15 December 2019

Nabi Yusuf dan Bal’am, 2 Contoh Berbeda Hubungan Ulama-Umara

KONFRONTASI  -  Alquran memerintahkan agar rakyat mematuhi Ulama dan Umara (pemimpin). Untuk itu, keduanya diharapkan bekerjasama dalam memajukan kehidupan rakyatnya. Dalam lintasan sejarah, terdapat beberapa peristiwa yang bisa dijadikan pelajaran untuk kehidupan negara-bangsa modern seperti saat ini.

Tafsir Alquran tematik yang diterbitkan Kementerian Agama Tahun 2012 dengan judul Al-Qur’an dan Isu-Isu Kontemporer II menceritakan beberapa peristiwa terkait relasi antara ulama dan umara pada zaman nabi-nabi. Salah satunnya adalah kisah kerjasama antara Nabi Yusuf dan raja Mesir yang berhasil menyelamatkan rakyatnya dari kelaparan.

Kisah itu terdapat dalam surah Yusuf (12) pada ayat 47-48. Nabi Yusuf kala itu mengimbau agar rakyat Mesir untuk memanam gandum secara baik selama tujuh tahun berturut-turut.

Semua hasil panen selama tujuh tahun itu haruslah disimpan dalam bentuk gabah agar tak membusuk. Rakyat Mesir bahkan diminta hanya mengambil gandum untuk kebutuhan sehari-hari keluarga saja. Intinya mereka diminta untuk berhemat.

Nabi Yusuf pun menjelaskan, simpanan gandum itu akan berguna nanti saat masa-masa sulit tiba selama tujuh tahun pula. Sebab semua gandum akan habis dan hanya sebagian dari gandum yang disimpan itulah bisa dijadikan benih untuk kembali bercocok tanam saat kondisi kembali membaik.

Pemerintah Mesir pun mengikuti imbauan Nabi Yusuf. Raja Mesir bekerja keras agar semua rakyat melaksanakan imbauan utusan Allah itu. Alhasil, rakyat Mesir selamat dari bahaya kelaparan yang mengintai.

Kisah kerjasama ulama dan umara yang berujung khianat juga disampaikan Allah dalam surah al-A’raf (7) ayat 175-176. Ayat ini memerintahkan agar Nabi Muhammad membacakan kisah ulama Yahudi yang khianat pada Nabi Musa. Ulama Yahudi itu bernama Bal’am bin Ba’ura’. Ia diperintahkan Nabi Musa untuk menyebarkan agama  di daerah yang bernama Madyan.



Sesampainya di sana, Bal’am mendapat sambutan yang sangat ramah dari Raja Madyan. Bahkan Bal’am disediakan tempat tinggal yang lengkap dengan semua perabotan dan seorang pembantu.

Tujuan sang raja adalah membiarkan Bal’am beristirahat terlebih dahulu sebelum melaksanakan perintah nabi. Namun, Bal’am ternyata terlena dalam pelukan kemewahan. Ia berubah pendirian. Alih-alih menyebarkan ajaran Nabi Musa, ia malah mengikuti agama Raja Madyan.

Pada ayat 176, dijelaskan bahwa ulama bisa saja hidup berkecukupan tapi jika ia meninggalkan pendiriannya atas agama Allah, maka ia telah mengikuti hawa nafsu semata. “Orang itu seperti anjing penjaga rumah, disuruh apa saja selalu menjulurkan lidah dan mengikuti dengan setia segala perintah tuannya,” bunyi penjelasan dalam tafsir tersebut.

Lebih lanjut, tafsir kontemporer itu menjelaskan bahwa peran ulama memang harus mengingatkan umara lantaran seorang pemimpin juga manusia yang tak luput dari kesalahan. Di lain sisi, seorang ulama juga tak boleh terlena dengan rayuan duniawi seperti kemehan yang diberikan oleh umara. Adapun rakyat, diminta mematuhi keduanya. Asalkan, tak bertentangan dengan Alquran dan sunah Rasulullah.(jft/EraMuslim)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...