20 April 2018

Lampung produksi 22 jenis buah-buahan 1,4 juta ton per tahun

KONFRONTASI-Komoditas buah-buahan, Provinsi Lampung termasuk lima besar sentra produksi nasional dengan rata-rata total produksi per tahun untuk 22 jenis buah-buahan sebesar 1,4 juta ton.

"Jumlah itu memberikan kontribusi terhadap produksi nasional sebesar 7,3 persen dan terhadap produksi Sumatera sebesar 26,9 persen. Dari rata - rata total produksi tersebut," kata Wakil Gubernur Lampung Bakhtiar Basri, di Bandarlampung, Kamis.

Ia menyebutkan prakiraan permintaan pasar lokal atau konsumsi untuk Lampung sebesar 42 persen, dan kapasitas pasokan produk buah-buahan Lampung ke daerah lain di Pulau Jawa, sebesar 58 persen.

Komoditas unggulan buah-buahan Lampung adalah pisang, manggis, pepaya, nenas, durian, dan sayurannya adalah cabai. Produksi pisang segar Lampung tahun 2013 mencapai 984.298 ton atau meningkat 20,40 persen jika dibandingkan produksi tahun 2012 sebesar 817.606 ton, dengan kontribusi terhadap nasional sebesar 13,21 persen (urutan ke tiga).

Penyumbang terbesar produksi pisang Lampung adalah Kabupaten Pesawaran dengan realisasi produksi tahun 2013 mencapai 538.416 ton atau 54,70 persen dari produksi Provinsi Lampung, sehingga layak ditetapkan sebagai kawasan pisang nasional.

Berbagai jenis produk pisang yang dipasarkan melalui Pelabuhan Bakauheni rata-rata sebesar 577 ton per hari, dengan tujuan pasar ke DKI Jakarta (47,40 persen), Jawa Barat (29,10 persen) dan Banten (21,70 persen).

"Pisang segar dalam bentuk curah atau ramesan yang keluar dari Kecamatan Padangcermin, Kabupaten pesawaran rata-rata per hari sebesar 70 ton," katanya pula.

Porduksi manggis Lampung pada 2013, mencapai 3.715 ton yang diproduksi dari sentra utama di Kabupaten Tanggamus dengan kontribusi sebesar 81,90 persen. Sebagian besar produk manggis Lampung dipasarkan ke Pulau Jawa, baik untuk konsumsi lokal maupun tujuan ekspor.

"Produk unggulan dari Tanggamus adalah Manggis Saburai yang telah mendapatkan Sertifikasi Prima 3," kata Wagub pula.

Sebagai salah satu tolok ukur keberhasilan pembangunan pertanian, kinerja produksi tersebut tidak menjadikan Provinsi Lampung berpuas diri, karena masih ada permasalahan yang mendasar pada produk pertanian termasuk buah-buahan, yaitu belum optimalnya nilai tambah dan rendahnya daya saing.

Hal ini menurut Bakhtiar harus segera diatasi sejalan makin dekatnya pemberlakuan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) pada akhir tahun 2015.

"Kalau kita tidak siap, dikhawatirkan konsumsi saudara-saudara kita, anak cucu kita nantinya beralih ke buah-buahan impor, seperti dari Thailand, Taiwan, Tiongkok, Australia atau Amerika dan lain-lain," tambahnya. (ant)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...