14 December 2018

Peredaran Obat Batuk Cair Harus Diawasi, Karena Sering Dipakai Teler Oleh Pelajar

KONFRONTASI -   Penyalahgunaan farmasi legal dalam bentuk obat batuk cair kemasan sachet marak terjadi. Tak sedikit dari kalangan remaja Kota Cimahi yang menyalahgunakan obat tersebut untuk mendapatkan efek mabuk dengan harga terjangkau.

Menurut Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Cimahi, Ivan Eka Satya, mabuk obat batuk cair menjadi tren di kalangan pelajar yang biasanya dilakukan pada saat jam pulang sekolah. Kandungan Dextromethorphane di dalam cairan obat batuk cair tersebut memiliki efek halusinasi dan membuat 'teler' atau 'fly'.

"Pengungkapan kasusnya kita belum ada tapi memang ada temuan dan informasi dilapangan ada hal seperti itu. Memang mereka menggunakan obat batuk tersebut memanfaatkan kandungan dextromethorphane yang dapat memberi efek mabuk-mabukan," ujarnya, Rabu 10 Oktober 2018. 

Untuk mendapatkan efek mabuk hingga halusinasi dan tak sadarkan diri dari obat batuk itu, para pelakunya biasa mengonsumsi 10 hingga 20 sachet yang diminum langsung bersamaan. Jika dikonsumsi berlebihan, bisa menyebabkan tidak sadarkan diri hingga kematian. Padahal obat tersebut umum ditemukan baik di apotek hingga warung tradisional. 

"Sebenarnya obat batuk kalau dikonsumsi secara legal kan tidak apa-apa. Bahayanya karena kandungan obat itu dextromethorphane turunan dari opium atau heroin meski sudah dilemahkan. Karena sering mengkonsumsi lama-lama jadi ketergantungan, kalau tidak mengonsumsi mereka bisa jadi panik," tuturnya.

Pihaknya berharap ada kebijakan yang mengatur mengenai batasan pembelian obat batuk cair atau produk farmasi lainnya yang mengandung dextrometorphan. “Kalau satu orang beli lebih dari lima bungkus, patut dicurigai. Kecuali kalau memang untuk dijual lagi, kan beda. Semoga ada aturan mengenai pembatasan pembelian,” ucapnya.

Sulit

Kepala Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Cimahi, Elly Herlia, mengaku bakal sulit melakukan pengawasan penjualan obat batuk tersebut di pasaran. Pemerintah sudah melarang dan menarik serta langsung memusnahkan produk obat dextromethorphane sediaan tunggal sejak 2014. "Sedangkan yang ada di dalam obat batuk cair tersebut merupakan sediaan campuran dan peredarannya tidak dilarang," ujarnya.

Dextrometorfan (DMP) digunakan sebagai bahan aktif sebagai obat pereda batuk (antitusif). Penarikan DMP dari pasaran karena memberikan efek permanen atau jangka panjang seperti perubahan suasana hati, kepribadian, dan memori, untuk penanganannya  membutuhkan tenaga psikiater yang dapat membantu mengurangi efek dari penyalahgunaan tersebut. Pihaknya mengaku baru mengetahui jika remaja sering menyalahgunakan obat batuk cair agar mendapat efek mabuk.  

"Kami juga kaget kalau anak sekolah yang ingin mabuk-mabukan mengulik kandungan obat dan menyalahgunakannya sampai sejauh itu. Tapi memang dulu banyak laporan tablet dextro dikonsumsi sampai 20 bahkan 30 pil biar efeknya lebih cepat terasa. Jelas ini sangat mengkhawatirkan," tuturnya.

Pengawasan resmi diberlakukan di tempat pelayanan obat di Kota Cimahi yang terdiri dari 74 unit ditambah klinik 46 unit dan 8 unit toko obat. "Namun, pengawasan kami bersama BPOM sebatas bagaimana obat tersebut didapat, apakah distributor resmi atau tidak. Soal banyaknya konsumsi obat tertentu hingga berpotensi disalahgunakan kebanyakan informasi dari masyarakat," ucapnya.

Apalagi, obat batuk cair tersebut mudah didapat di warung tradisional. Hal tersebut menjadi keuntungan bagi para remaja untuk mendapatkan obat tersebut dengan mudah dan disalahgunakan. "Kalau di apotek atau toko obat kan ada penanggungjawab teknis kefarmasian dan penjualan pun tercatat, jadi kalau ada yang beli berlebihan bisa dicurigai. Kalau di warung kan tidak, yang penting produk terjual," jelasnya.

Dari kasus ini, pihaknya bakal segera melaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dan BPOM untuk mengkaji ulang aturan jual beli obat batuk cair agar tak semakin disalahgunakan. "Dari Dinkes Cimahi juga akan terjun langsung ke lapangan, jika masyarakat menemukan kasus serupa agar melapor sehingga kami bisa memeriksa lokasi tempat para remaja berkumpul dan mengonsumsi obat seperti itu atau obat-obatan lainnya yang disalahgunakan," tuturnya.

Pihaknya juga menghimbau masyarakat tidak mengkonsumsi obat medis diluar pengawasan dokter. "Penyalahgunaan obat medis bisa mengakibatkan gangguan kesehatan dan membahayakan nyawa," tandasnya.(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...