21 May 2019

Rizal Ramli Minta Paslon Presiden Tawarkan 'Menu' Lebih Sedap ke Rakyat

KONFRONTASI- Ekonom senior Rizal Ramli memberikan saran kepada para calon presiden menawarkan 'menu' yang lebih baik berupa strategi yang bisa membuat nasib masyarakat lebih baik. Selain itu menurutnya Capres bisa umbar janji lewat media sosial agar ada jejak digital.

Ia mengatakan harus ada 'menu' yang lebih sedap di 'meja makan' rakyat Indonesia dalam kontestasi Pilpres 2019. Masyarakat juga tahu bagaimana startegi mencapai hidangan dalam menu yang ditawarkan.

"Ini sekedar mau pilpres-pilpresan habiskan puluhan triliun? Masyarakat jadi baik tidak? Kami minta kedua capres menawarkan 'menu' yang lebih baik di meja makan rakyat Indonesia, jangan tahu doang tempe doang, dua-duanya kedelai impor," kata Rizal di Rumah Makan Pesta Keboen Semarang, Sabtu (2/3/2019).

Menu yang dimaksud Rizal antara lain soal swasembada pangan dan kedaulatan pangan. Pakar ekonomi itu juga menyebut dirinya sudah mendorong dua capres agar menawarkan 'menu' itu.

"Kami dorong dua capres berlomba-lombatawarkan menu, misal menu swasembada dan kedaulatan pangan. Kami harap kedua Capres tawarkan strategi bagaimana itu tercapai," pungkas Rizal.

Cara Rizal Ramli mendorongnya yaitu bertanya kepada dua capres terkait isu tertentu. Namun menurut dia, yang merespon hanya Prabowo sedangkan dari pihak Joko Widodo belum ada respon terkait pertanyaan yang dilontarkan.

Salah satu pertanyaan yaitu terkait kartel pangan. Menurut Rizal, pengusaha diberi kuota impor yang jor-joran dan ada impor saat masa panen hingga harga jatuh. Kemudian setelah panen turun, impor dikurangi, kartel mendapatkan keuntungan.

"Saya tanya ke mas Prabowo, andai bulan April menang, taipan kartel impor akan datang sebar triliunan agar sistem tidak berubah, mau terima uangnya tidak? Jawabnya, mas Rizal, saya setelah jadi tentara saya jadi ketua perhimpunan petani, kalau saya terima sama saja menembak kaki sendiri," jelasnya.

Kemudian ketika bertanya kepada Jokowi, menurut Rizal dirinya belum mendapatkan jawaban hingga hari ini. Ia juga menyatakan saat ini memanggil Jokowi dengan sebutan Pak Widodo, bukan lagi mas Jokowi karena menurutnya banyak data Jokowi yang keliru.

"Sampai hari ini tidak ada jawabannya, berarti pakai strategi impor," pungkasnya.

Hal lain yang sudah ditanyakan yaitu soal UU ITE yang menurut Rizal menggerus demokrasi sehingga jika terpilih akankah ada revisi. Lagi-lagi hanya Prabowo yang menjawab sedangkan Jokowi belum memberikan jawaban.

"Pak Widodo dan timnya, ada niat mengubah tidak. Sampai hari ini tidak ada jawabannya. Apakah dengan tidak dijawab ada niat tidak mengubah UU ITE, ya kita sayangkan," ujarnya.

Jawaban-jawaban itu menurut Rizal lebih baik dipaparkan di media sosial agar bisa dilihat banyak orang. Ia juga menyarankan para Capres melontarkan janji lewat media soial agar ada jejak digital dan bisa ditagih rakyat.

"Saya lebih senang tokoh politik berjanji di social media, yang lihat banyak, ada jejak digitalnya, kalau kontrak politik kan hanya yang tanda tangan dan yang lihat yang tahu. Maka kita dorong janji di Medsos, masyarakat bisa tagih," jelas Rizal. (dtk/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...