23 April 2019

Mbak Mesi si Penjahit Itu, Lalu Lemas dan Terkulai

KONFRONTASI -  SEJAK sebulan lalu Mbak Mesi (bukan nama sebenarnya) membuka sendiri usaha menjahit pakaian wanita. Tidak lagi menjadi karyawati Rumah Mode “Cantika” milik Bu Hermin (nama samaran).

Malam itu adalah malam Selasa Kliwon. Jam sembilan dia bersiap akan menutup tempat usahanya yang terletak di samping rumah Ibunya. Darmi (nama samaran) tenaga pembantunya sudah pulang lebih dulu, lima menit lalu.

Baru saja mengunci pintu dari luar, tiba-tiba datang seorang perempuan cantik membawa sebuah bungkusan. “Mau menjahitkan baju kebaya, Mbak,” ujarnya dengan kenes. Tidak kuasa menolak, Mbak Mesi membuka kembali pintu itu dan mempersilakan tamunya duduk.

“Ini aku pertama kali menjahitkan baju kemari, Mbak. Siapa tahu, cocok dan menjadi langganan,” kata perempuan tersebut sembari membuka bungkusan yang dibawanya, berisi kain broklat warna hijau tua.

“Agar ukurannya pas, aku copot baju ya, Mbak.” Tidak menunggu jawaban, perempuan cantik itu langsung membuka blus yang dikenakan dengan posisi menghadap Mbak Mesi. Mungkin karena sama-sama wanita, perempuan itu tidak merasa rikuh atau pekewuh.

Kendati seorang perempuan, Mbak Mesi berdecak kagum melihat tubuh tamu calon pelanggannya. Dibalut bra putih bersih, tampak buah dadanya membusung padat. Kulitnya yang kuning langsat, teramat halus. Bau semerbak wangi meruar ke seluruh ruangan.

Penjahit baju wanita tersebut lalu mengambil meteran dan buku catatan. Dengan posisi berhadap-hadapan, Mbak Mesi melingkarkan meteran ke tubuh perempuan tersebut. Mengukur lingkar pinggang, lingkar pinggul, dan lingkar dada. Tidak ketinggalan juga mengukur panjang lengan.

Ketika semua bagian telah diukur, perempuan itu membalikkan badan akan meraih blusnya yang dia gantung di cantelan baju.

Gandrik! Saking kagetnya, Mbak Mesi njondil. Mata Mbak Mesi melihat ada sebuah luka berlubang di punggung perempuan cantik berkulit halus mulus tersebut. Terlihat ada nanah dan darah kental berwarna merah tua di seputar lukanya.

Bersamaan dengan itu bau anyir dan busuk menyengat hidung. Meski penampakan tersebut hanya sekejap lalu menghilang, tak urung membuat Mbak Mesi lemas dan jatuh terkulai di lantai. Ia pingsan tak sadarkan diri. Bangun-bangun sudah jam 00.00 (jam 12.00) tepat, mbak Mesi tak mendapatkan perempuan itu lagi dan ia buru-buru menutup pintu tokonya yang masih terbuka.Malam sampai pagi, ia tak dapat tidur dan hanya meriang panas dingin di dalam kamar tidurnya. (Jft/KR-Jogja)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...