24 July 2019

Ketika Resepsi Pernikahan Digelar di Tengah Banjir

Tamu pernikahan dilangsir dengan perahu karet [foto: jambiexpress.com]

KONFRONTASI-Sebuah pelaminan pesta pernikahan terendam banjir saat hujan yang mengguyur Kota Jambi Minggu dinihari (17/2) dan menjadikan beberapa kawasan dalam Kota Jambi terendam banjir.

Resepsi pernikahan tetap berjalan meski direndam banjir setinggi pinggang orang dewasa. Mempelai tidak duduk pada pelaminan yang telah disiapkan, namun, diungsikan ke dalam rumah yang memang lebih tinggi.

Pantauan di lapangan, para tamu undangan terpaksa dilangsir menggunakan perahu karet dan 1 unit mobil double kabin. Hingga pukul 14.00 WIB, pengantin masih bertahan di dalam rumah, tamu yang datang langsung diarahkan masuk ke rumah. Musik hiburan tetap berlangsung meski dalam keadaan banjir.

Ketua RT 51, Kelurahan Jelutung, Ruslan mengatakan, kawasannya memang sudah menjadi langganan banjir sejak lama. Sejak tahun 2000 kondisinya kian parah hingga saat ini. Ada sekitar 65 Kepala Keluaraga di RT 51 yang harus menikmati banjir ketika hujan turun lebih dari 1 jam.

“Hujan deras lebih 1 jam, kita sudah kebanjiran. Tingginya bervariasi. Palingg tinggi bisa 1,5 meter,” kata Ruslan.

Ruslan menyebut, resepsi pernikahan Briptu Ari Kurnia dan Tania Yolanda tetap belangsung meski pelaminannya terandam banjir setinggi 50 cm.

“Pengantinnya di rumah,” imbuhnya.

Kata Ruslan, peristiwa ini yang kedua terjadi di tempatnya, sekitar 4 tahun lalu kejadian serupa juga pernah terjadi.

“Sudah 2 kali saat hari H resepsi kebanjiran,” ujarnya.

Ruslan mengungkapkan, penyebab makin parahnya banjir di kawasan tersebut, karena minimnya daerah resapan.

“Kawasan resapan sudah dibangun semua sekarang. Padahal Sungai Asam yang berada di sebelah kampung kita ini cukup besar dengan lebar 5 meter dan tinggi 3 meter. Tapi juga tak sanggup menampung air,” tuturnya.

“Mudah-mudahan ini menjadi perhatian pemerintah,” sebutnya.

Ditambahkan Majid, warga setempat, kondisi banjir pada tempat resepsi pernikahan tersebut terjadi sejak dinihari, mulai pukul 03.30 WIB.

“Setinggi pinggang kalau pagi, sing ini (kemarin,red) sudah mulai surut,” kata Majid.

Ditempatnya, sebut Majid, ketika terjadi hujan deras memang selalu banjir.

“Hujan lebih dari 1 jam, pasti meluap,” ujarnya.

Disisi lain, Pemerintah Kota Jambi saat ini masih memiliki pekerjaan rumah untuk menyelesaikan pembangunan drainase yang masih menyisakan 30 persen lagi. Kondisi tersebut ada yang belum permanen dan juga dalam keadaan rusak, bahkan roboh.

"70 persen sudah dalam keadaan baik, jadi, sisanya ada yang rusak dan ada perkembangan baru," kata Kabid SDA DPUPR Kota Jambi, Yunius.

Yunius menyebutkan, banyaknya pertumbuhan perumahan di Kota Jambi juga mempengaruhi timbulnya drainase baru. Sehingga perlu ada sinkronisasi dan perencanaan yang matang agar tidak menimbulkan permasalahan banjir di kemudian hari.

"Misalnya pengembang menyediakan aliran drainase ke saluran terdekat, dan nanti tentunya kita yang membangun saluran berikutnya untuk menyambungkan ke drainase yang lebih besar. Sehingga semua terkoneksi," ujarnya.

Yunius mengatakan, total panjang drainase yang menjadi kewenangan Pemerintah Kota Jambi sepanjang 116 Kilometer.

"Kemampuan kita paling tiap tahun itu diangka 20-30 kilometer, sehingga kita telah memetakan daerah-daerah prioritas. Dan kalau mau diselesaikan semua kita membutuhkan anggaran sekitar Rp 150 miliar. Akan kita kejar 5 tahun mendatang," katanya.

Dia juga menyebut kondisi peninggalan drainase milik provinsi saat ini sudah banyak yang tua dan harus direkonstruksi.

"Tentu ini juga menjadi beban tambahan, banyak yang sudah rubuh," katanya.

Beberapa saluran yang menjadi prioritas pemerintah untuk segera diperbaiki adalah di Kelurahan Solok Sipin, Simpang Kawat dan Tambaksari. [mr/jpnn]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...