25 November 2017

Pasca Temu Ahok, malah Adhyaksa Dault Dituding Miring, Dicaci-maki, Namun tetap Legowo

KONFRONTASI- Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Prajamuda Karana (Pramuka) Adhyaksa Dault menyampaikan bahwa dirinya tidak akan membalas cara-cara tidak sehat meski dirinya telah dicaci-maki, di-bully habis-habisan dan dikata-katain sebagai orang yang rasis dan menfaatkan isu Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA) dalam perhelatan menuju Pemilihan Gubernur Provinsi DKI Jakarta mendatang.
 
Padahal, menurut Mantan Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora) ini, percakapan empat mata antara dirinya dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok hanya obrolan canda tentang Jakarta.
 
"Saya di-bully habis-habisan, dikatain Talibanlah, dikata-katain rasis segala. Sekalian aja saya dituduh ISIS kalau begitu. Tapi yang pasti, percakapan saya dengan Pak Gubernur (Ahok) waktu itu di ruangannya hanya berdua, dan mengobrol santai, ya namanya mengobrol apa aja, saaat mengobrol soal Pilkada Jakarta mendatang, saya bilang hitung-hitungan suara seperti apa? Masyarakat di Jakarta, kalau dilihat dari strategi jumlah penduduk berdasarkan agama ya mayoritas muslim juga, masa Pak Ahok mesti pindah agama jadi Muslim untuk dapatkan suara dari penduduk beragama Muslim? Kira-kira seperti itu yang saya sampaikan. Eh, tak tahunya, di luaran malah saya di-bully, dikata-katain rasis dan SARA,” ujar Adhyaksa dalam keterangannya, Jumat (20/11).
 
Meski mendapat bullying seperti itu, Adhyaksa menyampaikan, dia tidak pernah terpikirkan untuk dianggap rasis dan memanfaatkan isu SARA. Karena itu, dia pun tidak akan membuat kampanye-kampanye atau percakapan yang akan membalas bullying seperti itu.
 
"Masyarakat Jakarta sangat rasional kok. Sudah pintar, makanya tidak mudah merebut hati masyarakat Jakarta. Silakan dicek dan ditanyakan sendiri, sepanjang hidup saya dan mengabdi di Negara ini, apakah saya seorang rasis atau Taliban? Masih banyak teman-teman yang hidup yang bisa jadi saksi yang bisa menjelaskan siapa saya. Saya tidak rasis. Nah, kalau ada yang masih ngata-ngatain saya rasis, ya paling saya bilang, ahk anda tidak tahu saya, gak apa-apalah,” paparnya.
 
Bahkan, lanjut dia, dirinya sendiri sangat menghormati Ahok. Selain bekerja dengan baik untuk Jakarta, Ahok juga memiliki kekuatan sebagai seorang pemimpin yang bersih. "Saya menghormati Pak Ahok, saya salut dengan kerja kerasnya, itu patut diacungi jempol. Tentu, kalau saya maju, saya akan meneruskan pekerjaan-pekerjaan yang bagus yang telah dilakukan Pak Ahok, seperti e-budgetting, itu basgus dan menangkal terjadinya korupsi. Tentu, Pak Ahok sudah bagus dan baik memimpin Jakarta, saya kalau maju harus lebih bagus dan lebih baik,” papar dia.
 
Terkait rencana pencalonan dirinya untuk maju dalam Pilkada DKI Jakarta, Adhyaksa menyampaikan, sampai saat ini dirinya masih berproses dan menunggu perkembangan dan dukungan. Sebab, Adhyaksa belum mendeklarasikan dirinya untuk maju sebagai Calon Gubernur DKI Jakarta.
 
"Ibarat taktik perang Sun Tzu, mengenal dulu siapa kawan, siapa lawan dan bagaimana perkembangan. Buat apa maju kalau tidak yakin. Tetapi dengan melihat animo dukungan sampai saat ini, saya juga kaget, ternyata banyak yang mendukung saya untuk maju sebagai Calon Gubernur DKI, sejumlah tokoh menelepon saya memberikan dukungan untuk maju, teman-teman lintas iman ini juga meminta saya untuk maju, sebab mereka tahu siapa saya sebenarnya. Kami berteman sejak puluhan tahun, dukungan masyarakat juga sangat antusias, ini yang menjadi pemikiran saya kini. Tetapi saya masih tunggu waktu, apakah deklarasi untuk maju atau belum,” ujar dia.
 
Dengan melihat animo dukungan, lanjut dia, rasa-rasanya sudah tak dapat dibendung, bahwa dia pun akan maju untuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta Mendatang. "Ibarat lagu-nya Evie Tamala, terlanjur basah. Ya kita lihat perkembangannya,” ucap Mantan Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) itu. [sam]

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...