18 July 2019

Markus, Putra Papua Ini Tinggalkan Negeri Sakura Demi Membangun Kampung Halaman Tercinta

KONFRONTASI -  Keindahan dan pekerjaan yang menjanjikan tak membuat pria satu ini luluh untuk menetap di Negeri Sakura. Kesempatan mengadu nasib di Jepang dijadikan pelajaran dan modal bagi Markus Seseray (47) untuk membangun tanah kelahirannya di Papua. Perjalanan Markus dimulai pada 1996. Awalnya ia mengikuti program pertukaran pelajar Papua ke Jepang, namun karena terkandala bahasa, Markus harus rela pulang ke kampung halaman. Hal tersebut tidak membuat semangatnya padam. Ia kembali mencoba mengikuti pelatihan untuk dapat bekerja di Jepang. Usahanya membuahkan hasil. Ia berangkat ke Osaka untuk bekerja di perusahaan bidang bangunan.

Setelah menimba ilmu serta mendapatkan modal yang cukup, pada tahun 2000, Markus memutuskan untuk pulang ke tanah kelahirannya. Ia bertekad untuk berkontribusi memajukan ekonomi Papua yang dicintainya.

Salah satu alasan ia kembali ke Papua adalah pemberlakuan otonomi khusus (otsus) Papua pada tahun yang sama. Bagi Markus, hal itu kesempatan besar bagi dirinya untuk maju dan membangun daerahnya.

“Setelah 4 tahun, saya pulang ke Papua karena saya pikir tahun 2000 ada otonomi khusus Papua. Saya pikir ada peluang kembali ke sana, sudah ada modal sedikit. Saya pakai untuk berwiraswasta di Papua. Apalagi setelah otsus, putra Papua diperhatikan, diberikan kemudahan,” kata Markus.

Saat kembali, tekadnya itu dimulai dengan membeli sebidang tanah di kawasan Jayapura, Papua. Dari situ, ia membangun usaha toko yang kini berkembang kian maju.

“Saya beli tanah tahun 2000. Kemudian, sekarang toko punya sendiri,” kata pria kelahiran 13 Januari 1972 itu.

Ia menyebutkan, keputusan ini untuk merealisasikan janjinya membangun masyarakat sekitar. “Kalau berhasil di sana (Jepang), saya harus pulang buka lapangan kerja,” ujar dia.

Berbagai macam usaha

Tanah yang ia beli dari hasil bekerja di Jepang menjadi modal Markus membangun usaha. Setelah toko, ia juga mendirikan usaha olahraga biliar dan warung telekomunikasi (wartel). Saat itu, Markus membeli 16 meja biliar sekaligus. Namun, usahanya memudar, khususnya wartel. Hal itu dikarenakan sudah adanya ponsel yang memudahkan komunikasi.

Dengan berat hati, ia menutup usahanya tersebut. Tak mudah menyerah, Markus memutar otak untuk membangun usaha lainnya. Akhirnya ia membuka toko sembako dan fotokopi. Sejalannya waktu, usaha fotokopi pun tutup dan menyisahkan toko sembako yang bertahan sampai saat ini.

Padahal sebelumnya, Markus khawatir dengan adanya pusat perbelanjaan yang saat itu baru dibangun di Jayapura tepat di samping tokonya.

Akan tetapi, kekhawatirannya tak terbukti. Ia justru melihat peluang bisnis baru, yaitu jasa penitipan helm bagi para pengunjung mal.

“Sejak mal buka lima tahun lalu, saya pikir penghasilan berkurang. Malah penghasilan saya bertambah. Penitipan helm, 1 helm biayanya Rp 3.000, jadi tambahan pemasukannya lumayan,” kata dia.

Bergabung dengan SRC

Untuk memajukan usahanya, pada 2012, Markus menerima tawaran untuk bergabung dengan Sampoerna Retail Community (SRC) yang merupakan program pemberdayaan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) binaan PT HM Sampoerna Tbk. (Sampoerna).

Markus mendapat banyak pengalaman dan arahan setelah bergabung dengan SRC.

Alhasil, berbagai pembenahan dilakukan terhadap tampilan tokonya, demi kenyamanan konsumen dan pengembangan serta peningkatan omzet.

Markus mengaku, setelah bergabung dengan SRC, banyak manfaat yang telah ia rasakan. Salah satunya pendampingan untuk pembenahan. Sebagai contoh, rak kayu diganti dengan rak besi dan tatanan yang lebih apik.

Padahal, sebelumnya Markus tak tertarik bergabung dengan SRC. Namun, setelah melihat pendampingan dan keseriusan Sampoerna menjadikan pedagang kelontong sebagai mitra, ia pun mengikuti arahan dan pelatihan yang diberikan.

Pelatihan dari Sampoerna bagi toko kelontong meliputi edukasi penataan toko, inovasi usaha, strategi pemasaran, pengembangan sumber daya manusia, manajemen keuangan, dan lainnya.

“Pertama karyawan Sampoerna datang, cat-cat, saya biasa saja. Tapi kemudian, saya sadari ada perbedaan setelah ikut SRC. Toko saya jadi lebih rapi, saya jadi tahu bagaimana menyusun barang, manajemen barang, selalu menjaga kebersihan toko,” papar Markus.

Keberadaan SRC di Indonesia membawa perubahan bagi toko kelontong untuk mengembangkan usaha mereka melalui manajemen tata usaha yang lebih baik. Program pemberdayaan UKM ini merupakan bentuk investasi jangka panjang Sampoerna dalam rangka membangun dasar ekonomi kerakyatan yang inklusif.

Dalam perjalanannya bergabung dengan SRC, Markus mengaku jadi tahu seluk-beluk pengembangan usaha dan bisa melihat peluang ekspansi bisnis. Perubahan yang dilakukan juga berdampak pada kenyamanan konsumen dan peningkatan penjualan hingga berkali-kali lipat.

Usaha Markus juga berkembang. Selain toko kelontong dan penitipan helm, ia juga memiliki usaha rental mobil. Sejak bergabung dengan SRC, kehidupan Markus dan keluarga pun semakin sejahtera

Jadi motivator

Setelah 7 tahun bergabung dengan SRC, Markus beberapa kali dipercaya untuk menjadi motivator bagi anggota lainnya. SRC mengangap pengalaman Markus bisa menjadi inspirasi bagi semua orang.

Menjadi motivator, Markus pernah diajak berbagi cerita di Nabire, Papua. Di daerah itu, para pemilik toko masih mengelola tokonya dengan cara konvensional.

Dalam kesempatan itu, Markus menceritakan inovasi yang dilakukan tokonya hingga akhirnya terus berkembang hingga saat ini.

“Saya ke sana (Nabire) jadi motivator. Kalau bisa teman-teman di daerah seperti begini. Kami sendiri merasakan, dengan bergabung dengan SRC, ada perubahan pendapatan, bertambah. Perubahan itu ke arah yang lebih baik,” kata dia.

Tak melulu suka, Markus pernah merasakan dukanya dalam mengeluti usaha tersebut. Suatu ketika, Markus pernah ditipu puluhan juta karena ajakan seseorang untuk berbisnis. Hingga kini, uang tak kembali karena dibawa kabur oleh calon mitra bisnisnya.

“Jadi saya juga punya pengalaman gagal. Usaha rental mobil juga begitu. Kadang ada kejadian, mobil menabrak, kemudian ditinggal begitu saja. Atau mobil ditabrak, jadi saya yang harus bawa mobil masuk bengkel,” ujar Markus.

“Tapi saya tetap semangat. Dan jadikan ini pelajaran,” lanjut dia.

Untuk menunjang usahanya, Markus telah mempekerjakan lima orang. Ia mulai merangkul lingkungan terdekat yaitu keluarga untuk bekerja dengannya. Namun, ia menekankan, meski yang bekerja adalah masih anggota keluarga, profesionalisme tetap menjadi prinsip utama.

Baginya, prinsip profesionalisme membuat usahanya bertahan, semakin berkembang, dan dapat memberikan penghidupan bagi orang lain.

Sejak diluncurkan pada tahun 2008, kini SRC telah membina lebih dari 105.000 SRC di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk Papua.(Jft/Lpt-6)

 

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...