21 September 2019

Papua, Islam dan Upaya Membasmi Masalah Rasisme

Oleh Imam Shamsi AliPutra Indonesia ini merupakan Imam yang dihormati di AS. Dinobatkan sebagai salah 1 tokoh agama berpengaruh di New York.

NEW YORK- Saat ini dunia mengalami banyak penyakit sosial. Egoisme, keserakahan, kebencian, perpecahan, kemiskinan dan pemiskinan, hingga kepada terorisme dan peperangan. Salah satu penyakit komunal itu, bahkan tidak mustahil merupakan penyakit massal yang masif dan kronis: rasisme. 

Rasisme sesungguhnya adalah penyakit historis. Sejak awal penciptaan manusia, penyakit ini telah dengan sendirinya hadir dalam kehidupan komunal (masyarakat). 

Alquran mengisahkan bahwa sejak awal penciptaan manusia tendensi rasisme itu sudah hadir dalam kehidupan masyarakat. Adanya kecenderungan menilai pihak lain berdasar fisikal telah ada. 

Kisah perintah Allah kepada Iblis untuk sujud (sebagai penghormatan) kepada Adam direspons dengan respons rasis oleh Iblis: "Bagaimana mungkin aku bersujud kepada seseorang yang Engkau ciptakan dari tanah? Sedangkan aku Engkau ciptakan dari api." 

Membandingkan ciptaan fisik, api, dan tanah liat. Itulah sesungguhnya rasisme. Merasa lebih, merasa hebat karena fisik, baik itu karena asal penciptaan, bentuk atau warna, itulah rasisme. 

Sebelum diutusnya Rasulullah SAW, di semenanjung Arabia sendiri praktik rasisme sudah menjadi sebuah kultur yang tidak terpisahkan dari kehidupan komunal. 

Para pembesar atau kaya begitu bangga merendahkan mereka yang berbeda dari diri mereka. Bilal bin Rabah mungkin satu dari contoh sejarah kelam tanah Arabia saat itu.

Sejarah panjang penjajahan bangsa Barat di dunia Asia Afrika maupun Latin sebenarnya juga tidak terlepas dari tendensi rasisme itu. Walaupun diakui bahwa dorongan yang tampak dari kolonisasi itu adalah karena kepentingan kapitalisme. 

Dan Amerika yang kerap ke mana-mana mengampanyekan "equalitas" memiliki catatan buruk dalam perjalanan sejarah dengan rasisme ini. Pergerakan hak-hak sipil (civil rights movement) merupakan bukti dan catatan sejarah buruk itu. 

Sepanjang sejarah perjalanan dunia rasisme selalu menjadi catatan buruk itu. Dan kini di abad ke-21 kecenderungan itu semakin menjadi-jadi. Apalagi dunia politik dunia hampir didominasi oleh Right Wings, khususnya mereka yang berideologi 'white supremacy' (kehebatan warga kulit putih). 

 

Sebagai narasumber pada acara diskusi “Peranan agama dalam membangun relasi harmoni antar bangsa” di gedung museum WTC New York. Foto: Dok. Pribadi

Langkah-langkah Islam memerangi rasisme

Islam adalah solusi. Sesungguhnya permasalahan apa saja dan di mana saja, Islam akan hadir sebagai solusi. Termasuk di dalamnya permasalahan rasisme dunia ini. Beberapa langkah Islam dalam memerangi rasisme dapat kita lihat sebagai berikut:

Pertama, membangun konsep keluarga kemanusiaan yang universal. Artinya Islam mengajarkan bahwa secara universal manusia itu sesungguhnya satu keluarga. "Wahai manusia! Sesungguhnya Kami jadikan kamu dari seorang laki dan seorang wanita. Lalu Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya yang termulia di antara kalian adalah yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha menyadari”. 

Kedua, dalam Islam nilai (value) manusia tidak ditentukan oleh bentuk fisik dan materi seseorang. Tapi pada tingkatan ketakwaan. Dan ketakwaan hanya terdefinisikan oleh "hati" dan "amal" (karya). 

"Tiada kelebihan orang Arab di atas nonarab. Dan tiada kelebihan nonarab di atas orang arab. Tiada kelebihan orang putih di atas orang hitam. Serta tiada kelebihan orang hitam di atas orang putih. Kecuali karena ketakwaan mereka” (khutbah wada').

Ketiga, keseluruhan konsep-konsep dasar agama itu ditujukan secara sejajar untuk semua manusia. Tuhan dalam Islam itu adalah Tuhan untuk semua manusia (al-alamin atau an-naas). Muhammad SAW itu adalah rasul untuk semua manusia (al-alamin). Alquran adalah petunjuk untuk semua manusia (an-naas). 

Tidak pernah di agama ini sebuah konsep dasar ditujukan hanya untuk orang atau bangsa tertentu. Dan karenanya semua manusia sama dan punya peluang sama dalam agama ini. Tidak ada jaminan jika seorang Arab lebih mulia dari orang China dalam berislam. Islamlah yang kemudian menentukan kemuliaan di antara mereka.

Keempat, praktik-praktik ritual keagamaan semuanya mengajarkan kesetaraan dalam kemanusiaan. Salat berjamaah misalnya tidak membedakan saf antara yang putih dan yang hitam. Atau antara yang kaya dan miskin, atasan dan bawahan. 

Barangkali yang amalan ritual yang menggambarkan equalitas kemanusiaan universal sejati terjadi di saat umat ini melaksanakan ibadah ritual haji. Semua ragam manusia berkumpul di satu tempat dengan formalitas sama dan rasa yang sama. Semuanya menyatu dalam penghambaan kepada Yang Maha Tunggal, Penguasa alam semesta.

Kelima, ketauladanan hidup Rasulullah SAW mendobrak penyakit rasisme ini. Beliau sejak awal diikuti oleh manusia dengan segala ragam latar belakang. Ada orang Quraysh, Afrika, Putih (type Eropa), dan juga ada Persia. Kesemuanya berada di sekeliling Rasul tanpa pernah dibedakan berdasarkan latar belakang etnis dan ras mereka.

Kisah-kisah indah bagaimana Rasulullah mendidik sahabatnya dalam membangun kesetaraan itu tercatat dalam catatan tinta emas sejarah hidupnya. Bagaimana Bilal, seorang mantan budak, miskin, dan tak terhormat di mata masyarakat, berkulit hitam, dan pendatang (immigran dari Ethiopia). Tapi beliaulah yang mendapat kemuliaan dan kehormatan Muslim pertama naik ke atas kakbah mengumandangkan azan. 

Kesimpulannya, dalam dunia yang semakin terpolarisasi saat ini, khususnya dalam hal ras dan etnis, bahkan dijadikan batu loncatan politik oleh sebagian. Masanya Islam menampilkan diri atau tepatnya ditampilkan oleh para pengikutnya sebagai solusi dari salah satu penyakit dunia itu. 

Tendensi prilaku kekerasan semakin meningkat akhir-akhir ini banyak termotivasi oleh penyakit historis ini. Satu di antaranya adalah pembantaian komunitas Muslim di kota Christchurch NZ beberapa bulan lalu tidak lepas dari penyakit tersebut. 

Dan umat Islam diharapkan tidak sekadar marah, apalagi kecewa, dan putus asa. Justru situasi dunia ini perlu dijadikan momentum bagi umat untuk menampilkan Islam sebagai solusi. Semoga! 

Washington DC, 29 Juni 2019 

* Presiden Nusantara Foundation 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...