15 November 2019

Weh 3 x - Gila, Aset Korupsi Wawan (Adik Ratu Atut) Ratusan Miliar

KONFRONTASI -    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menyelesaikan penyidikan perkara dugaan tindak pidana korupsi dan tindak pidana pencucian uang dengan tersangka Tubagus Chaeri Wardana (TCW) alias Wawan. Tersangka merupakan suadara kandumg dari mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah dan suami dari Wali Kota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany.

Pada saat penyidikan, KPK mendapat fakta bahwa uang sebesar Rp 1 miliar yang digunakan oleh TCW untuk menyuap Akil Mochtar berasal perusahaan miliknya, yakni PT Bali Pasific Pragama.  Tersangka TCW melalui PT Bali Pasific Pragama dan perusahaan terafiliasi lainnya, sejak 2006 sampai dengan 2013 telah mendapatkan 1.105 kontrak pengadaan barang dan jasa dari pemerintah Provinsi Banten dan beberapa Kabupaten yang ada di Provinsi Banten dengan total nilai kontrak kurang lebih sebesar Rp 6 triliun.

 

KPK menemukan fakta-fakta bahwa TCW diduga menggunakan PT BPP dan perusahaan lain yang terafiliasi telah melakukan cara-cara melawan hukum dan dengan memanfaatkan hubungan kekerabatan dengan pejabat Gubernur dan Bupati/Wali Kota yang ada di provinsi Banten untuk mendapatkan kontrak-kontrak tersebut.

“Ini sejalan dengan kedudukan kakak kandung TCW, Ratu Atut Chosiyah yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Banten 2002-2007 dan Gubernur Banten 2005-2014,” terang Juru Bicara KPK Febri Diansyah, Selasa (8/10/2019).
 

Panjangnya rentang waktu antara 2006-2013, yakni sepanjang tujuh tahun, membuat KPK membutuhkan waktu yang cenderung panjang mengumpulkan data terkait perkara ini. Termasuk data terkait dengan aset tersangka yang diduga berasal dari hasil tindak pidana yang TCW lakukan.

“KPK juga membutuhkan kerja sama lintas negara karena ditemukan aset-aset yang berada di Australia,” ungkap Febri. Selama kurun waktu 2014 sampai dengan 2019, penyidik telah melakukan analisa atas aset-aset milik TCW dan PT BPP serta perusahaan terafilliasi lainnya untuk membuktikan keterkaitannya dengan hasil kejahatan yang berasal dari keuntungan proyek  dan unsur-unsur pasal TPK dan TPPU.

 

Total aset yang disita dalam proses Penyidikan ini adalah sekitar Rp500 miliar, di antaranya, uang tunai sebesar Rp 65 miliar, 68 unit kendaraan roda dua dan roda empat atau lebih, 175 unit rumah/apartemen/bidang tanah, terdiri dari tujuh unit apartemen di Jakarta dan sekitarnya, empat unit tanah dan bangunan di Jakarta, delapan unit tanah dan bangunan di Tangerang Selatan dan Kota Tangerang.

Selanjutnya, satu unit tanah dan bangunan di Bekasi, tiga unit tanah di Lebak, 15 unit tanah dan peralatan AMP di Pandeglang, 111 unit tanah dan usaha SPBU di Serang, lima unit tanah dan usaha SPBE di Bandung, 19 unit tanah dan bangunan di Bali, satu unit apartemen di Melbourne, Australia, dan 1 unit rumah di Perth, Australia.

”Untuk aset di Australia, KPK menempuh proses Mutual Legal Assistance (MLA) untuk kebutuhan penanganan perkara. Dalam proses penyidikan tersebut KPK juga dibantu oeh Australian Federal Police (AFP), seperti dalam proses penyitaan aset sesuai dengan aturan hukum yang berlaku,” kata Febri.

Nilai aset yang berada di Australia saat pembelian tahun 2012-2013 adalah setara dengan total sekitar Rp41,14 miliar, yaitu, rumah senilai AUD3,5 juta, apartemen di Melbourne senilai AUD 800 ribu.
(jft/Indopos)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...