22 May 2019

Rizal Ramli: Pilpres 2019 Harus Kontestasi Gagasan, bukan Adu Pencitraan. Maukah Jokowi?

KONFRONTASI- Publik mencatat bahwa Mantan Menko Maritim dan Sumber Daya Kabinet Kerja, Rizal Ramli, mengatakan pemilihan pimpinan nasional seharusnya tidak lagi berbasis  adu pencitraan, tapi harus berkompetisi dengan mengadu gagasan.

"Kita ubah permainan bukan lagi kompetisi soal pencitraan, tapi kompetisi gagasan, karakter, track record, ujar Rizal Ramli usai bertemu dengan Ketua MPR Zulkifli Hasan hari ini, Kamis (3/5/2018).

Rizal mengatakan melalui kompetisi gagasan demokrasi akan berjalan lebih baik. Apalagi, ujarnya, makin banyak calon pemimpin nasional yang ikut berkompetisi. Dia mencontohkan tokoh-tokoh nasional zaman dulu tidak hanya punya gagasan cemerlang, tapi juga selalu menjaga hubungan baik. Demikian juga dengan hubungan kekeluargaan mereka yang sangat erat.

“Walaupun berbeda pendapat mereka tetap berkawan, mau Islam, mau nasionalis mereka tetap akrab," ujarnya.

Dia menilai kalau kompetisi diwarnai oleh pencitraan maka pada akhirnya yang sengsara adalah rakyat. "Emosi rakyat dimainkan elite akibatnya rakyat terbelah," ujar pendiri Econit Advisory tersebut.

Rizal kemudian menggambarkan kalau Bung Karno, Bung Hatta, Sjahrir, atau Haji Agus Salim, ikut kompetisi politik hari ini maka dijamin semua tokoh itu akan kalah telak. Pasalnya, mereka tidak bisa pencitraan.

"Pada waktu itu kompetisinya ya kompetisi gagasan. Bagaimana membuat orang Indonesia merdeka. Sehabis merdeka ngapain? Ini masing-masing tokoh nyumbang ide dan pikiran,” ujarnya.

Rizal mengingatkan bahwa kalau bangsa Indonesia tenggelam hanya dengan politik kompetisi pencitraan di Pilpres 2019, maka bangsa ini akan sulit untuk kita jadi bangsa besar

''Masalahnya apakah Jokowi- JK bisa adu gagasan?  Jokowi bertopang pada pencitraan belaka dengan dukungan media mainstream dan medsos, bahasa Inggrisnya buruk, pikirannya dangkal tercermin dari wacana intelektualnya yang sangat kurang, malah amat miskin dan parah, serta bacaannya yang lemah dan defisit gagasan, kecuali  sekedar common sense yang tampak awam dan  tidak pantas menjadi keteladanan bangsa bagi negeri sebesar ini  karena Jokowi memang tidak cakap, IQ-nya pas-pasan,  dan tidak punya gagasan besar,'' demikian  kata Reinhard MSc, peneliti the New Indonesia Foundation..(ff)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...