11 December 2018

Beginilah Sensasi Menapak di Ketinggian Lembah Cisomang

KONFRONTASI -   BERJARAK sekitar 250 meter dari Langhub, dua jembatan pengganti melintang di atas Sungai Cisomang. Dari dua jembatan itu, satu jembatan buatan Belanda yang sudah tak dioperasikan. Sedangkan jembatan baru double track atau dua jalur rel kereta yang dibangun Pemerintah Indonesia telah menggantikannya.

Yang menarik, jembatan baru tersebut menawarkan sensasi yang cukup memacu adrenalin bagi warga yang melintasinya menggunakan kendaraan atau berjalan kaki. Ya, jembatan itu memiliki jalur dua jalur di kedua sayap jembatan yang diperuntukkan bagi warga yang melintas. Tak heran, lalu lalang kendaraan dan warga yang melewati perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Purwakarta cukup ramai.

"PR" mencoba menjajal jalur perlintasan warga tersebut dengan menggunakan sepeda motor dan berjalan kaki pada Kamis, 4 Oktober 2018 sore. Deretan kawat logam keras yang menyangga dan menjadi landasan jalur lintasan berderak saat terlindas ban sepeda motor.

Ketegangan seketika mendera saat memacu kendaraan dengan laju sedang. Rasanya, jarak yang ditempuh dari arah tepi Kabupaten Bandung Barat menuju Purwakarta seakan tak ada habisnya.

Ketika memasuki jalur perlintasan, pengendara sepeda motor pun mesti memastikan tak ada kendaraan lain yang melaju dari arah berlawanan. Kondisi jalur yang sempit hanya bisa dilalui kendaraan dari satu arah. Para pengendara dari arah yang berbeda mesti bergantian melaluinya.

Selepas menggunakan sepeda motor, "PR" mencoba meniti jalur dengan berjalan kaki. Lagi, ketegangan kembali melanda karena pemandangan dasar lembah Cisomang begitu jelas terlihat. Kawat-kawat logam landasan jalur pejalan memperlihat pemandangan mengerikan tersebut di balik lubang-lubangnya.

Bila rasa takut semakin mendera, pejalan kaki bisa naek ke tepi rel yang bertabur batu kerikil. Pemandangan curam lembah Cisomang pun lenyap. Namun berjalan di tepi rel menuntut kehati-hatian dan konsentrasi penuh karena kereta api bergantian melewatinya. 

Destinasi wisata

Kini, jalur perlintasan Jembatan Cisomang menjadi destinasi baru yang kerap dikunjungi warga. Beberapa warga lokal dari Cikalong Wetan, Cipeundeuy  hingga dari luar wilayah itu menyambangi untuk sekadar berfoto dan merasakan sensasi ketegangan berjalan di atas ketinggian. ‎ 

Prasetyo Yulyanto (12), pelajar SMP asal Desa Nanggeleng, Kecamatan Cipeundeuy, KBB tak ketinggalan mendatangi jalur perlintasan itu. Awalnya, bocah tersebut mencoba berjalan kaki pada jalur lintasan. Akan tetapi, keberanian lenyap setelah melihat pemandangan dasar lembah Cisomang. Dia memilih berjalan di tepi rel. "Takut jatuh," ucapnya.
 
Prasetyo mengaku baru sekali mendatangi Jembatan Cisomang. Dia diajak kerabatnya untuk berjalan-jalan di kawasan tersebut.

Kendati bukan tempat wisata, jalur perlintasan itu menjadi tempat favorit sejumlah warga berfoto. Ika (28), warga Cipatat menuturkan, lokasi tersebut cocok untuk wisata swafoto. Pemandangan dasar lembah yang curam dengan jembatan yang panjang menjadi keunikan tersendiri bagi pengunjung.

Apalagi di sebelahnya melintang Jembatan Cisomang kedua yang sudah tak berfungsi. Jembatan itu masih menyisakan konstruksi cukup lengkap ketimbang pendahulunya, Langhub.

Tiga pilar besi yang masing-masing memiliki empat kaki menancap di dasar Sungai Cisomang. Namun, beberapa pengunjung kerap bermain dengan bahaya dengan menaiki jembatan dan mencoba menitinya tanpa alat pengaman. 
Keberadaan jembatan kereta Cisomang bukan hanya cuma sarat nilai sejarah perkembangan perkeretaapian negeri ini. Bila dikembangkan dengan serius dan tetap memperhatikan aspek keamanan, jembatan tersebut laik menjadi destinasi wisata.*(Jft/PR)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...