16 October 2019

Saksi Prabowo Mengaku Diancam, Dibunuh dan Dicap Pejahat Politik, Salah Satu Kejanggalan di TPS

KONFRONTASI -  -  Saksi yang dihadirkan kuasa hukum pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Nur Latifa, mengaku pernah mendapat intimidasi beberapa hari setelah pemungutan suara 17 April 2019 karena video surat suara dicoblos tersebar. Bahkan, ia mengaku pernah diancam dibunuh karena disangka terlibat dalam viralnya sebuah video dugaan kecurangan pilpres. 

Di hadapan majelis hakim MK, Nur mengungkapkan, ancaman kepada dirinya bermula saat pemungutan suara, saksi Nur Latifah menyebut melihat langsung salah satu petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) mencoblos surat suara dalam bilik suara dan mengambil video.

"Sepengetahuan saya ada 15 (surat suara). Saya menyaksikan sendiri, saya ada di TPS, duduk sebelah saksi-saksi. Saya juga punya rekaman videonya," ujar Nur Latifa dalam persidangan di Gedung MK, Jakarta (19/6/2019).

Penjahat Politik

Adapun rekaman video kejanggalan tersebut, lanjut Nur kemudian menjadi viral. Meskipun ia mengaku bukan ia yang merekam atau menyebarkan video tersebut.

Akibatnya, dua hari setelah pencoblosan tepatnya sekitar pukul 23.00WIB malam, ia kemudian dipanggil ke rumah salah satu warga untuk dimintai keterangannya mengenai video yang viral tersebut. Bahkan, ia dicap sebagai penjahat politik.

"Saya mendapat intimidasi dari banyak.  Saya dipanggil ke rumah salah satu warga. Di sana sudah ada Ketua KPPS, anggota KPPS, tokoh masyarakat, perangkat desa, kader partai dan beberapa preman. Saya perempuan sendiri. Saya ditanya soal video, saya jawab, 'Bukan saya yang merekam dan sebar. Saya dituduh sebagai penjahat politik di sana," tuturnya. 

"Saya juga secara tidak langsung diancam dibunuh. Itu saya dengar dari teman saya yang mendengar secara langsung bahwa saya diancam akan dibunuh," lanjut perempuan berjilbab merah muda tersebut. 

Dalam kesempatan itu, Nur Latifah menuturkan tidak menyebarkan video yang direkamnya, tetapi video itu pernah diminta oleh saksi dari pasangan 02 hingga akhirnya viral. 

Salah satu majelis hakim, Suhartoyo sempat menanyakan kepada Nur Latifa mengenai perolehan suara di TPS tersebut, Nur pun menjawab bahwa pasangan Jokowi-Amin unggul sangat signifikan di TPS itu. 

"Berarti bisa dong tahu kira-kira perolehan suaranya berapa kalau signifikan," tanya Suhartoyo. 

"Untuk pasangan 01 seingat saya (memperoleh) seratus lebih suara. 02 saya ingat betul, itu hanya mendapat 6 (suara)," ungkap Nur Latifa. 

Merasa Terancam

Sementara itu Ahli Teknologi Informasi (IT) Hermansyah dalam persidangan tersebut juga mengaku merasa terancam dengan keberadaan mobil yang selama ini kerap parkir di depan rumahnya. Namun ia tak melapor ke polisi. 

Hal ini disampaikan Hermansyah saat bersaksi dari pihak Prabowo-Sandiaga Uno selaku pemohon dalam sidang sengketa pilpres di MK.

"Saya merasa terancam sering ada mobil yang kerap berhenti di rumah saya. Tapi ini masih asumsi (ancaman atau bukan)," ujar Hermansyah. 

Ia mengaku kerap melihat mobil-mobil yang parkir di depan rumahnya melalui kamera pengawas
 
Pengakuan Hermansyah ini pun dipertanyakan anggota hakim konstitusi I Dewa Gede Palguna. Menurut Palguna, Hermansyah mestinya melapor ke polisi jika memang merasa terancam dengan keberadaan mobil tersebut. 

"Kenapa Anda tak lapor ke polisi? Anda merasa mendapat tekanan meski tidak saat bersaksi di sini," tanya Palguna. 

Ia mengatakan belum melaporkan ke polisi lantaran merasa tak menerima ancaman secara fisik.  "Terancam tapi belum lapor karena belum ada (ancaman) yang saya terima secara fisik," jawabnya. 

Hermansyah mengaku pernah menerima ancaman fisik pada tahun 2017. Hal itu terungkap ketika anggota tim hukum Prabowo, Teuku Nasrullah menanyakan ancaman fisik itu kepada Hermansyah. 

"Saat itu Anda ditusuk-tusuk? Masih ada bekas lukanya?" tanya Nasrullah. 

"Ya masih, ada di leher," jawabnya
 
Namun ancaman fisik yang diterima Hermansyah saat itu disebut tak terkait dengan pilpres lantaran proses pendaftaran pilpres saat itu baru dimulai 2018. 

Saat itu Hermansyah diserang oleh sejumlah orang ketika melintas di kawasan Tol Jagorawi pada pukul 04.00 WIB. Peristiwa itu bermula ketika mobilnya bersenggolan dengan pelaku penusukan. Mereka sempat terlibat cekcok hingga akhirnya pelaku menusukkan pisau ke arah Hermansyah.(jft/HANTER)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...