17 November 2019

Bencana Terbesar Orde Baru: Letusan Gunung Galunggung di antara Amanat dan Tragedi

KONFRONTASI -   Suatu pagi di pengujung candra Juli 1982, seorang bayi lahir di sebuah kampung di selatan Sukabumi. Saat sang ibu masih kepayahan dalam genangan darah setelah melahirkan, sang nenek keluar rumah dan mendapati kampung diselimuti gelap. Bukan gelap sisa malam, tapi karena dekapan abu vulkanik Gunung Galunggung.

Hampir segalanya dihinggapi abu, terutama atap-atap rumah. Untuk mengingat peristiwa tersebut, si bayi diberi nama “Abu”. Sementara nama belakangnya “Sopyan”, mengikuti nama ayahnya.

Bayi itu adalah teman saya. Kawan sebangku di sekolah selama sembilan tahun, dari Sekolah Dasar sampai Madrasah Tsanawiyah. Kisah tersebut sudah lama saya dengar, tapi untuk meyakinkan kembali ingatan, saya menghubungi lagi kawan lama itu.

“Enya, nini urang nu méré ngaran éta (Iya, nenek saya yang memberi nama itu),” terang Abu saat saya hubungi via telpon pada Senin (8/10/2018).

Letusan Gunung Galunggung pada awal 1980-an memang dahsyat. Gunung tersebut terus-menerus mengeluarkan isinya selama lebih dari sembilan bulan, tepatnya mulai 5 April 1982 dan letusan baru benar-benar berakhir pada 8 Januari 1983.

Abu vulkanik Galunggung sampai ke sejumlah kota yang lokasinya relatif jauh dari Tasikmalaya, seperti Bandung, Bogor, Sukabumi dan Jakarta. Selain itu, abu tersebut juga mengganggu sejumlah penerbangan. Pemerintah meminta seluruh penerbangan domestik dan internasional untuk menghindari wilayah udara Galunggung.

Namun, larangan tersebut terlambat diketahui oleh pilot pesawat Singapore Airlines dan British Airways. Mereka kadung mendekati wilayah udara Galunggung. Akibatnya, pada 24 Juni 1982 pesawat Boeing 747 British Airways mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusumah karena kerusakan mesin akibat abu vulkanik Galunggung.

Pesawat yang mengangkut 225 penumpang itu bertolak dari London dan sedang dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju Perth. Di ketinggian 9.450 meter sekitar 500 mil dari pantai selatan Garut, empat mesinnya tiba-tiba mati. Beruntung pilot Kapten Erik Moody akhirnya berhasil menghidupkan dua dari empat mesin yang mati itu dan segera melakukan pendaratan.

Sementara pada 13 Juli 1982, giliran pesawat Boeing 747 Singapore Airlines dengan nomor penerbangan 21A dari Singapura menuju Sidney dan Melbourne, terpaksa mendarat darurat di Bandara Halim Perdanakusuma akibat abu vulkanik Gunung Galunggung. Pada ketinggian 33.000 kaki atau sekitar 11 kilometer, dua mesin pesawat tersebut terpaksa dimatikan.

Sukandarrumidi dan kawan-kawan mencatat dalam Geotoksikologi: Usaha Menjaga Keracunan Akibat Bencana Geologi, semburan material dari Galunggung mencapai puluhan kilometer. Bahkan pada 13-19 Juli 1982, tinggi tiang asap letusan mencapai 35 kilometer, hal inilah yang menyebabkan kedua pesawat tersebut hampir jentaka.

Menurut keterangan mereka, abu vulkanik terdiri atas batuan halus, mineral dan partikel padat berdiameter kurang dari 2 milimeter. Bahkan diameter abu halus hanya 0,063 milimeter. Ukuran material itu mengecil jika semakin jauh jarak lontarannya dari gunung api.

“Material fisik abu gunung abu gunung api inilah yang berbahaya bagi penerbangan. Ukurannya yang kecil, kekerasannya, kemampuannya mengamplas dan keasamannya merusak mesin pesawat. Saat pemeriksaan pesawat Singapore Airlines, baling-baling mesin nomor dua ditemukan garis-garis memutih jejak pengamplasan abu vulkanik,” imbuhnya.

Sementara menurut Anna Fauziah Diponegoro dalam Harta Bumi Indonesia: Biografi J.A. Katili (2007), ketika mesin pesawat kemasukan abu vulkanik dan kerja mesinnya dipercepat, justru membuat abu mencair dan bisa berubah menjadi kaca sehingga dapat mencelakakan pesawat.

Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Surono, seperti ia terangkan dalam wawancaranya dengan Regina Safri yang terbuhul dalam Belajar Membumi bersama Mbah Rono (2015), sejak abu vulkanik Galunggung mengganggu penerbangan, dunia menjadi menganggap penting dan serius terhadap sebaran abu vulkanik yang disebabkan letusan gunung berapi.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa untuk mengantisipasi gangguan abu vulkanik yang dapat membahayakan penerbangan, didirikan sistem pemantauan sebaran abu vulkanik yang bernama Volcanic Ash Advesory Center (VAAC).

“Karena itu saat terjadi letusan Gunung Merapi (2010), VAAC yang berkantor di Darwin, Australia, memberikan red alert atau Peringatan Bahaya Tinggi untuk penerbangan dari dan ke bandara-bandara di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, serta Pulau Sumatra. Juga mengalihkan penerbangan menjauhi Pulau Jawa,” tambah Surono.
(Jft/Tirto)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...