26 May 2019

Pembunuhan Masal Selandia Baru, Kekejaman dan Kelicikan Global

Oleh: El Aulia Syah 

 

 

Kenapa video kekejaman Teroris Selandia Baru lebih baik tidak disebarkan?

Tentu jawaban atas pertanyaan itu tak begitu sulit dijawab. Alasan paling ilmiah adalah karena video kekerasan akan menimbulkan trauma publik. Eksesnya tentu bisa sampai yang paling extreme, misalnya menimbulkan kebencian dari pihak yang bersimpati dengan korban, lalu berkembang menjadi dendam kesumat. Karena publikasinya melalui media daring, tentu saja tak mengenal batas wilayah. Seluruh penjuru dunia bisa tahu dalam waktu yang singkat dan kena imbasnya.

Namun ada pertanyaan yang cukup sulit dijawab dengan logika. Kenapa ketika ada imbauan larangan bahkan khusus di Indonesia ada warning (kena UU ITE) agar tidak menyebarkan video tragedi kemanusiaan di Selandia Baru itu, justru video tersebut semakin beredar? Padahal Tweeter dan FB sendiri telah memblokir akun si pelaku yang menyiarkan langsung aksi biadabnya. Why?

Pada tahun 2011, Selandia Baru menempati peringkat ke-13 dunia dalam hal kebebasan pers versi Freedom House, dengan media terbebas kedua di Asia-Pacific setelah Palau. Anehya, otoritas di sana melarang memuat detil, misalnya soal para pelaku yang aktif dalam diskusi daring dan mencantumkan sebuah manifesto setebal 74 halaman yang menyatakan bahwa ia termotivasi oleh "genosida kulit putih", sebuah ucapan kelompok penegak supremasi kulit putih yang biasa digunakan untuk menggambarkan pertumbuhan kelompok minoritas dan imigran. Soal itu dilarang dipublish.

Dilarang disebarkan, tapi sekaligus disebutkan "kisi-kisinya". Setengah-setengah dan membuat penasaran bukan?

Lalu apa maksud semua ini? jangan-jangan  justru bukan larangan, malah anjuran. 

Sangat tidak masuk akal ketika FB dan Tweeter yang memblok akun pelaku yang menyiarkan langsung aksinya, padahal akun itu konon belum lama dibuat dengan folower tak sampai 1000, tapi video tetap menyebar, mendunia, sampai ke WA Group. Lalu siapa yang menyebarkan? Mungkin  "Pak dhe FB" atau "Om Tweet" dengan alasan humanisnya yang memukau memang menutup, tapi gimana dengan "Tante WA", "Mbah Google", "Eyang microsoft"?

Jangan-jangan mereka itu memang sedang memperlakukan user sebagai "Anak-Anak". Tahu kan maksudnya? anak anak kalau banyak dilarang malah semakin penasaran dan mencoba. Ya user dunia maya utamanaya user media sosial (Medsos) bagi mereka adalah anak anaknya. 

Hootsuite merilis laporan digital dalam skala global, dimana Indonesia masuk dalam 5 besar negara pengguna Medsos terbesar di dunia.Jumlah pengguna Facebook di Indonesia peringkat ketiga setelah India dan Amerika Serikat.

Mungkin bisa dibilang, Indonesia adalah salah satu anak dari penguasa Medsos yang mendorong penguasa global. Tentu disayang, karenanya kadang banyak dilarang untuk ini dan itu. Tapi dasar anak anak pasti ada saja sifat bandel.

Tapi kadang juga, karena sangking sayangnya kepada anak, orang tua tak ingin melepasnya, selalu mengatur dan mengintervensi, agar nurut dan tak berani melawan.

Begitukah Indonesia diperlakukan oleh penguasa global?

Jangan jangan mereka memang begitu, sangat paham Indonesia masyarakatnya "gampang dipecah belah" dan itu sudah terbukti oleh Belanda yg bisa menjajah selama 3 abad lebih cukup dengan politik adu domba. Gampang karena gampang dipancing untuk bertikai dengan sesama bangsa sendiri dengan isu Agama terutama.

Jangan jangan larangan yang sebenarnya jusru mungkin anjuran agar tidak menyebar video aksi biadab itu, juga biar memancing emosi masyarakat kita agar "balas dendam" dengan melakukan aksi teror juga dengan alasan "AGAMA".

Wah kalau benar begitu, licik benar skenario global untuk melemahkan bangsa kita?

So, benar-benarlah dewasa dan Stop turut menyebar provokasi agen "global" agen ideologi politik trans nasional yang memecah Kebhinnekaan kita.

_Yogyakarta,  16/03/2019_ 

El Aulia Syah adalah ketua Forum Muda Lintas Iman Yogyakarta/FOR MULIYO

(jft/TeropongSenayan)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...