14 December 2018

Hanura: SBY Jual AHY ke Jokowi/ PDIP Tidak Laku, lalu Diobral ke Prabowo

KONFRONTASI- Politik kubu Banteng Megawati vs kubu SBY makin panas.  Kubu Gerindra Prabowo tak  perlu terlibat, cukup cermati dan antisipasi saja.   Pasalnya, Ketua DPP Hanura (Kubu Banteng) Inas Nasrullah Zubir, menyebut Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono sedang panik lantaran tak bisa bergabung dengan partai politik koalisi pendukung Joko Widodo. Pasalnya, kata dia, tawaran SBY agar putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menjadi cawapres Jokowi tak disetujui.  Sehingga, kata Inas, pihaknya memaklumi apabila Presiden RI ke-6 itu panik dan berkomentar bahwa koalisi Jokowi belum solid.

"Koalisinya sendiri saja belum jelas, tapi SBY ngoceh seperi orang panik karena dagangannya, yakni AHY enggak laku, lalu akhirnya diobral ke Prabowo," kata Inas kepada rilis.id, Jumat (27/7/2018).

Hanura: SBY Jual AHY Tak Laku, Jadi Diobral ke Prabowo

Mestinya, ujar anggota Komisi VI DPR RI itu, SBY bisa berlaku bijak dengan tidak berkomentar terkait koalisi partai politik lain. Apalagi, ujar dia, SBY sendiri belum bisa membuat putranya yang juga Komandan Kogasma Demokrat itu mandiri dalam meniti karir politiknya. 

 

"Jangan komen kepada orang lain di saat diri sendiri belum bisa membenahi anaknya yang belum bisa mandiri," ujar Inas.

"Jadi, solid atau tidaknya kubu Jokowi yang tahu adalah koalisi Jokowi sendiri. Jadi jangan asal nebak deh," pungkasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, koalisi partai pendukung Joko Widodo pada Pilpres 2019 bisa terbelah.

Alasannya, kata SBY, ada parpol koalisi yang tidak cocok dengan sosok calon wakil presiden pendamping mantan Wali Kota Solo tersebut.

"Bisa saja dari partai pendukung Jokowi sekarang, nanti ada yang keluar saat Jokowi telah menentukan cawapresnya," kata SBY di kediamannya,

Kuningan, Jakarta Selatan.

 

AKADEMISI UNPAD: PRABOWO - AHY PREMATUR, BAKAL KALAH

Partai Demokrat disebut-sebut akan terus memaksa Komandan Kogasma, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), untuk menjadi cawapres Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai syarat koalisi di Pilpres 2019. Padahal, kata Peneliti di Pusat Studi Politik dan Keamanan (PSPK), Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, Nanang Suryana, pasangan Prabowo-AHY kemungkinan akan sulit mengalahkan Presiden Joko Widodo.

"Pembacaan banyak hasil survei per hari ini masih menempatkan petahana lebih unggul," kata Nanang kepada rilis.id, Sabtu (28/7/2018).

Prabowo Diprediksi Kalah bila Dipaksa Berpasangan dengan AHY

 

Nanang mengatakan, AHY memang masih belum memiliki rekam jejak di bidang pemerintahan. Namun, menurutnya, hal itu tidak menjadi hambatan bagi Demokrat melalui Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk berupaya menempatkan putra sulungnya sebagai cawapres.

"Sepertinya Demokrat tetap akan berusaha agar kader mereka mendapat posisi kedua," ujarnya.

Dia menilai, pencapresan Prabowo memang menjadi jalan tengah yang bisa diterima oleh sejumlah partai politik. Namun, imbuh dia, pemilihan cawapres yang nantinya akan menentukan menang atau kalahnya mantan Danjen Kopassus itu di Pilpres 2019 nanti.

"Harus diakui nama Prabowo dapat menjadi jalan tengah di antara partai koalisi. Sehingga, pergeserannya, bukan Prabowo atau bukan, tapi siapa cawapres yang akan mendampinginya," pungkasnya. (sumber2 pers)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...