21 November 2018

Ratusan Pedagang di Bahu Jalan Pasar Kota Bojonegoro Mengeluh Seusai Direlokasi

KONFRONTASI -  Kamis malam (8/11/18), merupakan hari ketiga relokasi ratusan pedagang yang berjualan di badan jalan Timur Pasar Besar Kota Bojonegoro, Jawa Timur.

Pemerintah Kabupaten setempat telah memindahkan ratusan pedagang yang semula berjualan di sepanjang badan jalan ke dalam pasar, Selasa sore kemarin (6/11/18). 

Pasca dipindahkan, suasa di luar pasar sedikit sepi ketimbang malam-malam sebelumnya. Sebab, jika sebelumnya ada sekitar 300-an lebih para pedagang yang berjejer membuka lapaknya, kini dipindahkan ke dalam pasar yang semula digunakan untuk tempat parkir sepeda motor.

Mereka yang dipindahkan adalah para pedagang sayuran, ikan, dan aneka bumbu dapur. Sehari-hari mereka berjualan di sepanjang jalan Mastumapel yang lebarnya kurang lebih delapan meter.

Kondisi itu disebut pasar tumpah. Pedagang dan pembeli setiap hari 'tunggang langgang'. Namun situasi tetap kondusif. Selain itu, jalan tersebut masih tetap lancar, meski sedikit merayap warga yang melintas.

Pasar tumpah itu oleh warga bahkan dijadikan sebagai obyek wisata belanja setiap malamnya. Mulai pukul 17.00 WIB, ratusan pedagang sudah membuka lapaknya dan diserbu para pembeli, yang mayoritas ibu-ibu.

Menginjak malam pasar semakin ramai, hingga para pedagang tutup pada pukul 07.00 WIB pagi. Sementara siang hingga sore, bahu kanan-kiri jalan digunakan parkir.

Namun pada Selasa (6/11) kemarin, ratusan pedagang itu direlokasi oleh Pemkab Bojonegoro ke dalam pasar. Kebijakan yang dilakukan Bupati baru Bojonegoro, Anna Muawwanah sempat mendapat 'perlawanan' dari para pedagang.

Namun, ratusan pedagang itu harus pasrah. Puluhan Satpol PP dan Dinas Perhubungan turun tangan untuk menertibkan mereka. Dengan rasa kecewa, para pedagang harus menempati lapak baru di dalam kompleks pasar.

Relokasi itu dilakukan dengan dalih kembali memfungsikan jalan Mastumapel sebagaimana mestinya. 

"Kecewa ya jelas kecewa (dipindahkan, red). Tetapi mau bagaimana lagi, sudah didemo juga masih tetap tidak berhasil," Kata Aminah, salah seorang pedagang saat ditemui www.bangsaonline.com

Dia bercerita, jika sebelumya saat berjualan di sepanjang jalan, dagangannya laris dan cepat habis. Namun setelah dipindahkan, dagangannya sedikit sepi. Sebab, para pembeli kesulitan mencari lapaknya.

"Pembeli belum normal setelah dipindahkan ini. Bahkan jumlah pembeli terlihat menurun, tidak seramai sebelumya. Kalau jualan di jalan itu keuntungannya para pembeli tidak perlu memarkirkan sepeda motornya, tinggal berhenti dari atas motor sudah bisa beli ini itu.Tetapi sekarang harus parkir dulu. Itu mungkin yang bikin sepi," Jelasnya.

Bahkan, dia juga sempat membandingkan kepemimpinan bupati sebelumnya (Suyoto) dengan bupati saat ini (Anna Muawwanah). Kata dia, Suyoto selama sepuluh tahun memimpin Bojonegoro tidak mengusik para pedagang di timur pasar kota itu.

"Lha iya, bupati belum genap seratus hari aja sudah melakukan kebijakan seperti ini. Saya hanya bisa berharap semoga setelah pemindahan ini kami para pedagang tetap diperhatikan, mulai kebersihan, fasilitas, serta keamanan," ucapnya.

 

Meski banyak yang menolak, ada juga pedagang yang sepakat dengan relokasi itu. Sumi misalnya, dia menghormati kebijakan bupati Bojonegoro baru. Menurut dia, jika berdagang di badan jalan saat hujan akan kehujanan.

"Tetapi sekarang sedikit nyaman karena sudah ada atapnya. Sewaktu-waktu ada hujan tidak khawatir merusak dagangan saya," Kata pedagang sayuran itu.

Pantauan di lapangan, terlihat dua mobil Satpol-PP parkir di luar pasar, berikut anggota Satpol PP bersiaga hingga dini hari. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kembalinya para pedagang menggelar dagangannya di badan jalan. Selain itu juga mengantisipasi adanya keributan pasca pemindahan.(Jft/Bangsanline)

 
 
 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...