5 December 2019

Rizal Ramli Kecewa dan Sesalkan: Ahokers (Buzzer) Insinuatif, Kasar dan Kotor

KONFRONTASI- Perilaku pendengung media sosial alias buzzer pendukung mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok membuat tokoh nasional DR Rizal Ramli kecewa, menyesalkan dan  geram.Sebab, buzzer yang dikenal dengan istilah ahokers tersebut sebatas berkata kasar dan keji, tapi tidak ada satupun yang membantah argumennya mengenai Ahok.

“Ahokers serbu RR (Rizal Ramli) dengan kata-kata kotor, kasar, insinuatif, rasis, pecatan, ngiri dan lain-lain,” kata Rizal Ramli di akun Twitter pribadinya, Selasa (19/11).

Image result for rizal ramli dan yongki pdip

Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan bahwa tidak ada ahoker yang mampu menyanggah argumennya tentang Ahok yang bakal diusung sebagai pimpinan BUMN. Rizal Ramli sempat menyebut bahwa Ahok merupakan orang yang tidak terbiasa dengan tata pemerintahan yang baik.

Hal itu lantaran Ahok masih terindikasi terlibat dalam sejumlah kasus keuangan saat menjabat sebagai gubernur. Mulai dari kasus pembelian lahan RS Sumber Waras, lahan di Cengkareng, hingga bus Transjakarta dari Tiongkok.

Tidak hanya soal lemah dalam tata pemerintahan yang baik, Ahok juga disebut RR memiliki track record korporasi payah dan sebatas menampilkan drama media seolah hebat.

Sikap ahokers yang tidak membantah argumen semakin mempertegas tesis yang pernah diucap RR bahwa ahokers hanya bertugas membunuh karakter si pembawa pesan.

“Ahokers terbiasa “kill the messenger” but ignore the real issue. Memang payah,” tegasnya.

Mantan Menko Maritim itu pun pada satu kesimpulan bahwa ahokers tidak lebih dari buzzer bayaran lain yang merusak iklim demokrasi.

“Ahokers dengan etika politik asal hajar, asal bunuh character orang yang berbeda pendapat, pada dasarnya perusak demokrasi,” kata RR menyimpulkan.

Menurutnya, tindakan ahokers itu semakin kurang ajar lantaran mendapat jaminan perlindungan untuk bertindak. Dia pun meminta Presiden Joko Widodo untuk segera menyudahi petualangan para buzzer bayaran dan semacamnya.


“Semakin kurang ajar karena banyak paid-buzzers, didukung media mainstream, dilindungi hukum. Cc: Jokowi, it is just too much,” pungkasnya (berbagai sumber)
a
Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...