23 November 2017

Sri Mulyani Ngotot soal Redenominasi yang Picu Inflasi dan Kenaikan Harga

KONFRONTASI- Penyederhanaan nominal rupiah dengan mengurangi digit tanpa mengurangi nilai riil mata uang (redenominasi) kembali ramai dibicarakan. Pengamat ekonomi dari Lingkar Studi Perjuangan, Gede Sandra menilai redenominasi tidak perlu dilakukan karena tidak akan memengaruhi ekonomi secara fundamental. Secara teoritis akan menyebabkan inflasi.

“Kebijakan redenominasi lebih banyak mudharatnya. Pertama,  ini kebijakan inflatoir, secara teoritis pasti akan menyebabkan terjadi inflasi. Sebagai contoh, bila Rp1000 diredenominasi menjadi Rp1, maka barang-barang yang awalnya seharga Rp100, pasca redenominasi akan naik,” kata Gede Sandra.
Hal kedua, kata dosen Universitas Bung Karno ini, bukankah pemerintah baru saja adakan proyek mencetak uang versi baru yang, anehnya, bertanda tangan menteri keuangan. Seolah ada pejabat yang mau curi start kampanye pakai uang baru.

“Sudahlah, jangan lagi ada kebijakan yang mubazir.  Redenominasi ini kan usulan lama yang diulang lagi karena dulu banyak ditolak.”

Seharusnya, lanjut Gede Sandra,  pemerintah lebih fokus untuk meningkatkan penyaluran kredit ke pengusaha menengah dan kecil. Juga fokus untuk mengubah struktur ekonomi yang timpang, mengurangi kemiskinan yang menurut data BPS semakin parah dan dalam.

Sementara itu, pengamat ekonomi Salamudin Daeng berpendapat redenominasi dilakukan pada situasi politik dan ekonomi yang stabil. Sehinga tidak dimanfaatkan oleh para spekulator.

“Jika melihat sekarang, ekonomi Indonesia kurang stabil. Ini ditandai dengan laju inflasi yang tidak teratur dan terjaga. Nilai tukar yang naik turunnya relatif kuat. Keadaan ini muncul dan dimanfaatkan sekaligus oleh spekulan,” ujar Salamudin.

Selain itu, lanjut Salamudin, daya beli masyarakat lapisan bawah saat ini tidak bergerak.  Sebanyak 100 juta orang masih berpendapatan dibawah 11 ribu per hari. Nanti kalau pendapatan mereka tinggal Rp11 akibat redenominasi, maka akan jadi susah hitung harga sayur dan bumbu,” paparnya.

Seperti diketahui, pihak Bank Indonesia (BI) melihat peluang pembahasan redenominasi kembali terbuka. Bisa jadi karena, laju inflasi sepanjang 2016 terus terkendali. Reformasi struktural perekonomian pun diyakini BI akan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi pada 2017.

Gubernur BI, Agus Martowardojo menilai redenominasi rupiah dapat menimbulkan pengaruh, antara lain persepsi positif, efisiensi, dan kepercayaan diri bagi perekonomian Indonesia.

 

 

(Akbar)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...