24 May 2017

AKBP Idha Dijerat Pasal Berlapis, Mulai dari Kasus Narkoba, Pelanggaran Kode Etik, Korupsi

KONFRONTASI - Kepala Kepolisian Daerah Kalimantan Barat, Brigadir Jenderal Polisi Arief Sulistyanto, menerangkan, saat ini tersangka Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Idha Endri Prastiono sedang menjalani pemeriksaan internal terkait pelanggaran penyalahgunaan wewenang.

”Kode etik, disiplin oleh Propam Polda Kalbar," katanya, hari ini, Jumat 12 September 2014.

Menurut Arief, proses hukum atas AKBP Idha memang cepat. Pihaknya, mengaku selama tersangka ditahan polisi Malaysia di Kuching terus melakukan penyelidikan dan persiapan berkas atas kasus-kasus yang diduga dilakukannya.

Sehingga, kata Arief, nantinya kasus proses hukum yang dijalani AKBP Idha akan beriringan. “Mulai dari penyalah gunaan wewenang (narkoba), pelanggaran kode etik, disiplin, dan tindak pidana korupsi," jelas Arief.

Arief, mantan Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Polri, menjelaskan setiap anggota Polri yang melakukan pelanggaran kena sanksi berat.

Ada sejumlah pelanggaran yang siap menjerat Pras, yakni pelanggaran kode etik, disiplin, dan tindak pidana, yang berbeda dengan masyarakat umum.

Menurut Arief, tersangka AKBP Idha Endri Prastiono juga dapat diancam Pasal 12 huruf e UU 31/1999 Jo UU 20/2001 tentang Tipikor, dan subsider 374 KUHP.

Nama Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Idha Endri Prastiono dalam sepekan terakhir menghiasi pemberitaan media massa, baik nasional maupun internasional. Pras, begitu biasa disapa, pergi ke Malaysia bersama rekannya, Brigadir Kepala MP Harahap, tanpa izin atasan.

Mereka ditangkap Polisi Diraja Malayasia (PDRM) pada 29 Agustus 2014 karena diduga terlibat jaringan narkoba Internasional. Pada 9 September 2014, Pras bersama Harahap dipulangkan ke Indonesia setelah Mahkamah Malaysia menyatakan mereka hanya berstatus saksi dan tidak kedapatan bawa narkoba.

Keesokan harinya, 10 September 2014, Pras bersama Harahap dipulangkan lagi ke Polda Kalbar. Setibanya di Pontianak, keduanya langsung dijebloskan ke penjara. AKBP Idha ditetapkan sebagai tersangka. Sementara, Bripka Harahap hanya dikenakan pelanggaran disiplin.

Pada Senin 15 September 2014, berkas perkara tersangka AKBP Idha Endri Prastiono sudah masuk tahap satu atau diserahkan ke Kejaksaan Tinggi Kalimantan Barat.

Latar belakang perkara

Arief menjelaskan, latar belakang perkara yang menyeret AKBP Idha Endri, berawal dari penangkapan pengedar sabu, Ling Chee Luk dan Chin Kui Zen, pada 16 Novembar 2013 oleh tim reserse narkoba di Jagoi Babang, Kabupaten Bengkayang.

Kala itu, penyidik yang menangkap para tersangka adalah AKP Sunardi, bawahan AKBP Idha Endri. Di kemudian hari, Polri menemukan bahwa 0,5 kilogram barang bukti sabu dari penangkapan itu hilang.

Barang bukti yang disetorkan dalam kasus pengedar itu hanya 468 gram sabu dari total barang bukti 1 kilogram.

"Artinya terjadi penggelapan barang bukti narkoba seberat kurang lebih setengah kilogram,” jelas Arief.

Berdasarkan pengakuan AKP Sunardi, AKBP Idha Endri juga pernah mengganti barang bukti berupa sabu-sabu dengan tawas. Selain itu, dia juga pernah mengganti barang bukti sekitar 5 juta butir ekstasi dengan yang palsu.
 
Tidak hanya berhenti di situ saja ulah AKBP Idha Endri. Polri juga menduga dia mengambil barang bukti sebuah mobil dengan merk Mercedes-Benz seri c-200 kompressor tersebut untuk kepentingan pribadi.
 
Mobil Mercedes-Benz seri c-200 kompressor itu disita AKBP Idha dari tangan Aciu, karena dia menilai mobil berpelat Malaysia itu sebagai sarana yang dipergunakan pelaku untuk menyelundupkan narkoba ke Indonesia.
 
Dari dalam mobil itulah, seribu lebih butir ekstasi dan 250 gram sabu-sabu diamankan saat penangkapan kala itu. Alih-alih disita sebagai barang bukti, justru mobil mewah ini dipakai dan dikuasai AKBP Idha.
 
Atas perlakuan itu, istri Aciu melaporkan kasus penggelapan mobil yang dilakukan oleh AKBP Idha Endhi Frastyono ini ke Direktorat Reserse Umum Polda kalimantan Barat.

Berkat laporan istri Aciu pula, mobil ini gagal dikirim ke Jakarta, melalui pelabuhan laut Dwikora Pontianak.[ian/vv]

Category: 

loading...


News Feed

Loading...