20 September 2019

Aksi Demo Simpatik, Hongkongers: We Are British, Not Chinese!

KONFRONTASI -   Demonstrasi warga Hongkong alias Hongkongers belum berakhir. Kemarin wartawan Jawa Pos memantau langsung aksi di Chater Garden, Central, tersebut. Sekilas, demonstrasi itu mirip acara entertainment. Ada penyanyi papan atas, film pendek, dan tentu saja orasi. Temanya penolakan terhadap Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi. Berlangsung dua jam, aksi tersebut berjalan damai.

Sebelum acara dimulai, di lokasi terlihat panitia berbaju hitam yang sibuk menata panggung. Mulai membuat background, merangkai layar, dan mengatur sound system. Beberapa orang lain berkoordinasi untuk pengamanan. Ryan, anggota panitia, sibuk mengatur rekan-rekannya. Dia wira-wiri memastikan semua sesuai rencana. Handphone di genggamannya kerap berdering. Di sela-sela kesibukan itu, Jawa Pos mewawancarai Ryan. ”Ini bentuk protes serius kami yang berharap demokrasi. Tidak peduli apa pun caranya,” katanya. Dia sadar bahwa menggoyang keputusan pemerintah memang tidak mudah. Apalagi, mayoritas pendemo hanya kalangan pelajar dan mahasiswa.

Namun, jika RUU Ekstradisi dibiarkan, papar Ryan, peraturan tersebut mengancam kemerdekaan, hak asasi, dan keadilan rakyat Hongkong. ”Hanya demokrasi yang akan mengakhiri protes ini,” tegasnya. Selama demokrasi belum terwujud, Ryan dan kelompoknya akan melanjutkan protes. ”Saya pikir itu hal yang paling penting,” ucap dia.

Sekitar pukul 19.00 waktu setempat, massa berbaju hitam berangsur-angsur memenuhi area Chater Garden. Puluhan orang mengibarkan bendera Inggris dan Hongkong. ”We are British, not Chinese!” seru kelompok tersebut.

Film pendek ditampilkan kurang lebih 15 menit. Menggambarkan aksi demo, kerusuhan dengan polisi, hingga pengunjuk rasa yang menjadi korban peluru nyasar. Video dukungan dari masyarakat Inggris dan Amerika Serikat juga ditampilkan untuk memompa semangat mereka.

Orasi juga dilakukan layaknya konferensi pers. Termasuk Denise Ho. Dia dengan terang-terangan menolak RUU Ekstradisi. Perempuan 42 tahun itu khawatir, di bawah kekuasaan Tiongkok, masyarakat Hongkong diperlakukan semena-mena. ”Stand with Hongkong. Power the people!” seru dia.

Sementara itu, kemarin (16/8) warga Hongkong di wilayah sekitar Cheung Kong Center sibuk mendongak dan mengacungkan ponsel. Mereka melihat pemandangan langka: Ada bule nekat memanjat gedung pencakar langit. Siang itu si bule yang bernama Alain Robert tersebut mendaki bangunan 68 lantai tanpa alat keselamatan.

Dia mengibarkan bendera yang menyandingkan simbol negara Tiongkok dan Hongkong. Di bawah bendera, terdapat gambar dua tangan berjabat. Pria dengan julukan Spiderman Prancis itu ingin kubu anti pemerintahan dan pro-Beijing berbaikan. ”Mungkin saja dengan ini saya bisa menurunkan tensi. Setidaknya memancing senyum,” ungkap Robert kepada Agence France-Presse.

Namun, tak semua menanggapi dengan baik aksi Robert. Mereka merasa, banyak orang asing yang tak mengerti betapa gawatnya situasi di Hongkong. ”Apakah Anda benar ingin menjabat tangan pembantai dan penindas?” ujar Badiucao, seniman pengkritik Tiongkok yang tinggal di Australia.

Selain Robert, pebisnis Li Ka-shing ikut menyebarkan pesan perdamaian. Orang terkaya Hongkong itu menerbitkan iklan di tujuh surat kabar sekaligus. Dalam iklan tersebut, terdapat karakter Mandarin yang bermakna kekerasan tercoret. Gambar itu dibarengi tulisan, ”Kadang niat terbaik pun bisa berakhir dengan hasil terburuk.”(Jft/JPNN)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:38
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:26
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:10
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:05
Jumat, 20 Sep 2019 - 10:02
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:58
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:50
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:49
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:45
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:45
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:12
Jumat, 20 Sep 2019 - 09:09