26 April 2017

Menanti ''Nyanyian'' Dahlan Iskan

KONFRONTASI- Dahlan Iskan dalam sorotan publik.Saat menjabat Menteri BUMN, banyak gebrakan dan terobosan yang dilakukan Dahlan dan banyak kepentingan sejumlah pihak yang terganggu.

Langkah Kejaksaan Tinggi Negeri DKI Jakarta yang menetapkan Dahlan Iskan sebagai tersangka kasus dugaan korupsi gardu listrik, boleh jadi bakal menimbulkan kegaduhan politik baru di negeri ini. Maklum, pada Pilpres 2014, mantan Direktur Utama PLN dan mantan Menteri BUMN ini adalah pendukung pasangan Jokowi-JK.

Saat Pilpres 2014, Jokowi-JK juga berharap dukungan dari Dahlan. Selain memiliki komunitas yang jumlah anggotanya mencapai jutaan orang, Dahlan adalah pemenang konvensi capres Partai Demokrat.

Dahlan sendiri mengaku terkejut ketika mendapat kabar bahwa ia telah ditetapkan sebagai tersangka oleh Kejati DKI Jakarta. Secara tidak langsung Dahlan menampik jika publik menilai ia korupsi. Menurut dia, sebagai pemilik Jawa Pos Group, kehidupannya sudah berkecukupan.

"Kini ternyata saya benar-benar jadi tersangka. Saya harus menerimanya. Hanya saya harus minta maaf kepada istri saya yang dulu melarang keras saya menerima penugasan menjadi Dirut PLN, karena hidup kami sudah lebih dari cukup," ucap Dahlan.

Kasus itu bermula saat PT PLN membangun 21 gardu induk pada unit pembangkit dan jaringan Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Dana proyek ini bersumber dari APBN 2011, 2012, dan 2013 sebesar Rp 1,063 triliun. Kontrak proyek dilaksanakan pada Desember 2011-Juni 2013. Lingkup pekerjaannya meliputi pengadaan pemasangan dan transportasi pekerjaan elektromekanikal, pengadaan pemasangan, dan transportasi pekerjaan sipil.

Ketika kontrak pembangunan gardu ditandatangani, ternyata belum ada penyelesaian urusan pembebasan tanah yang akan digunakan oleh Unit Induk Pembangunan V Gandul. Kemudian, setelah pencairan uang muka dan anggaran termin satu, ternyata pekerjaan tidak dilakukan sesuai dengan laporan alias fiktif. Misalnya pembangunan gardu induk 150 kilovolt Jatirangon 2 dan Jatiluhur senilai Rp 36.540.049.125.

Selain Dahlan, Kejati sudah menetapkan 15 orang tersangka atas kasus yang terjadi di PT Perusahaan Listrik Negara ini.

Tapi sebelum kasus gardu listrik beres, kini Dahlan sedang dibidik kasus pencetakan sawah sejuta hektar di Kalimantan Barat dengan menggunakan dana corporate social responsibility (CSR) beberapa perusahaan BUMN.

Proyek cetak sawah bernilai Rp 317 miliar itu pengerjaannya dipercayakan kepada BUMN, PT Sang Hyang Seri (SHS). PT SHS selanjutnya mengalihkan pekerjaannya kepada sejumlah BUMN lain, seperti PT Hutama Karya, PT Indra Karya, PT Brantas Abipraya, dan PT Yodya Karya.

Proyek tersebut merupakan patungan dari sejumlah BUMN, seperti Bank Negara Indonesia, Askes, Pertamina, Pelabuhan Indonesia, Hutama Karya, Bank Rakyat Indonesia, dan Perusahaan Gas Negara, melalui program CSR.

Bareskrim Polri mulai menyelidiki kasus ini setelah menerima laporan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). BPK dalam laporan pemeriksaannya menyebutkan, proyek cetak sawah di Ketapang, Kalimantan Barat, direncanakan dengan tidak benar. "Perencanaannya tidak direncanakan dengan baik, mulai dari lokasi, pelaksanaan, sampai monitor, sehingga seolah mendadak dan asal-asalan," kata anggota BPK Achsanul Qosasi kepada indonesianreview.com.

Bareskrim menemukan dugaan kuat tindak pidana korupsi dalam proyek tersebut. Meskipun begitu, Dahlan hingga kinibelum dipanggil polisi.

Dahlan selama ini dikenal sebagai seorang jurnalis, yang memulai karirnya dari bawah. Dengan ketekunan dan kerja kerasnya, kini ia menjadi pemilik mayoritas salah satu jaringan media terbesar di Indonesia.

Ia pertama kali masuk di pemerintahan saat Presiden 2004-2014 Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk dirinya sebagai Direktur Utama PLN, yang ketika itu sedang mengalami kerugian triliunan rupiah.

Untuk menyehatkan PLN, Dahlan melakukan berbagai terobosan untuk membawa perusahaan ini tidak lagi menjadi beban negara. Ia mencanangkan progam ‘Listrik Bebas Mati’ dan ‘Gerakan Sehari Sejuta Sambungan’. Sayangnya, sebelum semua progamnya terealisasi, ia keburu ditunjuk oleh SBY menjadi Menteri BUMN.

Saat menjabat Menteri BUMN, banyak gebrakan dan terobosan yang dilakukan Dahlan dan banyak kepentingan sejumlah pihak yang terganggu. Ia sempat mengirim SMS terbuka kepada orang-orang terdekatnya dan menyatakan bahwa dirinya siap bertanggungjawab dan akan membuka semua yang ia ketahui. Artinya, jika situasi terdesak, ia akan memilih tampil sebagai whistle blower, mengikuti cara jitu Nazaruddin, mantan Bendahara Umum Partai Demokrat.

Dan, publik pun berharap agar Dahlan berani ‘bernyanyi’ untuk membuka siapa sebenarnya yang bermain. (konfrontasi/http://indonesianreview.com)

Category: 

loading...

Berita Terkait



News Feed

Berita Lainnya

loading...
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:49
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:30
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:05
Rabu, 26 Apr 2017 - 19:00
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:58
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:47
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:44
Rabu, 26 Apr 2017 - 18:43