29 May 2017

Para Korban Sodomi Ungkap Fakta Baru di PN Surabaya

KONFRONTASI -  Para korban sodomi akhirnya membuka semua borok  Triono Agus Widianto alias Aan pelaku pencabulan.

Ulah Aan semakin terkuak setelah kasus tersebut masuk ke persidangan. Siswa korban sodomi ternyata bukan hanya satu orang, melainkan empat orang.

Mereka sebelumnya tidak membeberkan semuanya karena takut dengan ancaman pelaku. Pengakuan tersebut merupakan fakta baru yang terungkap dalam sidang di Pengadilan Negeri Surabaya pada Kamis lalu (22/9).

Dalam sidang itu, tujuh korban pencabulan hadir dan memberikan kesaksian. Selain membeberkan semua keterangan sesuai berkas acara pemeriksaan (BAP), mereka mengungkapkan hal-hal anyar.

Berdasar data yang dihimpun Jawa Pos, pengakuan tersebut diucapkan empat di antara tujuh korban Aan. Ungkapan itu di luar perkiraan semua yang hadir dalam sidang tertutup tersebut.

Sebab, dalam penyidikan di Polsek Benowo, hanya ada satu korban yang mengakui disodomi. Keterangan itu pulalah yang tertulis dalam BAP yang dibawa jaksa ke persidangan.

Awalnya, hakim menggiring para korban untuk menceritakan perlakuan Aan. "Pemeriksaan sangat mengalir. Hakim pintar membuat suasana sidang sangat nyaman," ucap sumber tepercaya Jawa Pos.

Hingga pada akhirnya, hakim menanyakan adakah korban lain yang juga disodomi seperti pengakuan salah seorang siswa.

Dari sanalah, tiga siswa kemudian mengakui bahwa mereka mendapat perlakuan yang sama. Dengan begitu, ada empat korban sodomi.

Intensitas sodomi masing-masing korban berbeda-beda. Ada korban yang mengaku hanya dua kali disodomi. Ada juga yang mengaku sering sampai tidak ingat lagi berapa kali.

Yang jelas, setiap kali ke rumah Aan, korban selalu menerima perlakuan asusila itu.

Korban mengaku tidak berani melawan karena selalu diancam akan dipukuli. Hal itu sudah dibuktikan salah seorang temannya yang dipukul karena menolak dijamah.

Akibat sodomi itu, ada korban yang mengalami gangguan saluran pembuangan air besar. Tapi, aib tersebut disimpan rapat oleh korban. Dia tidak berani mengatakan kepada siapa pun.Saking takutnya, mereka tidak berencana mengungkapkan perlakuan itu kepada siapa pun.

Tapi, tiga korban itu luluh karena kelihaian hakim dalam menggali keterangan. Bahkan, orang tua mereka tidak mengetahui sebelumnya.

Mereka baru tahu hal tersebut saat mendampingi anak-anaknya sebagai saksi dalam sidang. Saking kagetnya, sampai ada orang tua yang menangis sesaat setelah mendengar pengakuan tersebut.

Fariji, pengacara Aan dari Lembaga Bantuan Hukum Lacak, saat dikonfirmasi mengatakan, kliennya tetap membantah telah menyodomi korban. Menurut dia, sejak awal Aan hanya mengakui menggerayangi.

"Melakukan kekerasan juga tidak," ucapnya.

Dia mempertanyakan balik bukti tuduhan sodomi terhadap empat korban tersebut. Fariji mengaku baru percaya jika ada visum yang menyebut bahwa mereka telah disodomi. Tapi, dia yakin bukti itu tidak ada. Dengan begitu, pengakuan adanya pencabulan melalui saluran pembuangan air besar patut dipertanyakan.

Di sisi lain, rencana Aan menghadirkan psikolog sebagai saksi yang meringankan akhirnya urung direalisasikan. Sebab, persidangan yang menghadirkan saksi sudah berakhir.

Jaksa kini sedang menyiapkan tuntutan yang akan dibacakan dalam sidang dua pekan mendatang. Dengan begitu, tidak ada lagi kesempatan untuk menghadirkan saksi.

Sementara itu, Irene Ulfa, jaksa yang menyidangkan perkara tersebut, menolak berkomentar mengenai hal tersebut. Dia meminta untuk menunggu sampai pembuktian selesai dilakukan.

"Nanti kalau putusan kan sidangnya terbuka. Dilihat saja," ujarnya.  (Juft/JPNN)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



News Feed

loading...

Baca juga


Loading...