22 January 2017

Pilot Susi Air Diduga Tenggak Narkoba

KONFRONTASI -  Selagi dua pilot maskapai Susi Air menjalani pemeriksaan di kantor pusat Badan Narkotika Nasional (BNN) atas dugaan mengonsumsi narkoba, pengawasan penerbangan Indonesia menjadi sorotan.

Kasus bermula ketika BNN Cilacap melakukan pemeriksaan urine kepada pilot maskapai Susi Air yang baru mendarat di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, dari Bandara Nusa Wiru dengan menggunakan pesawat Cessna Caravan, pada Rabu (11/01).

Dari pemeriksaan tersebut, dua pilot asing itu terindikasi positif menggunakan narkoba. Pihak maskapai Susi Air belum dapat dihubungi untuk konfirmasi.

Namun, untuk memastikan bahwa mereka mengonsumsi narkoba, keduanya menjalani tes lanjutan di kantor pusat BNN di Jakarta.

"(Tes di Cilacap) itu kan hanya tes sementara, menggunakan narco test atau rapid-test. Tapi kalau pendalaman kan harus ada tes konfirmasi dengan menggunakan laboratorium, tiga sampai empat hari setelah pemeriksaan," kata Kepala Humas BNN, Slamet Pribadi dilansir BBC Indonesia.

Kasus pilot Citilink

Dugaan pilot mengonsumsi narkoba mengemuka untuk kali kedua dalam dua bulan berturut-turut. Pada Desember 2016 lalu, pilot maskapai Citilink, Tekad Purna Agniamartanto, juga diduga memakai narkoba setelah para penumpang mengeluhkan cara bicaranya yang melantur.

Meski belakangan BNN tidak mendeteksi narkotika dan zat adiktif pada tubuh Tekad Purna, sorotan terarah ke pengawasan penerbangan Indonesia.Menurut pilot senior Garuda Indonesia, Shadrach Nababan, pemerintah harus berbuat sesuatu guna memastikan keamanan penerbangan.

"Pilot itu ada regulasi mengenai kesehatan, setiap enam bulan sekali harus melakukan medical examination. Kalau tidak lulus, tidak boleh terbang. Bahwa di kehidupan yang sebegitu ketatnya masih juga terjadi penyimpangan, seharusnya pemerintah maupun para pihak yang berkepentingan terhadap keselamatan penerbangan berbuat sesuatu lah," ujarnya.

Shadrach mempertanyakan penelitian lebih jauh mengenai kondisi kesehatan kru pesawat sebelum dan sesudah terbang.

"Setiap ada kecelakaan, apakah (pemerintah memeriksa) kecelakaan ini berhubungan dengan kesehatan kru? Mereka diteliti nggak 72 jam sebelum kecelakaan, mereka ngapain aja? Apa yang dia kerjakan, apa yang dia konsumsi? Itu harusnya diteliti. Baru kita bisa beraksi untuk mencegah. Kalau hanya normatif, formalitas segala macam ya akan berulang-ulang," kata Shadrach.

Pemeriksaan mendetail

Agus Soebagio, selaku Kepala Humas Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan (Kemenhub), menyatakan pihaknya berkomitmen melakukan pengawasan dan pemberian sanksi.

"Pilot yang terindikasi menggunakan narkoba tidak diperbolehkan menerbangkan pesawat hingga diketahui hasil pemeriksaan yang mendetail. Pilot tersebut harus segera diperiksa secara intensif baik di Balai Kesehatan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara maupun Badan Narkotika Nasional (BNN)," ujar Agus.

Menurut Agus, pemeriksaan intensif tersebut diperlukan untuk mengetahui apakah pilot yang bersangkutan benar-benar mengkonsumsi narkoba atau tidak. Pilot yang nantinya positif menggunakan narkoba, akan dikenakan sanksi yang berlaku.(Juft/BBC)

Category: 

loading...
loading...

BACA JUGA:      

Loading...