26 May 2017

Lokalisasi Dolly Masih Memanas, Massa Pro dan Kontra Terlibat Bentrok

KONFRONTASI - Situasi lokalisasi Dolly masih memanas. Bahkan, lima hari setelah deklarasi penutupan lokalisasi yang terletak di Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Surabaya, Jawa Timur, itu sempat terjadi kericuhan antara massa pro dan kontra penutupan pada Senin malam (23/6).

Sebab, pada 19 Juni seluruh wisma di dua lokalisasi itu tetap buka dan melayani tamu-tama para lelaki hidung belang, meski Pemkot Surabaya telah mendeklarasikan penutupan. Hingga 26 Juni mendatang, semua wisma baru akan tutup untuk menghormati bulan puasa umat muslim dan akan buka kembali setelah lebaran.

Namun ketegangan (antara deklarasi penutupan dan tetap buka) di lokalisasi terbesar se-Asia Tenggara ini, masih terus terjadi. Bahkan, Senin malam, dikabarkan terjadi bentrokan fisik antara massa pro dan kontra penutupan lokalisasi.

Tokoh masyarakat Madura yang ada di Surabaya, Ali Badri Zaini menilai, situasi tersebut terjadi akibat lambannya aparat kepolisian dan TNI menutup lokalisasi. Menurut dia, penutupan Dolly dan Jarak sudah dideklarasikan, berarti harus ada tindakan secepatnya dari pemerintah untuk segera melakukan penutupan.

"Kalau tidak ditutup, pasti memicu Ormas untuk melakukan penutupan sendiri. Jika Ormas turun, saya khawatir akan terjadi keributan. Nah, kita menghindari hal-hal seperti ini," kata Ali Badri, yang juga menjabat sebagai Ketua Front Pembela Islam (FPI), Jawa Timur, Selasa (24/6).

Dia melanjutkan, jika sampai ada Ormas turun tangan, maka Ormas itu tidak bisa disalahkan. "Namun, aparat yang berwenang yang harus bertanggung jawab karena membiarkan lokalisasi masih dibiarkan buka," ujarnya.

Di tempat terpisah, warga Dolly yang dikonfirmasi terkait kejadian itu mengatakan, pada Senin malam kemarin, salah satu stasiun televisi lokal di Surabaya, mengadakan acara dialog antara massa yang pro dan kontra penutupan lokalisasi di studio mereka di Jalan A Yani.

Menurut Apeng, salah satu warga yang kontra penutupan, dalam dialog itu, massa yang pro penutupan kalah debat dengan massa yang kontra. "Setelah acara bubar, di luar studio, terjadi penyerangan oleh massa yang pro terhadap massa yang menolak penutupan," papar Apeng, yang juga Ketua PKL Gang Dolly.

Dalam keributan itu, salah satu warga kontra penutupan bernama Aji, dihajar oleh massa yang pro penutupan. Setelah kejadian, warga Gang Dolly dan Jarak yang mendapat laporan penyerangan itu, langsung mendatangi lokasi kejadian.

Sayang, massa yang menyerang Aji sudah bubar. "Setelah itu, kita langsung melaporkan kejadiannya ke Polrestabes Surabaya," pungkas Apeng.[ian/mrdk]

Category: 

loading...

Related Terms



News Feed

Loading...