kisah Nadila ini, bisa menjadi pembelajaran berharga untuk para orang tua, khususnya yang punya anak usia belia... Jangan ciptakan jarak yang jauh antara anak dengan orang tua. Dekatilah mereka, rangkul mereka, dan yakinkan bahwa mereka akan selalu merasa aman saat berada di dekat orang tua.

Selamat jalan dek Nadila (Jft/Red)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...